oleh

Terobosan Berlian Asper BKPH Tanggungharjo, Demi Peningkatan Ekonomi Petani

GROBOGAN, BrataPos.com – Asper Perhutani BKPH  Tanggung Harjo Firmansyah, SE, punya terobosan baru dengan tanamam Glirisidea.

Hal itu dilakukan, merujuk inpres nomor 1 tahun 2006 dan MOU menhut dengan Mentri ESDM, tentang tanaman hutan memanfaatkan tanaman energi.

Pihak perhutani bekerja sama dengan PT. Kofpy dari Korea. Tanaman Glirisidea tersebut, tersebar di 4 BKPH. Yakni, BKPH Kedung jati, BKPH Padas, BKPH Tempuran dan BKPH Tanggung harjo.

“Tahun 2019 ini, BKPH Tanggung harjo akan melaksanakan penanaman seluas 1.322,34 Ha yang menyebar di wilayah RPH Pojok 244,76 Ha. RPH Brabo 323,62 Ha. RPH Mliwang 157,36 Ha. RPH Ringin pitu 368,20 Ha dan RPH Sugih manik 228,40 Ha,” ujar Firmansyah, sabtu 10/08/2019.

Pola tanam yang di lakukan BKPH, masih kata Firman, adalah pola Cluster 70%, sisanya 30% ditanami Glirisidea dan  Jagung. Dengan pola sistem Cluster atau program baru yang dilakukan Perum Perhutani, masyarakat desa sekitar hutan bisa untung.

Sebab, akan di berikan waktu kontrak tanam palawija selama umur tanaman Glirisidea yaitu 15 tahun. Sedangkan program yang lama masyarakat hanya di beri batas waktu kontrak tanaman selama 2 tahun. Jika kontraknya habis, masyarakat harus meninggalkan lokasi tersebut.

“Kita simulasikan dengan kontrak tanaman jangka waktu 2 tahun, dengan 4 kali panen dengan luas 1ha. Maka biaya pengeluaran dan produksi Rp.46.000.000,- harga jual jagung Rp.4.000/kg. Sehingga pendapatan dari hasil jagung Rp. 112.000.000,- selama 4 kali panen. Berapakah keuntungan bersih petani selama menggarap lahan 2 tahun dengan nilai kontrak Rp. 66.000.000,.

Meski begitu, lanjut ia, bila di banding dengan program Perum Perhutani yang memberikan waktu cukup panjang untuk memanfaatkan lahan dengan sistem Cluster 70% Glirisidea dan 30% Jagung.

Berapakah pendapatan masyarakat dari hasil jagung selama memanfaatkan lahan dengan kontrak 15 tahu. Berarti panen jagung nya 30 kali.

Ia kembali memberi contoh,1petani menggarap 0,25 ha, biaya pengeluaran dan produksi Rp. 2.875.000. Pendapatan dari jual jagung Rp 4000/kg x Rp 7000= Rp.28.000.000. Hasil bersih pendapatan masyarakat, Rp 25.125.000 x 30 panen = Rp 753.750.000.

Bila di hitung 15 tahun masa kontrak, pendapatan masyarakat dari hasil selama 30 kali panen x Rp 753.750.000, pada sistem Cluster  30%.

Program ini diyakini sebagai aspek dapat menyimpan sumber mata air. Mengembalikan kesuburan tanah. Mencegah tanah longsor dan erosi. Menghasilkan oksigen. Sebagai peneduh dan pelinding.Mengurangi pemanasan global.

Sebagai energi baru untuk pengganti bahan bakar batu bara. Tambahan pekerjaan bagi masyarakat desa sekitar hutan saat Glirisidea di panen. Masyarakat sekitar hutan dan LMDH akan mendapatkan sharing dari hasil panen Glirisidea.

Reporter : Heru
Editor/Publisher : jml

REKOMENDASI UNTUK ANDA