oleh

Dilan menjadi Minke, Mampukah?

-Terbaru-622 views

Falcon Pictures kembali menggencarkan dunia perfilman. Setelah memproduksi dan menayangkan film Dilan 1990, Dilan 1991, dan Teman Tapi Menikah. Kini telah memproduksi film dari novel karya Mbah Pram atau disebut Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Bumi Manusia”.

Film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo, dan menariknya Minke akan diperankan oleh Iqbaal Ramadhan. Setelah sukses menjadi “Dilan” kini ia kembali menjadi pemeran utama yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo tersebut. Dan Annelies akan diperankan oleh Mawar Eva.

Saya sebagai pengagum Mbah Pram mengkhawatir kalau film ini ternyata tidak sesuai harapan dan berbeda jauh dari konteks novel “Bumi Manusia’’.

Pasalnya, beberapa tahun lalu ada teater yang mengadaptasi kisah cerita dari “Bumi Manusia” dan “Anak Semua Bangsa”. Teater ini berjudul “Bunga Akhir Abad”.

Penyusun naskah teater mengaku kesulitan mengadaptasi “Bumi Manusia” menjadi naskah teater. Akhirnya, hanya beberapa bagian dari “Bumi Manusia” saja yang diadaptasi. Sisanya diambil dari “Anak Semua Bangsa”.

Menurut Max Lane, “Bumi Manusia” bukan sebuah karya fiksi berlatar sejarah. Novel ini adalah sejarah yang (sengaja) ditulis dalam karya fiksi. Novel ini merupakan hasil riset sosial, budaya, politik dan ekonomi yang mendalam oleh Mbah Pram, jadi bukan sekedar imajinasi.

Maka tak heran jika “Bumi Manusia” mencakup berbagai kompleksitas historis. Yang bahkan belum banyak dikaji dalam historiografi Indonesia. Beberapa diantaranya, sejarah pelacuran dan pergundikan, hierarki fungsional Hindia Belanda, kasta dan feodalisme, kelas sosial nasi goreng, bahasa Melayu lingua franca, proyeksi nasion Nusantara, lalu rekonstruksi kemanusiaan dalam tokoh utama, dan masih banyak lagi.

Logika sederhana saja, pasar film tahun ini film remaja, Falcon Pictures telah berhasil menggaet remaja Indonesia untuk menonton Dilan dan Teman Tapi Menikah.

Dengan memilih tokoh utama Iqbaal dan Eva, terlihat bahwa produksi film ini membuat segmentasi pasar untuk remaja. Komersialisasi ini yang mengkhawatirkan akan berbahaya, karena (takutnya) menghilangkan rekonstruksi menyeluruh Mbah Pram terhadap sejarah Nusantara yang tertulis dalam mahakarya “Bumi Manusia”.

Apakah film ini sesuai dengan harapan para pengagum Mbah Pram? Mari kita tunggu.

REKOMENDASI UNTUK ANDA