oleh

Generasi Millenial Berbagi Nasi

Terlintas di mata kepala saya 27/06/2019 tepatnya pukul 16.00 WIB ada sekumpulan remaja yang sedang membagi-bagikan sebungkus nasi kepada orang gila yang berkeliaran di jalanan sekitar Mojosari. Mereka bergerak menyebar menyusuri jalanan sambil membagikan sebungkus nasi kepada orang gila. Tidak hanya orang gila mereka juga membagikannya kepada penyandang tunawisma. “Tetapi tujuan kami adalah membagikan kepada penyandang gangguan jiwa, karena menurut kita orang gila tidak mampu mencari penghasilan untuk sesuap nasi dengan gangguan yang dialaminya” ujar dari salah sekelompok berbagi nasi tersebut. Dilihat pada jamannya sekarang. Kebanyakan dalam era ini generasi millenial menghabiskan waktu dalam memanfaatkan kemajuan teknologi dari golongan umurnya. Dimana remaja millenial sekarang mampu menghabiskan waktunya di dalam dunia media elektronik. Namun ini malah menyimpang. Sekumpulan remaja ini mempunyai rasa jiwa sosial yang tinggi terhadap orang disekitarnya, dengan menciptakan komunitas tersebut. Mereka menamakanya Berbagi Nasi.

Komunitas ini terbentuk pada tanggal 13 Maret 2019 dari gagasan Canda Hertadi selaku ketua dari komunitas tersebut. Ia merasa iba ketika melihat penyandang gangguan jiwa di daerah sekelilingnya. Kemudian ia mengajak teman-teman dekatnya untuk membangun komunitas berbagi nasi ini. Dengan menjelaskan dari beberapa keadaan penyandang gangguan jiwa yang mengenaskan kepada teman-temannya. Hingga ia pun berhasil membuka hati dan pikiran teman-temannya bahwa para penyandang gangguan jiwa mebutuhkan uluran tangan kita. Mereka mengagendakan kegiatan komunitas ini setiap seminggu sekali pada hari Kamis sampai habisnya nasi yang mereka bawa.

Dengan adanya komunitas tersebut mungkin dapat mengurangi gangguan-gangguan orang gila terhadap masyarakat. Kenapa ? Karena masyarakat yang tidak mengerti akan maksut dari orang gila tersebut, jadi membuat  masyarakat merasa terganggu dengan kedatangannya. Disebabkan orang gila sendiri memiliki karakternya tersendiri. “Bahkan pernah, kita hampir kena semprot dari orang gila tersebut” ujar salah satu kelompok komunitas tersebut. Namun hingga saat ini mereka tetap menjalankan kegiatan tersebut dengan senang hati. Selain itu, kegiatan mereka dapat menyadarkan remaja millenial yang lain agar mempunyai rasa kepudilan terhadap sesama. Bahwasannya dalam era millenial ini tidak harus terkait dengan dunia media elektronik dan sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kewajiban untuk saling tolong-menolong.

Rencananya mereka akan menyebar luaskan jaringannya, dengan merangkul generasi millenial lainnya yang mempunyai niat atau itikad baik agar dapat mewujudkan niat baik mereka menjadi aksi baik. Juga ,mereka akan melihat secara langsung betapa pentingnya rasa kepedulian terhadap makhluk sosial. Menurutnya dari salah satu anggota komunitas berbagi nasi, pemerintah daerah kurang memperhatikan akan semakin bertambahnya angka penyandang gangguan jiwa. Seakan mereka protes terhadap perilaku pemerintah daerah dengan melakukan kegiatan tersebut.

Komunitas ini menjadi salah satu wadah untuk masyarakat yang mempunyai itikad atau niat baik tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Juga, disini masyarakat yang mempunyai rasa kepedulian tinggi antar sesama berkumpul. Semua golongan masyarakat yang sadar akan rasa kepedulian terhadap sesama bisa menjadi anggota dari komunitas ini. “Makin banyak yang bergabung makin banyak pula penyandang gangguan jiwa yang mendapatkan uluran tangan dari kami. Untuk sekarang komunitas ini belum mencakup secara luas daerah-daerah di Kabupaten Mojokerto, dan masih fokus pada Kecamatan Mojosari.  Dan harapan kami kedepan semoga masyarakat Indonesia dengan melihat kegiatan kami, dapat memunculkan rasa kepedulian yang tinggi terhadap sesama manusia. Karena kesadaran masyarakat sangatlah penting untuk kemajuan bangsa Indonesia.” Ujar Canda Hertadi selaku ketua dari komunitas Berbagi Nasi.

Penulis :  Imrron Rusadi Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Penulis : Imrron Rusadi Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

REKOMENDASI UNTUK ANDA