oleh

Kisah Pendaki Yang Diikuti Suara Lonceng Gunung Welirang

MOJOKERTO, Bratapos.com – Gunung Welirang adalah gunung api yang terletak di Kabupaten Malang dan Kabupaten Mojokerto. Gunung ini termasuk gunung dalam golongan gunung api yang masih aktif. Ketinggian puncak gunung Welirang itu sendiri mencapai 3.156 mdpl, dibalut dengan keindahan alam yang khas, dipenuhi batu berwarna kuning belerang melambangkan keunikan. Tetapi dibalik keindahan dan keunikan gunung Welirang, tersirat banyak mitos atau kejadian-kejadian yang tidak diinginkan saat pendakian dimulai.

Pendakian Gunung Welirang yang terkenal adalah melalui jalur Tretes mengarah ke air terjun Kakek Bodoh, kemudian mengikuti jalur hingga sampai di pos perijinan pendakian yang berada di kanan jalan. Setelah sampai di pos perijinan, kami diwajibkan membayar retribusi sebesar Rp. 6000,- – Rp. 8000,- / orangnya. Dari pos perijinan menuju Pet bocor, kita disambut dengan dengan indahnya pemandangan dikawasan kota Tretes, udara sejuk yang cocok untuk menemani pendakian. Perjalanan dari pos perijinan menuju pos Pet bocor hanya ± 30 menit.

Perjalanan dari Pet bocor menuju kop-kopan membutuhkan waktu ± 3 – 5 jam tergantung cuaca. Karena saat itu cuaca tidak mendukung, kami memutuskan untuk ngecamp di kop-kopan dan membangun tenda untuk melanjutkan pendakian saat pagi hari. Di pos kop-kopan tersebut terdapat sumber mata air yang sangat deras dan tidak bisa kering meskipun musim kemarau. Kebetulan saat itu stok air minum kami sudah habis.

Dan kami memanfaatkan sumber mata air tersebut untuk kebutuhan pendakian, akhirnya kami mengisi 2 – 5 botol. Setelah mengisi botol dan kami ingin melakukan sholat, tidak lupa juga kami mengambil air wudhu. Setelah sholat, kami memutuskan untuk beristirahat.

Kami pun tertidur pulas karena merasa capek, Tiba-tiba salah satu rombongan terbangun dan bercerita kalau dia mendengar suara tangisan dan minta tolong.

Kesalahan pada saat kami mengambil adalah tanpa meminta izin atau permisi dulu dengan penunggu sumber mata air tersebut.

Pagi pun tiba, dan matahari cerah sudah menyapa kami saat itu. Kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Welirang.

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami dengan rombongan 11 orang memutuskan untuk sarapan dan membuat minuman hangat karena suhu disana sangat dingin. Asik makan dan berbincang tiba-tiba salah satu dari rombongan bercerita kalau ia mendengar suara “lonceng” yang berbunyi sangat nyaring.

Tetapi hal itu di hiraukan dengan teman-teman, karena di anggap bercanda.

Perjalanan pun dimulai, kami menikmati pemandangan yang sangat indah. Meskipun diselimuti pemandangan yang indah, tetapi disisi lain kami merasa ada keganjalan.

Kami mendengar ada suara gamelan dan suara lonceng yang begitu nyaring, Tetapi yang paling menonjol adalah suara lonceng tersebut.

Saat kami telusuri tidak ada orang lain yang melewati jalan tersebetut kecuali rombongan kami, Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan melakukan do’a bersama agar perjalanan menuju puncak tidak ada rintangan apapun yang di inginkan.

Jalan menuju puncak memang sangat ekstrim, sehingga salah satu rombongan kami yang mendengar suara lonceng tersebut tersandung tangkai pohon dan mengakibatkan kakinya tergelincir.

Kami dan rombongan memutuskan untuk berhenti dan membangun tenda di tempat tersebut. Untungnya tempat yang kami bangun tenda tersebut bertanah rata. Setelah membangun tenda, kami menyuruh anak yang tergilincir tadi untuk beristirahat.

Ada beberapa anak yang menjaganya. Saat tidur, tiba-tiba anak yang tergelicir tadi bertiak seperti orang ketatukan.

Untungnya saat itu ada rombongan lain yang melakukan pendakian menuju puncak. Dengan sigap mereka mebantu rombongan kami dan menanyakan apa yang terjadi, kamipun menceritakan semua apa yang terjadi.

Yang kami kejutkan adalah orang tersebut bisa tahu kalau pada saat kami mengambil air, kami tidak meminta izin atau permisi dulu kepada penunggu disitu. Ternyata orang tersebut mempunyai kelebihan bisa melihat apa yang tidak bisa kami lihat.

Dia memberi saran kepada kami untuk tidak melanjutkan perjalanan sampai puncak karena akan saat membahayakan kami dan rombongan dan teman kami yang sedang kesakitan.

Akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjukan pendakian ke atas.

Saat turun kami dan rombongan mampir ke tempat sumber mata air tersebetut untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang kami perbuat. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang dengan selamat.

Pelajaran yang kami kutip dari pendakian tersebut adalah, jika kita ketempat apapun dan dimanapun itu harus permisi dan meminta izin dulu.

Karena setiap tempat pasti ada penunggunya. Dan menurut orang Jawa, Gunung adalah tempat dimana dulu para orang-orang kerajaan melakukan semedi. Jadi Gunung disebut juga dengan tempat suci.

Terimakasih sudah membaca

Semoga bermanfaat

REKOMENDASI UNTUK ANDA