oleh

Lebaran Sudah Lewat Harga Tiket Pesawat Masih Saja Naik

Hari Raya Lebaran selalu identik dengan berbagai hal yang menyenangkan, tradisi ini telah begitu melekat di dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Bukan hanya lebaran saja, namun nuansa hangat telah terlihat sejak bulan puasa dimulai. Setiap wilayah di Indonesia bahkan memiliki agenda dan juga tradisi unik ketika merayakan Lebaran, hal seperti inilah yang membuat banyak orang selalu ingin kembali ke kampung halamannya. Nah tradisi yang tidak pernah ketinggalan setiap tahunnya adalah mudik.

Pesawat adalah salah satu sarana transportasi untuk mudik jarak jauh. Antusias masyarakat menggunakan pesawat saat mudik tahun ini diperkirakan menurun dibandingkan mudik tahun lalu.

Penurunan pertumbuhan pengguna pesawat diperkirakan sebesar 2,11%. penurunan pertumbuhan jumlah penumpang, di mana sebelumnya tahun 2018 growth-nya penerbangan domestik 4,49%, lebaran tahun ini diprediksi 2,38%. Kenaikan itu terjadi sejak November tahun lalu atau jelang momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) kemarin.

Hingga di tahun ini kenaikan harga semakin mengalami puncaknya, lebih tepatnya saat memasuki bulan puasa hingga lebaran berlalu harga tiket pesawat masih saja tidak ada perubahan sedikitpun.

Seharusnya harga tiket pesawat mengalami suatu perubahan seknifikan agar masyarakat tidak di perberat dengan harga tiket yang sangat fantastis. Kebijakan menaikkan harga tiket pesawat yang diambil oleh sejumlah maskapai Tanah Air beberapa waktu lalu, ternyata tak hanya turunkan jumlah penumpang. Kenaikan harga tiket juga berperan besar dalam melemahnya sektor wisata bahkan inflasi ekonomi.

Apalagi, maskapai yang terbilang menghadirkan tiket murah atau low cost carrier kini menerapkan biaya bagasi.

Seperti dikutip dari Kantor Berita Antara, Lion mengenakan tarif bagasi tambahan untuk bobot 5 kilogram (kg) sebesar Rp 155.000, 10 kg Rp 310.000, 15 kg Rp 465.000, 20 kg Rp 620.000, 25 kg Rp 755.000, dan 30 kg Rp 930.000. Tentu saja ini sebuah dilema yang tinggi bagi masyarakat. Di sisi lain, tingginya harga tiket ini pasti akan berdampak pada menurunnya minat masyarakat menggunakan moda transportasi udara ini.

Lebih jauh, penurunan minat ini akan membawa imbas yang juga serius pada sektor-sektor lainnya.

Yang disayangkan oleh masyarakat adalah kenaikan tiket pesawat ikut mengganggu pariwisata, banyak tamu yang mau berpegian jauh membatalkan perjalanan karena tiket yang sangat mahal. Apalagi sekarang Lion Air Group menghapus layanan bagasi gratis.

Mulai 22 Januari 2019, Lion Air Group (JT, IW) resmi memberlakukan penghapusan kebijakan bagasi cuma-cuma atau FBA untuk seluruh rute domestik kepada penumpang. Saat ini, penumpang hanya mendapatkan fasilitas gratis untuk bagasi kabin maksimal seberat 7 kg dan satu barang pribadi seperti tas laptop, tas jinjing, dan sejenisnya.

Ketentuan maksimum ukuran dimensi bagasi kabin yakni 40 cm x 30 cm x 20 cm. Bagi penumpang yang melebihi ketentuan tersebut akan dikenai biaya tambahan. Dampak mahalnya tarif pesawat benar-benar terjadi akhir-akhir ini.

Di Bandar Udara Hang Nadim, Batam misalnya, sembilan jadwal penerbangan diketahui batal dilaksanakan karena alasan sepi penumpang. Hal yang sama juga terjadi di Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru.

Sejumlah 223 penerbangan dibatalkan, lagi-lagi karena jumlah penumpang yang turun drastis. Naiknya harga tiket pesawat ternyata juga berimbas pada sektor pariwisata, seperti hunian hotel. Marketing & Branding Manager Fox Harris Hotel Pekanbaru, Roselia mengakui dampak dari tingginya harga tiket pesawat dan bagasi berbayar, berpengaruh terhadap penurunan hunian domestik yang menginap di hotel.

Tidak hanya itu, pembatalan rute  terbang sejumlah maskapai penerbangan tujuan dalam negeri, akibat sepinya penumpang, berpotensi membuat wisatawan nusantara (wisnus) yang datang ke Batam, menurun. Sebaliknya, secara tidak langsung ikut membantu, mendongkrak peningkatan wisatawan ke negara-negara tetangga.

Pilihan berwisata ke luar negeri, khususnya dari masyarakat Batam, Kepri, ke Singapura, Malaysia, Thailand atau negara lainnya, tampaknya menjadi hal yang paling mungkin dilakukan saat ini.

Di Provinsi Bangka-Belitung, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), Elfiyena, menyatakan, pelaku UMKM di Pulau Belitung mulai merumahkan karyawannya karena kunjungan wisatawan berkurang akibat tingginya harga tiket pesawat di daerah itu.

“Harga tiket pesawat tinggi dan pemberlakuan biaya bagasi angkutan udara ini sangat memengaruhi usaha kecil menengah di Pulau Belitung yang merupakan salah satu destinasi wisata di Indonesia,” kata Elfiyena di Pangkal Pinang, Senin. Tiket low cost carrier dari Pangkal Pinang menuju Jakarta sebelum akhir 2018 berkisar pada angka Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu. Saat ini, memilik harga di Traveloka untuk Selasa (18/06), rentang harga berada pada angka Rp 1,2 juta hingga Rp 1,9 juta. Jumlah itu juga masih harus ditambah tarif bagasi

Penulis : Yuli Krisyanti Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Prodi Ilmu Komunikasi
Penulis : Yuli Krisyanti Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Prodi Ilmu Komunikasi

REKOMENDASI UNTUK ANDA