oleh

Merajut Asa Persatuan

-Terbaru-861 views

Kita sudah menyelenggarakan perhelatan pesta demokrasi yang besar baik pilpres maupun pileg, dan pesta tersebut kini telah usai. Namun setelah perta demokrasi ada beberapa perspektif ditengah masyarakat yang mengisyaratkan seolah terjadi perpecahan diantara anak bangsa karena berbeda pilihan dan dukungan, saling ejek, dan saling caci maki di media sosial menjadikan nilai pesta demokrasi itu jauh dari kata persatuan.

Apalagi media sosial adalah tempat paling mutakhir untuk orang berbagi informasi, apapun yang sedang terjadi saat ini pasti tahunya dari media sosial karena sering sekali dikunjungi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Selama ini banyak upaya yang dilakukan untuk menjadikan pemilu sabagai arena menebar kebaikan dan menjadi contoh berdekmokrasi dengan benar. Tapi upaya tersebut nyatanya belum berhasil secara benar, tetapi juga tidak gagal sepenuhnya.

Alih-alih membuat reda problematika yang terjadi sebelum pemilu, mulai dari debat pilpres dan kampanye-kampanye pesta demokrasi.Justru yang tercipta berbagai konflik, dan meredukasi makna politik. Jadi cacat bawaan politik sudah terjadi dan tidak ada perubahan.

Dikepung  begitu banyak konflik perpecahan yang terjadi akibat narasi hoaks provokasi-provokasi yang tidak perlu, dan narasi lain yang mengemukakan konteks pemilu presiden. Itu yang membuat suasana di Indonesia saat ini semakin rusuh dan masalah menjadikannya sebuah kompleks. Hanya karena berbeda pilihan akhirnya kita jadi merasa tidak aman, kita sedang tidak terjajah mengapa persatuan kita jadi terancam. Yang menjadi lawan adalah anak bangsa sendiri, sama halnya kita melawan diri sendiri.

Seruan people power sudah berbeda makna, membuat kita seakan-seakan digiring untuk melawan pemerintah. Deklrasi sampah dimana-dimana menimbulkan kericuhan yang kian membara. Apa arti nyawa jika hanya gimik yang disajikan didepan media, dan malah membuat perpecahan yang ada.

Pesta demokrasi hanyalah sebuah mekanisme atau alat untuk menentukan siapa yang terbaik dari putra-putri terbaik ibu pertiwi untuk memimpin perjalanan bangsa ke depan dan siapapun yang terpilih, dialah yang dikehendaki oleh rakyat demi persatuan dan kemajuan bangsa. Dan semua rakyat seharusnya saling mendukung dan membantu demi terciptanya Indonesia yang lebih baik.

Tokoh politik seharusnya dapat memberi contoh terbaik kepada masyarakat dengan berdemokrasi secara konstitusional, bukan menyudutkan dan tuduh-menuduh, adu argumen didepan media. Masyarakat juga sebaiknya lebih bisa memilah-milah mana berita hoaks dan jangan mudah terprovokasi oleh isu-isu yang ada.

Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan tidak menyebar berita yang belum tentu kebenarannya. Ingat kembali tujuan kita berdemokrasi, berbeda pendapat boleh asal tetap ingat semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Seharusnya masalah ini harus segera diusut dan dituntaskan. Agar tidak timbul isu-isu hoaks di masyarakat. Setalah diusut masyarakat juga harus berpikiran terbuka dan tidak terlalu menyudutkan pihak yang nantinya bersalah, agar tidak timbul lagi perpecahan dan beda pendapat. Kita sudah jauh dari kata persatuan jika terjadi hal seperti ini lagi nantinya. Jika ingin berdemokrasi dengan baik, gunakan hak untuk bersuara sesuai dengan yang dianjurkan.

Penulis : Ajeng Febilianingtyas

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Ilmu Komunikasi

REKOMENDASI UNTUK ANDA