oleh

MBAH LANGGAR

MESKI Sosok renta itu sudah terbilang berumur udzur, namun semangatnya tak pernah kendur. Pemikirannya tidak luntur. Panggilan jiwanya terpaku dalam pengabdian. Tempat nongkrongnya di langgar. Ini terbawa semenjak remaja. Bersama teman sebayanya kala itu prasasat nggak pernah sobo omah. Tidurnya di langgar. Hingga se-sepuh ini ia masih betah di langgar. Bahkan tempat bermukimnyapun di langgar.

Oleh karena itu penduduk setempat menjuluki dengan sapaan akrabnya ‘Mbah Langgar’. Hingga kini sulit mencari pengganti profil waker (penjaga) yang full timer (tetap standby di tempat). Ya, surau yang ada di pojok kampung itu, Pak tua itulah yang mengopeni-dan ngeramut-nya.

Tidak bosan-bosannya Mbah Langgar menyuntikkan motivasi/semangat kepada para pemuda/remaja yang masih ada interest (ketertarikan) kepada musholla. Momen penyampaiannyapun tidak pakai surat undangan resmi-resmian. Nggak ada panggilan woro-woro lewat WA maupun SMS. Wong Mbah Langgar gak gableg dan gak bisa nutul HP, kok… ! Cukup lewat jagongan secara spontan. Atau ketika ada kegiatan kerja bakti, bersih-bersih atau sedang ber-apalah. Pokoknya kapan saja Mbah Langgar ketemu dengan seseorang, pasti menyampaikan ide-ide cemerlang yang sangat langka dimiliki oleh orang setua dia.

Maklum lelaki yang sudah ditinggal sanak keluarganya ini, dahulu kala sering mengembara dari ponpes satu ke ponpes lainnya. Tekad bulatnya hatu satu : ngudi kaweruh.  Mencari ilmu. Kemudian ilmu yang ia sadap dari pesantren sana, pesantren sini, kiyai sana, kiyai sini, diimbaskannya kepada siapa saja yang menjadi lawan bicaranya.

“Saya ini sudah mengalami hidup di 3 jaman. Inggris. Jepang. Belanda. Ketiga-tiganya pernah menjajah dan menguasai Indonesia. Wong hari gini kok masih eyel-eyelan  soal qunut, teraweh 8, teraweh 20, perbedaan masjid, musholla dan sebagainya….” ujar Mbah Langgar suatu saat di waktu longgar.

“Terus sebaiknya pripun, Mbah…?” celetuk salah satu jamaah yang ikut ma’iyah.

Serta merta Mbah Langgar memberi wejangan yang mantap : “Yang penting kita yakin. Iman. Percaya. Madep manteb kepada Alloh Swt…!”. Tak berselang lama ia menyontohkan : “Hakekat langgar, masjid, musholla, surau itu sama. Sama-sama tempat sholat. Sama-sama untuk sujud. Sama-sama disunnatkan sholat 2 rokaat ketika masuk sebelum duduk. Jangan lantas berpendapat bahwa di musholla, di langgar, di surau nggak  pakai tahiyatul masjid. Dan ketahuilah di musholla, di langgar, di surau itu boleh untuk jum’atan. Berapapun jumlah jamaahnya. Nggak ada batasan minimal 40 orang. Yang namanya jamaah, ya minimal 2 orang. Satu menjadi imam, satu menjadi makmum…!” tutur Mbah Langgar di acara jagongan spontan ba’da isyak itu.

Para remaja dan bapak-bapak yang mengikuti jagongan santai malam itu mafhum dibuatnya. Indikasinya : para jamaah pada menganggukkan kepala. Setidak-tidaknya terdapat formulasi keilmuan yang masuk direlung hati, otak dan benak mereka.

Warga setempat sendiri memberi kepercayaan kepada Mbah Langgar akan senioritasnya. Baik ditinjau dari segi umur, ilmu dan pengalamannya. Musholla mungil itu seolah menjadi ikon tersendiri. Bisa dimaknai sebagai warna lain dari kampung yang misuwur  dengan sebutan masyarakat abangan itu.

Karena kemantapan hati rakyat setempat, sehingga kalau ada apa-apa tumpuannya kepada Mbah Langgar. Orang punya hajat, ketika kenduren dapat dipastikan bahwa  yang baca doa adalah Mbah Langgar. Orang yang mau menyembelih ayam, kambing, sapi  tukang sembelihnya adalah Mbah Langgar. Bahkan tidak jarang Mbah Langgar dimintai nama jabang bayi yang baru lahir oleh warga sekitarnya.

Sementara di sisi lain, dunia mistis yang diterawang dengan katahati dan matahati tak luput dari genggaman Mbah Langgar. Kakek yang masih enerjik itu juga memiliki kadegdayan.  Ilmu kanoragan masih dikuasai. Kemampuan indigonya dengan melihat lelembut sangat yahut. Mbah Langgar sering dimintai tolong untuk penyembuhan orang yang ketempelan. Anak balita yang sawanen. Orang yang mengidap sakit, tapi sakitnya di luar nalar : tidak kunjung sembuh. Coba dibawa ke Mbah Langgar. Insya-alloh sak naliko langsung waras. Adem srep….!  Demikian ini karena orang-orang sugesti terhadap suwuk-nya Mbah Langgar.

Dalam suatu jagongan ba’da subuh, Mbah Langgar memberi wejangan – terkait dengan banyaknya pasien yang minta tolong untuk penyembuhan suatu penyakit.

“Saya senantiasa bilang kepada pasien dan keluarganya :  Pokoknya jangan menganggap saya yang menyembuhkan lho, ya…?!. Yang maringi  sembuh, sehat, bregas-waras adalah Alloh Subhanahu Wata’ala…” kalimat ini selalu diinfokan kepada para pasiennya yang minta tolong. Tambahnya pula : “Jika Alloh mentaqdirkan sembuh, ya sembuh. Jika Alloh masih mentaqdirkan sakit, ya sakit…!”

Usai memberi kata pengantar kepada pasien dan keluarganya, lantas Mbah Langgar mengajak mereka untuk sama-sama berdoa. Memohon kepada Gusti Alloh : “Monggo sama-sama berdoa dalam hati. Minta sembuh kepada Gusti Alloh !”. Serta merta Mbah Langgar memegang tubuh si pasien dan mengusapnya dengan lembut.

“Jadi lantaran dengan hati yang ikhlas itulah kita diparingi  kesuksesan dan barokah dari Alloh Swt”, tutur Mbah Langgar di teras musholla mungil itu.

Tapi untuk saat ini. Di zaman yang secanggih ini, mencari hati yang tulus ikhlas sangat sulit agaknya. Betapa tidak !. Seolah hampir seluruh aktifitas yang dijalani orang sekarang maunya ditukar dengan uang. Tapi tidak bagi Mbah Langgar. Simak saja penuturannya : “Mestinya modal kita dalam ber-apasaja harus ikhlas. Nanti Alloh sendiri yang membalasnya. Rejeki itu tidak harus uang. Banyak teman itu banyak rejeki. Sampean jagongan di sini ketemu dengan saya, Mbah Langgar. Dapat ilmu. Itu rejeki. Nah, saya memberi nasehat lewat obrolan ini, akhirnya saya juga dapat rejeki. Buktinya banyak warga yang ngirimi camilan ke sini. Ini nih, buktinya… Ayo dinikmati bersama. Tadi pagi sebelum saya adzan subuh sudah ada orang yang ngirimi camilan lengkap dengan wedang kopinya…..” ungkap  Mbah Langgar panjang-lebar, sembari menyodorkan suatu masakan kuliner hasil kiriman warga setempat.

Dalam sekejap para jamaah subuh yang ikut nimbrung di suraunya   pojok kampung itu menikmatinya dengan lahap. Enak. Mantap. Nikmat. Pagi-pagi nyruput  kopi hangat. Memang begitulah adatnya. Ada saja warga yang kirim camilan ke padepokan Mbah Langgar. Ini lantaran jasa dan pengabdiannya kepada masyarakat setempat. Mbah Langgar yang rajin bangun malam untuk sholat tahajud itu sebagai penasehat spiritual memang sangat viral.

(Cerpen Karya Kiriman : AHMAD FANANI MOSAH, Guru SMP Negeri 3 Babat – Lamongan)

editing/publish ; Wit

REKOMENDASI UNTUK ANDA