oleh

Kesenian Khas Ludruk Jawa Timur Menghibur Rakyat,

-Terbaru-1.105 views

Mengangkat Cerita Horor Full Humor : Hantu Begadang Sanggar Hirra

Nama Lengkapnya group ludruk itu adalah Sanggar Putra Taman Hirra. Biasanya bermarkas di kompleks THR (Taman Hiburan Rakyat) Surabaya. Namun karena lokasi yang berada di Jl. Kusuma Bangsa  itu direnovasi, sehingga untuk sementara pemkot memfasilitasinya di gedung balai pemuda Surabaya. Sebelumnya juga pernah diberi tempat oleh pemkot di rumah susun Keputih. Tapi kurang representatip untuk urusan pementasan.

Kesenian khas Jawa Timur itu kini boleh dibilang kembang-kempis. Melihat nasib group yang penuh petuah yang lakon-lakonnya sering diambil dari kisah rakyat itu, sulit mencari bapak asuh. Hal yang demikian ini menggugah nurani sosok Pak Rogo.

Dalam penuturannya kepada jurnalis koran ini Pak Rogo berkata : “Kulo niki nggih sutradara, pengasuh, pembina, pelatih sekaligus pendiri sejak awal sanggar niki ”. Sejenak kemudian sosok sepuh yang sudah beranak dan bercucu itu menambahkan : “Seluruh siswa saya yang berlatih di sanggar ini gratis…” tambahnya sambil menyedot cerutunya dalam-dalam. “Termasuk pementasan malam ini di gedung balai pemuda, penonton tidak kami pungut biaya…” lanjut sutradara yang sudah malang melintang di bidang seni panggung itu.

Malam itu Jumat 26 Juli 2019 Sanggar Putra Taman Hirra mementaskan ludruk dengan lakon HANTU BEGADANG. Lagi-lagi Pak Rogo yang asli kelahiran dari kota Ponorogo itu melanjutkan obrolannya : “Seluruh lakon-lakon yang kami tampilkan merupakan imajinasi saya sendiri. Tanpa naskah. Mereka para pemain sudah terlatih berimprovisasi. Sebab mereka sering ketemu dan ketika latihan saling melemparkan umpan-umpan dialognya…” lanjut Pak Rogo.

F

Sebelum cerita inti dimainkan, panggung diisi trio cowok yang tergabung dalam “The Joker Guminto Songo”. Sebuah kelompok pengamen musik jalanan yang dipandegani Bramanto Taji. Sajian pra acara ini sifatnya sebagai partai tambahan. “Sekadar untuk cari perhatian dan mengumpulkan para pengunjung saja” ungkap Lupus MC dari Radio Susana yang malam itu didapuk sebagai hantu. “Habis jadi MC panggung, nanti saya langsung macak jadi hantu. Sudahlah pokoknya serem…serem…!!” ungkap Lupus di ruang rias.

Dandanan hantu malam itu betul-betul sangar dan menakutkan. Bikin merinding para penonton yang memadati gedung balai pemuda. Sehingga banyak pengunjung yang tidak kebagian kursi. Namun karena ingin menghibur diri, mereka tidak keberatan berleseh-lesehan di lantai. Tampilan lakon yang yang disuguhkan bersifat horror full humor. Tingkah polah pemain bagaikan sudah betul-betul professional. Termasuk gaya lawakannya di segmen dagelan. Betul-betul pengocok perut andal. Belum lagi di babak inti : di saat-saat keluarnya hantu. Campur merinding dan lucu menjadi satu.

Kisah sederhananya, ada seorang pembantu rumah tangga yang dihamili juragannya. Khawatir dituntut, juragan itu lantas membunuh baturnya yang cantik jelita. Jadilah hantu gentayangan yang mengganggu orang-orang di sekitarnya. Terutama pemuda yang suka iseng menjahili cewek itu. Termasuk sang juragan.

Sayang seribu sayang tampilan all-out yang memukau pengunjung itu tidak didukung dengan mixing yang bagus. Sound system build-up rakitan negeri ginseng, Korea itu sejatinya sudah cukup baik. Namun kurangnya microphon di panggung, sehingga dialog-dialog yang dilontarkan oleh para pemain terkadang tidak bisa disadap oleh telinga penonton.

Meski demikian sang sutradara, Pak Rogo yang punya nama Sugeng Rogo Wiyono kelahiran 1958 itu selalu membrifing anak buahnya dan memberi isyarat tertentu yang mengandung sesuatu agar cerita lebih seru. Seluruh pendukung (pemain dan pengrawit) yang diajak tampil malam itu berjumlah sekitar 100 orang. Ada pemain yunior dan ada pula pemain yang sudah senior. Bravo ludruk dari Sanggar Hirra. Semoga perjuangan dalam memajukan seni-budaya tetap mekar dan tidak terhina.

Hadir turut menyaksikan tampilan ludruk malam itu, Kang Marwi Jaelani, pengurus Permadani (Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia) Kabupaten Lamongan. “Empat penari remo yang menjadi pembuka acara itu rata-rata sudah cukup bagus. Tapi ada yang lebih bagus, yaitu yang paling kecil nomor dua dari barat” kata Kang Marwi mengomentari.

Penulis : Ahmad Fanani Mosah, Pengamat Kesenian & Kebudayaan, Guru SMP Negeri 3 Babat – Lamongan,  Aktifitas MC Freelance, Penulis Lepas, Vokal Dubber

editing/publish ; Wit

REKOMENDASI UNTUK ANDA