oleh

Optimalisasi Pendidikan Melalui Media Edukasi

Manusia tentu sangat membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan cara-cara lainnya yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia dinyatakan, bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Selain itu juga, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak sekali ranah pendidikan, tetapi jika dikerucutkan lagi hanya akan menjadi tiga elemen. Yaitu pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan masyarakat. Pendidikan sendiri umumnya dimulai manusia sejak mereka baru lahir sekalipun, dan pendidikan itu mereka dapatkan dari orang tuanya.

Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya, maka pendidikan pertama-tama tentunya dilakukan dan diberikan dalam keluarga. Pendidikan yang diberikan dalam keluarga yaitu berupa nilai-nilai, keyakinan, akhlak, dan pengetahuan. Begitulah, pendidikan yang diperoleh anak-anak pertama kali.

Setelah itu mereka akan menginjak masa sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi barulah manusia mendapatkan lagi pendidikan sekolah. Sampai pendidikan yang paling besar pengaruhnya adalah pendidikan masyarakat, dimana lingkungan seseorang akan selalu menjadi faktor utama perilaku seseorang tersebut.

Suka atau tidak, kualitas pendidikan di negara kita saat ini masih tertinggal dari sejumlah negara. Ini tentu saja memprihatinkan karena bagaimanapun, kunci kemajuan sebuah bangsa terletak pada dunia pendidikannya.

Jika pendidikannya maju dan bermutu, bangsa itu bakal semakin maju dan berkualitas sehingga menjadi yang terdepan dan mampu mengungguli bangsa-bangsa lain dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam konteks pendidikan formal, guru adalah ujung tombak terdepan dalam dunia pendidikan.

Sebuah masyarakat, sebuah bangsa, sebuah negara bisa berubah drastis karena guru-guru yang dimilikinya. Itu dimungkinkan karena guru termasuk ke dalam kelompok agen perubahan (agent of change). Maka, baik-buruk sebuah masyarakat, baik-buruk sebuah bangsa, baik-buruk sebuah negara ikut ditentukan oleh seberapa bagus dan seberapa hebat kualitas guru-gurunya.

Selain sebagai sebuah profesi mulia, guru menjadi sebuah profesi yang sesungguhnya tidak mudah.

Tidak semua orang dapat menjadi guru, apalagi guru yang benar-benar bagus dan hebat. Kenapa? Karena tugas guru bukan hanya sebatas mengajar, tetapi harus mampu pula mendidik, menjadi teladan, dan menjadi inspirasi bagi siswa-siswanya.

Kalau hanya mengajar, setiap orang kemungkinan dapat dengan mudah melakukannya.

Sistem pendidikan sendiri dituntut untuk selalu selaras dengan perkembangan dan tantangan zaman sehingga hasil pengajaran di sekolah dapat berkontribusi secara nyata bagi munculnya solusi-solusi atas berbagai persoalan kehidupan di sekeliling kita.

Apalagi beberapa hari ini, sedang panas-panasnya pro kontra mengenai sistem zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru diatur dalam Permendikbud No 17 tahun 2017 tentang PPDB. Sistem ini dianggap tepat sebagai cara untuk menghapus perspektif favoritisme sekolah di masyarakat. Perspektif tersebut memang layak dianggap tidak adil, karena hal tersebut hanyalah menciptakan sekolah-sekolah favorit yang mayoritas berada di kota-kota besar atau di pusat kota. Dan hal ini memang tepat sebagai salah satu cara untuk melakukan pemerataan kualitas pendidikan. Masih banyak sekali pro dan kontra mengenai sitem tersebut, hingga kontra mengenai sistem tersebut telah meluber dalam banyak ragam varian. Namun dalam artikel ini, penulis tidak akan mengulas lebih banyak lagi tentang sistem zonasi.

Karena hari ini kita juga harus menyadari, bahwa di era distrupi (percepatan teknologi dan informasi) ini, tentunya ranah pendidikan turut serta terbagi luas lagi. Selain ketiga poin utama ranah pendidikan seperti yang sudah disebutkan di atas, sadar maupun tidak, percaya maupun tidak, telah tumbuh internet sebagai asumsi yang presentasenya cukup tinggi mempengaruhi pendidikan manusia. Bagaimana tidak, rata-rata penggunaan internet oleh masyarakat Indonesia adalah 1-3 jam dalam sehari. Adapun persentasenya mencapai 43,89 persen. Sementara itu, ada pula pengguna yang mengakses internet selama 4-7 jam dalam sehari dengan persentasenya mencapai 29,63 persen. Selain itu, sebanyak 26,48 persen pengguna internet di Indonesia juga mengakses internet selama lebih dari 7 jam dalam sehari. Dalam sepekan, lebih dari separuh pengguna di Indonesia mengakses internet setiap hari dengan persentase mencapai 65,98 persen. Adapun sebanyak 13,90 persen pengguna mengakses internet 1-3 hari dalam sepekan. Sebanyak 10,46 persen pengguna di Indonesia mengakses internet antara 0-1 hari dalam seminggu. Di samping itu, sebanyak 9,66 persen pengguna mengakses internet 4-6 hari dalam sepekan. Terkait perangkat yang digunakan, sebanyak 44,16 persen pengguna internet menggunakan ponsel pintar (smartphone) atau tablet pribadi. Lalu, sebanyak 4,49 persen mengakses internet dengan menggunakan komputer atau laptop pribadi. Kemudian, ada 39,28 persen pengguna yang mengakses internet dengan paduan perangkat berupa smartphone dan komputer atau laptop. Ada pula 12,07 persen pengguna yang menggunakan perangkat lainnya dalam mengakses internet.

Sedemikian presentase yang pernah dirilis oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), mengenai berapa lama rata-rata orang di Indonesia menggunakan internet dalam sehari. Tentunya sudah jelas bahwa waktu manusia lebih banyak digunakan untuk mengakses internet, artinya waktu yang dimiliki manusia untuk pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan masyarakat kalah jauh dengan waktu untuk mengakses internet. Era saat ini bisa disebut bahwa koneksi dan wifi adalah teman sejati yang setiap waktu akan dicari. Maka untuk itu, ketika semua orang di Indonesia sibuk dengan sistem zonasi, lebih baik kita melirik sejenak permasalahan ini.

Sudah saatnya media sosial dipenuhi lagi oleh hal-hal yang mendidik. Sekolah-sekolah mungkin juga perlu membuat akun media yang berisi tentang edukasi yang menarik, supaya siswa-siswi bisa tertarik dan menghabiskan waktu untuk mengakses akun edukasi yang dibuat oleh pihak sekolah. Begitupun guru-guru maupun pihak-pihak pendidik, tak hanya dalam lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi, namun pengajaran perlu dilakukan melalui dunia sosial media. Sudah saatnya para pelajar dididik untuk membuat konten-konten kreatif yang mendidik, juga menarik sebagai alat pembelajaran. Kementrian Dinas Pendidikan (Kemendikbud) dan Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) juga memiliki peran penting, agar kiranya keduanya saling bekerjasama untuk mewujudkan media edukasi.

Berbagai pihak pula harus bersatu untuk mewujudkan media edukasi yang menarik, agar waktu orang-orang Indonesia tidak terbuang sia-sia dengan melihat tontonan maupun bacaan-bacaan yang tida bermutu di media sosial. Pendidikan harus berperan besar dan mengambil sebagian fungsi besar dalam media sosial, agar pendidikan di Indonesia mampu untuk menciptakan sumber daya bermutu, unggul, memiliki daya saing yang tinggi. Juga tentu agar tidak kalah dengan negara-negara maju yang lainnya, mengingat kita sudah kerap tertinggal pada banyak berbagai bidang di era Revolusi Industri 4.0 ini. Jika berbagi pihak tak kunjung melek, dan tidak segera untuk saling bekerja sama untuk mengatasi urgensi ini, maka tidak menutup kemungkinan bahwa negara Indonesia akan semakn tertinggal. Zaman ini juga sudah bukan zamannya lagi tentang siapa yang bersekolah di sekolah elite, bukan lagi tentang siapa yang menempuh pendidikan tinggi di perguruan tinggi elite, bukan lagi tentang siapa yang memiliki jabatan di perusahaan besar ternama. Melainkan sudah zamannya berbagai elemen bersatu gotong royong sesuai khas Indonesia, demi membawa kemajuan Indonesia di kancah dunia.

REKOMENDASI UNTUK ANDA