by

RAMAH LINGKUNGANKAH LISTRIK KITA?

Energi listrik sudah menjadi kebutuhan pokok kita selayaknya makanan sehari-hari, baik untuk pencahayaan di malam hari, kulkas sebagai penyimpanan makanan, TV, sampai dengan handphone yang kita gunakan setiap waktu. Beberapa peralatan rumah tangga ternyata mengkonsumsi daya listrik yang cukup besar, misalnya saja Magic Jar (465 watt), kipas angin (103 watt), AC (430 watt), pompa air (650 watt), bahkan microwave (1270 watt).

Berdasarkan data kementrian ESDM, konsumsi listrik di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 1.012 Kilowatt per Hour (KWH)/kapita, naik 5,9 persen dari tahun sebelumnya, apalagi di tahun 2019 ini pasti kemungkinan besar akan terus meningkat seiring dengan gaya hidup masyarakat yang semakin bergantung pada energi listrik.

Belum Lagi pemerintah tengah menargetkan pemabagunan pembangkit listrik 35.000 megawatt dan dalam masa pembangunan. Tentunya akan menjadi hal bagus jika pembangkit listrik yang dibangun merupakan pembangkit yang ramah lingkungan, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air, Pembangkit Listrik Tenaga Angin, atau yang lebih ramah seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Pemerintah masih saja mengandalkan listrik hasil pembakaran batu bara yang mana berdampak sangat buruk bagi lingkungan, kesehatan, bahkan juga finansial.

Ditambah lagi beberapa kasus pertambangan batu bara di Daerah Kalimantan Timur yang berdampak pada kerusakan pemukiman warga, bencana alam seperti banjir, bahkan antara tahun 2014-2018 setidaknya di wilayah Kalimantan Timur terdapat 32 korban jiwa akibat tenggelam di kubangan bekas galian tambang, belum lagi jika dihitung secara nasional, sampai 115 jiwa yang melayang karena bekas tambang yang seharusnya direklamasi atau ditutup kembali tidak pernah terrealisasikan (sumber: Sexy Killers).

Tidak hanya masalah penambangannya saja, penggunaan batu bara sebagai PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) juga berdampak buruk bagi lingkungan. Panas sisa pembakaran juga mempengaruhi ekosistem di sekitarnya, jumlah panen di perkebunan sekitar akan menurun seiring dengan semakin seringnya batu bara yang dibakar dan menaikkan suhu di sekitar. Serta polusi udara yang kerap menjadi momok bagi warga yang tinggal di Kawasan sekitar PLTU karena gas sisa pembakaran yang dikeluarkan PLTU setiap harinya akan mengotori perairan dan udara sekitar. Senyawa timbal, merkuri, bahkan PM2.5 yang terkandung dapat bertahan di udara dalam jangka Panjang, dan bisa menyebar hingga ratusan kilometer jauhnya.

Bayangkan setiap hembusan nafas yang kita hirup dapat merusak kesehatan tubuh kita secara perlahan ataupun cepat. Penyakit seperti stroke, jantung, paru-paru, kanker, asma, dan lain sebagainya akan mengancam keselamatan kita bahkan berpotensi mengakibatkan kematian.

Maka pikirkan lagi apakah kita butuh energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan? Karena di satu sisi kita menggantungkan hidup dengan energi listrik, namun di sisi lain kita tidak ingin dampak negatif dari pembakaran batu bara karena Listrik yang kita gunakan di negeri tercinta ini sebagian besar dihasilkan dari PLTU yang menggunakan uap hasil pembakaran batu bara sebagai penggerak rotor untuk menghasilkan energi listrik.

Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang telah banyak dibangun pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan yang dihasilkan oleh pergerakan kincir angin ataupun panel surya. Bahkan Cina memiliki taman panel surya terbesar di dunia yang berada di Ningxia, 1000 km di timur laut Beijing dan juga banyak taman panel surya lainnya, yang mana salah satu diantaranya sempat viral karena jika dilihat dari jauh terlihat seperti gambar panda.

Seharusnya negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya adalah laut seperti Indonesia ini memiliki ruang yang cukup banyak untuk memasang kincir angin sebagai pembangkit listrik. Ditambah dengan iklim tropis Indonesia yang panas, panel surya yang dipasang akan lebih efisien dan menghasilkan energi yang lebih besar dibandingkan jika dipasang di negara beriklim sedang seperti Cina.

Bayangkan jika setiap rumah memiliki panel surya di atapnya, memiliki kincir angin sendiri di setiap desa, atau memiliki PLTA kecil yang dipasang di sungai sekitar desa. Kita tidak lagi membakar batu bara untuk memenuhi ketergantungan kita terhadap listrik karena kita telah menggunakan listrik kita sendiri yang lebih ramah lingkungan.

Nah maka dari itu tidak ada salahnya kita mencoba membeli panel surya, walaupun mahal tetapi bisa memotong biaya listrik PLN yang kita bayar dan juga secara tidak langsung memotong penggunaan batu bara sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap.

Muhammad Farid Nurdifanto Mahasiswa ilmukomunikasi universitas muhamadiyah sidoarjo
Muhammad Farid Nurdifanto
Mahasiswa ilmukomunikasi universitas muhamadiyah sidoarjo

REKOMENDASI UNTUK ANDA