oleh

Tak Acuhnya Pemerintah Terhadap Lumpur Lapindo

Lumpur lapindo menenggelamkan tiga belas desa yang artinya sama saja menenggelamkan tiga kecamatan di sekitar kawasan lumpur lapindo. Tenggelam  sudah  pemukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan, diantaranya kecamatan porong, kecamatan jabon, kecamatan tanggulangin.peristiwa menyemburnya lumpur panas ini terjadi karena pengeboran yang berada di lokasi di dusun Balongnongo desa Renokenongo kecamatan Porong kabupaten Sidoarjo jawa timur Indonesia sejak tanggal 29 Mei 2006. semburan lumpur panas ini terjadi selama beberapa bulan yang mengakibatkan tenggelamnya beberapa desa. lokasi lumpur in berada di 12 km dari pusat kota Sidoarjo, kecamatan yang terkena semburan lumpur panas lapindo yakni berbatasan dengan kecamatan Gempol(kabupaten Pasuruan yang berada di sebelah selatan. pusat lokasi semburan berjarak hanya 150 meter dari sumur Banjar Panji-1, yang merupakan sumur eksploitasi gas milik Lapindo Brantas Inc sebagai operator Brantas. Lokasi semburan tersebut merupakan kawasan pemukiman dan banyak juga di sekitaran lokasi yang terkena lumpur adalah salah satu kawasan industri yang utama di Jawa Timur. Tak jauh dari lokasi semburan terdapat jalan tol Surabaya-Gempol, jalan raya Surabaya-Malang dan Surabaya-Pasuruan-Banyuwangi (jalur pantura timur) serta jalur kereta api lintas timur Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi.

Akibat dari lumpur panas lapindo warga setempat kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian serta mempengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur khususnya di tiga kecamatan tersebut. Lumpur panas menyembur dari muka bumi telah mengubur rumah yang  di tempati oleh warga yang biasa memanfaatkan untuk melepas penat setelah seharian mencari nafkah dan sebagai senda gurau dengan keluarga kini telah menjadi angan angan semata sebab tempat ini telah hilang sudah ditenggelamkan oleh lumpur panas. Sudah banyak desa yang tenggelam karena sumber yang semakin membesar disebabkan ganasnya luapan lumpur lapindo. setelah rumah warga tenggelam hidup para warga terlunta lunta kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian yang harus memaksa mereka mengungsi di tempat seadanya. Tidak hanya warga yang bertempat tinggal disekitaran lumpur tersebut ada juga warga yang berjarak beberapa kilometer rumahnya dari tenggelamnya lumpur lapindo sumur warga tidak bisa dipakai akibat dari luapan lumpur itu. Sejumlah upaya telah dilakukan untuk menanggulangi luapan lumpur, diantaranya dengan membuat tanggul untuk membendung area genangan lumpur. Namun, lumpur terus menyembur setiap harinya, sehingga sewaktu-waktu tanggul dapat jebol, yang mengancam tergenanginya lumpur pada permukiman di dekat tanggul. Membuat waduk dengan beton pada lahan seluas 342 hektare, dengan mengungsikan 12.000 warga. Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan, untuk menampung lumpur sampai Desember 2006, mereka menyiapkan 150 hektare waduk baru. Juga ada cadangan 342 hektare lagi yang sanggup memenuhi kebutuhan hingga Juni 2007. Akhir Oktober, diperkirakan volume lumpur sudah mencapai 7 juta m3.Namun rencana itu batal tanpa sebab yang jelas. Salah satu upaya yang dilakukan adalah membuang langsung lumpur panas itu ke Kali Porong. Sebagai tempat penyimpanan lumpur, Kali Porong ibarat waduk yang telah tersedia, tanpa perlu digali, memiliki potensi volume penampungan lumpur panas yang cukup besar. Dengan kedalaman 10 meter di bagian tengah kali tersebut, bila separuhnya akan diisi lumpur panas Sidoarjo, maka potensi penyimpanan lumpur di Kali Porong sekitar 300.000 m³ setiap kilometernya. Dengan kata lain, kali Porong dapat membantu menyimpan lumpur sekitar 5 juta m³, atau akan memberikan tambahan waktu bila volume lumpur yang dipompakan ke Kali Porong tidak melebihi 50.000 m³ per hari. Bila yang akan dialirkan ke Kali Porong adalah keseluruhan lumpur yang menyembur sejak awal Oktober 2006, maka volume lumpur yang akan pindah ke Kali Porong mencapai 10 juta m³ pada bulan Desember 2006. Volume lumpur yang begitu besar membutuhkan frekuensi dan volume penggelontoran air dari Sungai Brantas yang tinggi, dan kegiatan pengerukan dasar sungai yang terus menerus, agar Kali Porong tidak berubah menjadi waduk lumpur. Sedangkan untuk mencegah pengembaraan koloida lumpur Sidoarjo di perairan Selat Madura, diperlukan upaya pengendapan dan stabilisasi lumpur tersebut di kawasan pantai Sidoarjo. Efek yang ditimbulkan dari pembuangan lumpur ke Sungai Brantas selama beberapa tahun berdampak pada munculnya  pulau baru yang kemudian diberi nama pulau lusi.

Dari bencana lumpur lapindo, pemerintah seharusnya bisa menghidupi kembali para warga yang kehilangan mata pencaharian. Pemerintah bisa menggelontorkan dana dan turun tangan secara langsung untuk mengembangkan lumpur lapindo menjadi kawasan wisata hijau. Dengan cara menanam pohon di sekitar tanggul dan membuat tanggul yang semula berdebu menjadi tidak berdebu, dengan memakai batako sebagai akses untuk memudahkan wisatawan yang berkunjung di kawasan wisata lumpur lapindo. Mendirikan gazebo untuk berteduh dari sengatan matahari yang sangat panas dan tempat bersitirahat. Kemudian masyarakat setempat bisa mencari rezeki dengan menyewakan sepeda angin untuk mengelilingi kawasan wisata hijau lumpur lapindo dari dana yang diberikan pemerintah. Sangat menarik bukan? Yang dulunya lumpur lapindo dipandang sebelah mata karena telah menenggelamkan beberapa rumah warga yang mengakibatkan kehilangan mata pencaharian. Sekarang lumpur lapindo yang dulunya hanya lumpur panas biasa kini dapat dikunjungi  jika pemerintah mengelonotrkan dananya untuk memperindah lumpur lapindo.

REKOMENDASI UNTUK ANDA