oleh

Menyedihkan, Enam Tahun Lamanya Siswa PAUD Mardatillah Harus Belajar Di Emperan Warga

PAMEKASAN, Bratapos.com – Puluhan Siswa-Siswi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Mardatillah, di Desa Sana Tengah, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan terpaksa harus melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di emperan warga.

Pasalnya, para siswa-siswi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Mardatillah itu, belum memiliki gedung resmi. Untuk Kegiatan Belajar Mengajar, mereka terpaksa menggunakan fasilitas seadanya. Yakni belajar di emperan rumah warga yang dijadikan sebagai sekolah.

Padahal siswa-siswi aktif menggelar kagiatan belajar mengajar sekitar kurang lebih 18 siswa-siswi di emperan rumah. Mirisnya lagi, rumah yang mendadak dijadikan sekolah tersebut merupakan milik warga yang tidak lain juga pendiri yayasan PAUD Mardatillah, Endang Purwati.

Pasalnya, pihaknya sudah berulang kali mengajukan permohonan bantuan pembangunan lembaga pendidikan kepada pemerintah. akan tetapi hasilnya mengecewakan.

“Kami mengajukan proposal bantuan sebanyak tiga kali. Pertama di tahun 2015, 2016 dan 2017. Proposal pengajuan ini kami pasrahkan ke salah satu anggota dewan. Hanya saja tidak ada kejelasan mengenai proposal tersebut, ” ungkapnya, Minggu (28/07/2019)

Menurutnya, selama enam tahun lamanya para siswa-siswi menempuh pendidikan di emperan rumah. Meski sedikit terganggu dengan keramaian, para siswa tetap semangat belajar. Bahkan, fasilitas permainan yang disediakan cukup terbatas.

“Terkadang kalau ada tamu ke rumah, tanyak kok belajar di emperan. Ya kami jawab seadanya belum ada gedung pembangunan untuk kami tempati,” ucapnya.

Lanjut Endang sapaan akrabnya menjelaskan, yayasan lembaga pendidikan anak usia dini, Kelompok Bermain Mardatillah Pasean secara prosedur sudah memenuhi persyaratan untuk mendapat perhatian pemerintah.

Beberapa dokumen pendirian cukup lengkap. Masing-masing, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Yayasan PAUD Mardatillah di tahun 2016 lalu.

Selain itu, yayasan tersebut juga memiliki Sertifikat Nomor Pokok Sekolah National (NPSN) dengan nomor 69810235. Sertifikat itu, diperoleh dari Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan, tertanggal 27 Januari 2014.

“Kami juga pegang ijin penyelenggaraan sekolah swasta dengan nomor 841/7294/432.302/ 2015. Ijin ini berlaku selama tiga tahun, dan sekarang sudah kami perpanjang,” jelasnya.

Pihaknya berharap kepedulian pemkab setempat atas kondisi pendidikan PAUD. Selama ini, kegiatan pendidikan para siswa tetap di gelar demi mendukung peningkatan pendidikan secara umum, yakni di Kabupaten Pamekasan.

“Mudah-mudahan pemerintah peduli terhadap kondisi fasilitas yang kami gunakan. Paling tidak ada ruang kelas dan gedung sekolah untuk tempat para siswa-siswi kami,” harapnya.

Senada dengan pemerhati pendidikan, di Pamekasan, Hariyono. Dia mengungkapkan, belum meratanya pendidikan disebabkan rendahnya kepedulian pemerintah di bidang pendidikan.

“Jika memang ingin menselaraskan slogan sebagai kabupaten pendidikan, harusnya dunia pendidikan bisa doptimalkan. Mulai dari sisi fasilitas termasuk bangunan sekolah. Kalau bangunannya saja tidak ada ini cukup miris,” responya.

Mantan aktivis, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Pamekasan ini berjanji akan ikut serta mendampingi yayasan tersebut agar mendapat perhatian dari pemerintah. Salah satu langkah yang akan dilakukan, yakni mengadukan persolan tersebut ke legislatif.

“Insyaallah dalam waktu dekat ini kami akan menggelar audensi dengan DPRD mengenai temuan tentang pendidikan yang masih diabaikan ini. Mudah-mudahan langkah kami ini mampu mengoptimalkan kontrol pendidikan di Pamekasan,” harapnya.

Reporter              : zainur

Editor                   : Dr

Publisher             : Redaksi

REKOMENDASI UNTUK ANDA