oleh

10 Tokoh Nasional Yang Pernah Menjadi Wartawan Hingga Mengantarkannya Mencapai Puncak Karir

Editorial Bratapos yang dirangkum dari berbagai sumber.

10 Tokoh Nasional Yang Pernah Menjadi Wartawan Hingga Mengantarkannya Mencapai Puncak Karir.

Wakil Presiden ke-3 RI, Adam Malik yang ditetapkan sebagai seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada 6 November 1998 ini, sebelum menjadi Wakil Presiden ke-3 dan Menteri Luar Negeri, adalah seorang wartawan.

Selain wartawan, ia juga tokoh pergerakan kebangsaan. Sejak muda, ia sudah aktif di pergerakan nasional memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, antara lain melalui pendirian Kantor Berita Antara.

Mr. Soemanang diangkat sebagai direktur, sedangkan Adam Malik menjabat redaktur merangkap wakil direktur. Dengan modal satu meja tulis tua, satu mesin tulis tua, dan satu mesin roneo tua, mereka menyuplai berita ke berbagai surat kabar nasional. 

Namun sebelum itu, Adam Malik sudah sering menulis antara lain di Koran Pelita Andalas dan Majalah Partindo. Tahun 1941 sebagai utusan Mr. Soemanang bersama Djohan Sjahroezah datang ke rumah Sugondo Djojopuspito, meminta agar Soegondo bersedia menjadi direktur Antara, dan Adam Malik tetap sebagai redaktur merangkap wakil Direktur.  

Karier tertingginya dicapai ketika Adam Malik berhasil memangku jabatan sebagai Wakil Presiden RI, yang diangkat Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 1978. 

Harmoko, Menteri Penerangan Era Soeharto Lulus dari SMA pada 1960-an, Harmoko bekerja sebagai wartawan dan juga kartunis di Harian Merdeka dan Majalah Merdeka. Pada 1964 ia bekerja juga sebagai wartawan di Harian Angkatan Bersenjata dan Harian API pada 1965. 

Harmoko juga sempat menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Merdiko (1965). Tugas tersebut dia emban pada saat yang bersamaan dengan kewajiban di Harian API. Ia kemudian menjabat sebagai pemimpin dan penanggung jawab Harian Mimbar Kita. Pada 1970, bersama beberapa temannya, ia menerbitkan harian Pos Kota.

Usai menggeluti profesi sebagai wartawan, Harmoko hijrah ke politik. Sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar.

Harmoko juga pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan era Orde Baru. Karier tertingginya sebagai Ketua DPR/MPR periode 1997-1999 yang mengangkat Soeharto selaku presiden untuk masa jabatannya yang ke-6. 

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Bambang pernah menjadi wartawan Harian Umum Prioritas (1985), Sekretaris Redaktur Majalah Vista (1987), Pemimpin Redaksi Majalah Info Bisnis (1991), dan Direktur PT. Suara Rakyat Membangun (2004). 

Bamsoet kemudian beralih ke dunia politik sebagai anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Tengah VII wilayah Banjarnegara, Purbalingga, dan Kebumen.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid, Meutya Viada Hafid juga tidak asing di layar kaca. Sebelum menjadi anggota Komisi I DPR dari Partai Golkar pada masa jabatan 2009-2014, Meutya adalah seorang jurnalis televisi di Metro TV, yang membawakan berita serta presenter di beberapa acara.

Pengalaman menegangkan itu kemudian dituliskan dalam buku 168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak, yang diluncurkan pada 28 September 2007. Sebelum ke Irak, Meutya juga pernah meliput tragedi tsunami di Aceh.

Pada 11 Oktober 2007, Meutya Hafid pernah terpilih sebagai pemenang Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O’Neill, dari pemerintah Australia. Penghargaan ini dianugerahkan setiap tahun untuk mengenang mantan Atase Pers Kedutaan Australia Elizabeth O’Neill, yang gugur dalam tugasnya pada 7 Maret 2007 dalam kecelakaan pesawat di Yogyakarta.

Meutya yang sempat kuliah di University of New South Wales sebelum mengabdikan diri sebagai jurnalis Metro TV, juga menjadi satu di antara lima Tokoh Pers Inspiratif Indonesia versi Mizan, karena dianggap sebagai tokoh besar di balik perkembangan pers nasional.

Ahmad Muzani (Ketua Fraksi Partai Gerindra DPR RI), Ahmad Muzani lahir di Tegal, 15 Juli 1968, adalah seorang pengusaha dan juga politisi dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). 

Sejak remaja ia sudah menekuni berbagai organisasi di kota kelahirannya. Berbekal pendidikan jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta, Ahmad Muzani terjun menjadi wartawan majalah Amanah dan penyiar radio Ramako. Berkat ketekunannya, ia terpilih menjadi direktur di radio ini untuk kawasan Serang, Banten.

Pada periode 2014-2019, Ahmad Muzani terpilih menjadi anggota DPR RI dan ditunjuk menjadi Ketua Fraksi Partai Gerindra di DPR RI.

Beni K Harman, Mantan Ketua Komisi III. Staf Non Litigasi pada kantor YLBHI Jakarta, Pendiri Pusat Studi Lingkungan Indonesia (1989-1992)

Kepala Divisi Kajian Strategi YLBHI Jakarta (1992-1995)

Wartawan bidang hukum dan politik Media Indonesia (1989-1996)

Kepala Litbang Harian Media Indonesia (1996-1998)

Pendiri dan partner pada kantor k=hukum Nusantara, Harman dan Partner (NHP )
Anggota Komisi III DPR RI.

Akbar Faisal, Pria yang lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, memulai kariernya sebagai wartawan di sebuah koran daerah saat masih di bangku kuliah Fakultas Bahasa dan Sastra IKIP Ujung Pandang, Makassar. 

Kariernya di dunia jurnalis cukup baik, hingga ia bekerja di koran nasional ternama di Indonesia. Ia kemudian menduduki berbagai posisi strategis di berbagai instansi seperti pemimpin redaksi di sebuah majalah.

Politikus yang gemar menulis cerpen, puisi, dan novel ini kemudian menerima pinangan Partai Hanura, hingga mengantarkan dirinya menjadi wakil rakyat dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan II. Pada tahun pertama ia dipercaya duduk di Komisi V DPR.

Namun, Akbar memutuskan hengkang dari Partai Hanura. Kini, Akbar Faisal menjadi anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Nasdem. 

Dahlan Iskan Pada tahun 1972 Dahlan Iskan memulai kariernya dengan menjadi Reporter di Mimbar Masyarakat, surat harian kabar kecil di Samarinda, Kalimantan Timur. Ia menekuninya sampai tahun 1975.  Satu tahun kemudian, pada tahun 1976 ia beralih profesi menjadi seorang wartawan majalah Tempo.

Seiring waktu karirnya berkembang dengan baik, sehingga pada tahun 1982, Dahlan Iskan yang menjabat Kepala Biro Tempo di Surabaya dipercaya memimpin sebagai pimpinan surat kabar Jawa pos hingga sekarang.

Ahmad Saleh (Ayah Jenderal Tito Karnavian) Ia menggeluti dunia kewartawanan sejak awal 1960-an di RRI. Selanjutnya, ia membidani pendirian koran Ekonomi Pembangunan, Pelita, dan koran Angkatan Bersenjata edisi Sriwijaya. Palembang. Ia juga anggota PWI seumur hidup.

Jakob Oetama adalah seorang pria kelahiran Magelang Jawa tengah yang merupakan salah satu pendiri surat kabar Kompas. Putra dari seorang pensiunan guru ini tumbuh besar di daerah Yogyakarta. Begitu lulus dari SMA Seminari di Yogyakarta, Jakob sempat berprofesi sebagai guru SMP di dua sekolah yaitu SMP Mardiyuwana (Cipanas, Jawa Barat) dan SMP Van Lith di Jakarta. Pada tahun 1955, sebelum ia mengambil pendidikan Ilmu Sejarah di sekolah Guru, Jakarta, Jakob sempat bekerja sebagai redaktur Mingguan Penabur Jakarta. Ia melanjutkan studinya dalam bidang jurnalisme dengan mengambil pendidikan di Perguruan Publisistik Jakarta dan Jurusan Publisistik di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Pada tahun 1963, bersama P.K. Ojong terilhami oleh majalah Reader’s Digest asal Amerika dan mendirikan majalah yang bernama Intisari yang bertemakan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi. Majalah yang terbit setiap satu bulan sekali itu pertama kali secara resmi diterbitkan pada bulan Agustus 1963. Dua tahun setelah majalah intisari terbit, tepatnya pada tanggal 28 Juni 1965, Jakob dengan Ojong kembali bekerja sama dalam mendirikan sebuah surat kabar harian yang diberi nama Kompas.

Penulis : Ard

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REKOMENDASI UNTUK ANDA