oleh

Revitalisasi Generasi Millenial di Era 4.0

-Terbaru-1.745 views

Istilah generasi millenial sudah sering kita dengar pada akhir-akhir ini. Generasi millenial lahir pada 1976 – 2001. Generasi ini memiliki ciri khusus yaitu hidup berdampingan dengan teknologi, khususnya smartphone.

Generasi millenial punya pengetahuan tinggi dalam menggunakan platform dan perangkat mobile, ternyata ini bisa berefek pada mereka didunia maya khususnya internet. Penelitian yang melibatkan 20.907 responden dari 21 negara dunia.

Tiga negara Asia Tenggara, di antaranya Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Penelitian ini berlangsung pada 14 September hingga 6 Oktober 2016. Sampel di Indonesia melibatkan lebih dari seribu pengguna berusia 18 tahun ke atas yang dipilih secara random. “Generasi millenial saat ini pegangnya bukan koran, tapi kotak kecil yakni Smatphone dan lagi jarang melihat TV, mau lihat Film saja sekarang hanya tinggal klik ,” ujar Joko Widodo.

Kebanyakan generasi millenial pengguna internet di Indonesia menggunakan koneksi Wi-Fi publik. Kebiasaan seperti inilah yang menjadi para penerus bangsa kecanduan bermain smatphone terlalu lama.

Salah satu dampak buruk generasi millenial yang memprihatinkan yakni pada pendidikan. Saat ini mereka tidak lagi gemar membaca dalam bentuk buku cetak melainkan e-book atau sejenisnya. Bisa dilihat dari perpustakaan sekolah yang semakin hari semakain sepi karena kurangnya peminat dan sudah jarang dibutuhkan.

 Dalam generasi ini, mereka memiliki kecenderungan lebih memilih mengakses informasi dan memperdalam ilmu pengetahuan dengan cara searching di salah satu aplikasi mesin pencarian seperti Google Firefox daripada bertanya dengan guru atau teman sebaya.

Salah satu fenomena lain, anak jaman sekarang lebih malas untuk menulis di buku tulis saat guru memberi pelajaran. Kini mereka sudah dimudahkan dengan merekam apa yang guru sampaikan dan memotret pada papan tulis atau layar Liquid Crystal Display (LCD). Pada generasi millenial dapat dilihat dari pola hidup mereka saat ini.

 Seperti sekarang, budaya mengetuk pintu rumah teman saat hendak bermain pun kini sudah tergantikan dengan mengirimkan pesan yang menyatakan dirinya sudah di depan rumah. Budaya jual beli agar terjalin komunikasi langsung pun sedikit demi sedikit juga tergantikan dengan smartphone.

Cukup dengan memilih barang yang dibutuhkan, beberapa menit kemudian pun barang tersebut sudah sampai di depan mata. Teknologi tidak hanya berperan positif tetapi juga memiliki peran negatif.

Dilihat dari prakteknya, generasi millenial kebanyakan cenderung cuek menghadapi keadan sosial. Umumnya interaksi langsung dengan orang lain itu sangat perlu pada hakikat mahluk sosial.

Namun, pada generasi ini lebih cenderung individualis dengan pola hidup eksis di media sosial. Penanaman nilai-nilai positif pun hilang mengkuti arus generasi milenial.

Melihat kondisi generasi millenial sekarang menjadi keresahan bagi para orang tua. Generasi ini dapat  menjadi memicu adanya masalah dalam hubungan anak dengan orang tua. Perlu adanya penekanan pada nilai-nilai akhlak yang sudah diajarkan orang tua terhadap anak agar tidak dilupakan.

Bagaimana untuk para milenial agar bisa menggunakan layanan internet dengan baik?  Tentunya kita sebagai generasi millenial adanya tindakan yang perlu ditegaskan yakni membatasi penggunaan gadget dalam jangka panjang serta menumbuhkan jiwa sosial yang sudah hampir hilang.

Generasi milenial juga punya sisi positif. Terbukti bahwa generasi millenial ternyata juga punya karakter dari keturunan sebelumnya.

Usia 18-29 tahun saat ini, merasa bertanggung jawab atas masa senja orang tuanya sehingga menjadi alasan juga di balik kebiasaan generasi milenial menjadi kutu loncat yang hobi pindah-pindah pekerjaan demi mendapatkan pendapatan lebih agar bisa memenuhi kebutuhan pribadi dan juga keluarganya. Hal positif lainnya yakni memanfaatkan media sosial untuk mengembangkan karya dan hobi dalam bidang apapun.

Mereka juga bisa mengembangkan ide-ide bisnis kewirausahaan pada media sosial mereka. Sebenarnya, kita punya banya ide-ide kreatif untuk memanfaatkan banya media karena millenials saat ini banyak yang mendominasi di dunia maya.

Dengan cara seperti ini, generasi millenial menjadi generasi yang berproduktif dan kreatif sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Mengingat Indonesia merupakan bangsa yang besar, maka diperlukan peran generasi muda yang berkualitas guna meningkatkan derajat bangsa di mata dunia.

Sebagai generasi millenial kita juga harus bijak dalam media sosial dan bijak dalam teknologi, karena sekarang banyak anak muda yang kurang bijak dalam berteknologi khususnya media sosial.

Seperti contoh nyata akhir-akhir ini banyak yang menyebarkan kebencian lalu berkomentar yang kurang pantas. Mereka tidak memikirkan apa akibatnya, bisa-bisa mereka terjerat hukum. Mengingat sekarang sudah ada pasal yang mengatur.

Generasi millenial ini harus optimis dan siap menyongsong Indonesia Emas pada 2045 mendatang. Maka, kita para generasi muda sekarang waktunya menghilangkan rasa malas dan terus menumbuhkan jiwa optimis untuk menunjukkan Indonesia menjadi hebat di mata dunia, dan generasi mudalah yang mampu untuk melakukannya.

Di era digital ini kita juga dituntut untuk memunculkan ide-ide kreatif yang menunjang agar tidak ketinggalan. Kita harus konsisten dalam berkarya agar skill/ pengetahuan semakin bertambah. Hindari rasa malas agar gagasan yang ada di fikiran kita dapat keluar dan berkembang menjadi bermanfaat bagi negeri ini hingga dunia.

REKOMENDASI UNTUK ANDA