by

Polemik Bantuan Sosial Pangan Masyarakat Miskin di Lamongan

Lamongan, bratapos.com – Program bantuan pemerintah bagi warga miskin dari tahun ke tahun selalu selalu ada polemik baik internal maupun eksternal, walaupun terus dilakukan perbaikan-perbaikan. Masalah krusial yang selalu jadi bahan evaluasi adalah tentang kualitas, teknis penyaluran, personal yang menyalurkan hingga seleksi keluarga penerima manfaat (KPM).

Ketika wartawan bratapos.com mencoba konfirmasi ke Kepala Dinas Sosial kabupaten Lamongan, Mohammad Kamil, dirinya tidak bisa berbuat apa apa saat bratapos.com menanyakan banyaknya E-Warung yang diduga tidak memenuhi spesifikasi sesuai dengan juknis yaitu E-Warung yang tidak punya kios/toko kelontong, dan kebanyakan adalah dari unsur ASN dan perangkat desa setempat, Mohammad Kamil hanya bisa menjawab, bahwa yang berhak menentukan adalah BNI 46 yang dipercaya oleh kementerian sebagai pengelola keuangan bantuan sosial pangan, sebagaimana banyak kita temui di wilayah kecamatan Pucuk, Mantup dan juga di kecamatan Sukorame (28/03).

Sangat miris melihat E-Warung yang patut diduga hanya akal-akalan dari pihak BNI 46 atau hanya berdasarkan faktor like/dislike (suka/tidak suka) dalam penunjukkannya. Sedangkan untuk masalah Suplaiyer yang ditunjuk seakan-akan dinas sosial menutup mata dan beralibi bahwa semua penunjukannya adalah urusan BULOG, dan untuk penentuan KPM adalah menjadi urusan pemerintah pusat ujar Mohammad Kamil.

Adanya kecemburuan antar Suplaiyer yang akhir-akhir ini ingin bersaing dalam menyediakan bahan pokok bantuan pangan warga miskin cukup mendapat beragam penafsiran dari masyarakat utamanya KPM. Menurut pengakuan salah seorang warga di dusun Badu Desa Wanar kecamatan Pucuk yang enggan disebut namanya, bahwasanya untuk penyaluran 28 Februari 2020, telah menerima 10 kg beras, 15 butir telur, 1/4 kg kacang tanah dan 3 biji buah pier, dan tentunya ini berbeda dengan KPM ditempat lain dengan Suplaiyer yang berbeda pula. Hal inilah yang menjadikan polemik di kalangan masyarakat kecil.

Persaingan antar suplaiyer dalam pemenuhan bantuan pangan sebenarnya sangat memanjakan KPM, karena dengan persaingan yang sehat, para suplaiyer akan berlomba-lomba memberikan yang terbaik. Ketika wartawan bratapos.com menemui beberapa KPM, mereka sangat berharap para suplaiyer memperhatikan kualitas bahan bantuan untuk warga miskin, dan tidak hanya berlomba-lomba dalam mengambil keuntungan pribadi.

Reporter : Slamet Mulyono

Publisher : Goen

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

REKOMENDASI UNTUK ANDA