oleh

“Yakin masih mau pacaran?”

Pacaran adalah proses berkenalan yang dilakukan oleh dua orang untuk saling menilai atau memahami sifat maupun perilaku dari masing-masing individu. Tetapi anak muda jaman sekarang mendefinisikan pacaran itu menjadi sebuah ikatan sah, jadi mereka yang berpacaran merasa bebas melakukan hal-hal seperti saling memandang, bergandengan tangan, berpelukan, dan berciuman asal tidak didepan publik, padahal ini sangat dilarang dalam agama islam.

Didalam islam diajarkan yang namanya ta’aruf yaitu perkenalan yang dilakukan oleh lebih dari dua orang, dengan disertai tujuan dan maksud menyempurnakan agama yang mengacu ke jenjang pernikahan. Mengapa harus lebih dari dua orang? Karena jika hanya dua orang saja yaitu antara laki-laki dan perempuan maka hal ini akan menjerumus ke arah zina yang sangat dilarang oleh Allah.

Salah satu ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang larangan berpacaran adalah QS. Al Isro’ Ayat 32 yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. Pacaran mendekatkan pelakunya kepada zina dan bukan jalan yang baik dalam islam. Untuk itulah larangan berpacaran dalam islam dijelaskan dalam ayat ini untuk menegaskan perilaku tidak baik tersebut.

Sebenarnya di negara Indonesia juga terdapat larangan terhadap kebiasaan anak muda jaman sekarang ketika berpacaran, yaitu melakukan hal yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada di masyarakat, semua itu juga sudah diatur dalam UUD (Undang-Undang Dasar) melalui Pasal 76E UU 35/2014 mengatur sebagai berikut: “Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul”

Dalam UUD Pasal 281 angka 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) yang menyatakan: “Dihukum pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak Rp 4.500.000 barang siapa dengan sengaja di muka umum melanggar kesusilaan [1]”. Menurut R. Soesilo dalam buku KUHP Serta Komentar-komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal (hal. 204), kata “kesusilaan” dalam Pasal 281 angka 1 KUHP berhubungan dengan hal-hal yang terkait nafsu kelamin, misalnya bersetubuh, meraba buah dada seorang perempuan, meraba tempat kemaluan wanita, memperlihatkan anggota kemaluan wanita atau pria, mencium, dan sebagainya. Tetapi jika hanya duduk berdua dan hanya mengobrol saja tanpa adanya perbuatan asusila tersebut, maka tidak akan dijatuhi hukuman atas pasal tersebut.

Di jaman sekarang, pacaran merupakan tren atau hal yang umum bagi sebagian anak muda di dunia. Pacaran menjadi hal yang biasa dan menjadi sesuatu yang dibangga-bangga kan. Tidak seperti jaman dahulu yang jarang sekali ada yang menjalin hubungan dengan istilah berpacaran, orang tua jaman dahulu lebih sering menjodohkan anaknya dengan teman baik mereka . Tapi dirasa hal semacam ini kurang efektif untuk dilakukan di jaman sekarang, mereka merasa perjodohan akan meningkatkan resiko perceraian lebih tinggi, dikarenakan kedua individu tersebut belum kenal satu sama lain tiba-tiba dinikahkan begitu saja, dan setelah menikah mereka tidak merasakan kecocokan.

Berpacaran ini dilakukan oleh hampir semua kalangan, baik itu pelajar, mahasiswa, pekerja, bahkan orang yang sudah tak lagi muda juga ada yang berpacaran. Berpacaran seolah menjadi sebuah ikatan bukti resmi nya hubungan dua individu yang saling mencintai, padahal ikatan resmi yang diakui oleh agama dan negara hanyalah pernikahan. Orang yang tidak berpacaran dengan niat menjaga diri dipandang sebagai sesuatu yang aneh, disebut terlalu tertutup atau bahkan disebut sebagai orang yang tidak laku. Anak muda memberi nama orang ini dengan sebutan jomblo atau single.

Seperti contoh, ada sepasang anak SD yang sudah berpacaran dan memanggil satu sama lain dengan sebutan ayah dan bunda yang selayaknya dilakukan oleh pasangan suami-istri, padahal mereka masih anak dibawah umur yang belum memiliki anak, bahkan uang jajan atau uang saku mereka pun masih meminta dari orang tua masing-masing, bagaimana bisa mereka seenaknya memanggil satu sama lain dengan sebutan ayah-bunda? mereka juga sering memposting di facebook maupun instagram dengan pose berpelukan dan hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh anak SD yang masih dibawah umur. Anak-anak seperti ini sebaiknya harus lebih dirangkul, diberi pengertian dan diajari tentang kesopanan dan perilaku didepan umum oleh orang tua maupun guru pengajar mereka.

Di era millenial sekarang pacaran itu identik dengan laki-laki yang selalu membelikan barang untuk pasangannya. Sebenarnya haruskah hal seperti ini dilakukan oleh laki-laki tersebut? Jika diamati sebenarnya laki-laki ini tidak harus membelikan barang kepada pasangannya, tetapi sebagai seorang laki-laki, ia akan merasa bangga dengan dirinya sendiri karena telah membahagiakan pasangannya walaupun memang harga barang tersebut tak seberapa dan biasanya memakai uang orang tua, tapi mereka bahagia dengan hal itu.

Ini juga tergantung dengan pendapat pribadi masing-masing. Ada yang beranggapan bahwa laki-laki memang seharusnya bersikap seperti itu karena laki-laki dianggap sebagai seorang pemimpin yang harus menjadi tulang punggung keluarga kelak, menafkahi keluarganya dan lain sebagainya. Tapi juga ada perempuan yang tidak setuju akan hal tersebut karena itu tidak seharusnya dilakukan oleh laki-laki ini, karena ini hanya sebatas berpacaran saja, hanya sebatas berkenalan saja, belum menjadi pasangan suami-istri yang harus diberi nafkah oleh laki-laki tersebut, jadi alangkah baiknya jika sedang berjalan bersama membayar uang makan atau uang nonton sendiri-sendiri agar nanti jika kemungkinan putus kedua belah pihak tidak ada yang merasa dirugikan atau diuntungkan atas kesepakatan berpacaran tersebut. Untuk apa adanya kesetaraan gender jika hal seperti ini saja masih meminta kepada orang yang tidak wajib untuk memberikannya.

Putusnya hubungan percintaan atau berpacaran ini juga hal yang sangat mungkin terjadi. Banyak alasan tertentu yang menyebabkan putusnya hubungan tersebut, seperti sudah bosan satu sama lain, perselingkuhan, dan si perempuan yang terlalu baik untuk si laki-laki begitupun sebaliknya. Nah, anak muda jaman sekarang jika sudah seperti ini akan merasakan namanya galau dan lain sebagainya. Jadi alangkah baiknya jika kita sebagai generasi muda mendahulukan pendidikan terlebih dahulu, tingkatkan kualitas pendidikan setinggi mungkin, dan tingkatkan kualitas hidup dengan prinsip mandiri, inovatif dan dapat bermanfaat bagi orang lain, urusan jodoh biar Tuhan yang mengatur. Jika sudah berjodoh Tuhan pasti akan datangkan ia dengan cara yang indah.

Penulis : Rachma Sari Octaviani Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi
Penulis : Rachma Sari Octaviani Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi

REKOMENDASI UNTUK ANDA