oleh

Hati – Hati Milenial Dengan Gangguan Narsistik

Generasi milenial yaitu generasi yang kelahiran tahun 2000-an. Generasi milenial erat kaitannya dengan media sosial. Di tahun-tahun 2000-an perkembangan teknologi demikian pesat sehingga karakter generasi milenial yang lahir dan tumbuh di tahun-tahun 2000-an dibesarkan dengan akses informasi dan komunikasi yang demikian terbuka. Hidup di dalam dunia teknologi, para milenial ini banyak menghabiskan waktu di dunia maya.

Dengan adanya dunia maya atau media social gangguan jiwa bisa terjadi di kehidupan millennial. Salah satu indikasi seseorang mengalami gangguan kejiwaan ialah bisa dilihat dari tingkat kenarsisan seseorang di media sosial. Dalam dunia psikologi, terlalu narsis di media sosial disebut dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD). Yaitu gangguan kejiwaan yang dialami seseorang sehingga dirinya mengalami narsisme akut di media sosial.

Jadi jika kamu memiliki teman yang hobi selfie dan update status berlebihan, seperti lapar dikit update status, malas mandi update status, malam minggu diapelin update status, malam minggu gak diapelin update status, galau update status, bahkan dirinya lagi susah juga update status kamu boleh loh ajak dia ke dokter spesialis kejiwaan atau ke psikolog.

Orang yang suka narsis di media sosial megalami gangguan emosional yang tinggi. Gangguan kejiwaan narsisme atau narsis berlebihan merupakan gangguan kejiwaan yang serius. Biasanya gangguan kejiwaan narsisme dibarengi dengan karakter yang mudah emosional, lebih banyak berpura-pura, sombong, antisosial dan terlalu mendramatisir sesuatu. Dan Narsis berlebihan juga mengindikasikan jika seseorang mengidap psikopat. Psikopat merupakan salah satu gangguan kejiwaan yang sangat ditakuti sejak jaman dahulu. Efek yang ditimbulkan dari orang yang terjangkit gangguan kejiwaan psikopat sangatlah besar. Banyak kasus pembunuhan, pemerkosaan, dan mutilasi dilakukan oleh seseorang yang mengidap psikopat.Terlalu narsis di media sosial juga bisa mengidnikasikan jika orang tersebut psikopat. salah satu seseorang terindikasi mengalami gangguan kejiwaan psikopat ialah saat seseorang terlalu narsis di media sosial. Kenapa? Karena biasanya seorang psikopat cenderung anti sosial, tidak memiliki teman di dunia nyata, kurang perhatian di dunia nyata, memiliki kepribadian ganda (di dunia nyata kalem, tapi di dunia maya lantang), dan selalu menutup diri.Mereka yang mengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD), atau over narsis di media sosial adalah mereka yang di kehidupan nyata mengalami kesepian sosial, sehingga ia mencari pelampiasan di media sosial dan Biasanya seorang psikopat memiliki karakter ganda

Seorang yang mengidap psikopat, biasanya aktif di media sosial. Hal ini karena dirinya ingin menjadi pusat perhatian (egosentris). Tidak jarang mereka bikin sesuatu yang kontroversial agar bisa diperhatikan orang lain. Mereka juga kurang memiliki rasa empati terhadap orang lain, yang ia pikirkan hanya dirinya sendiri.

Selain beberapa gangguan kejiwaan terhadap media social ada juga dampak negative dan positifnya.

Dampak negatife

Generasi milenial gila gadget?  Ini mungkin yang paling sering di dengar. Dalam lingkungan pertemanan atau keluarga, Sering  juga mungkin kerap mendengar guyonan atau cercaan mengenai anak-anak muda yang tidak bisa lepas dari telepon pintar. Walaupun, kasus gila smartphone sesungguhnya tidak setinggi yang diperkirakan.

Melalui riset yang dikonduksi oleh International Republican Institute (IRI) membuktikan bahwa 48 persen responden mengaku nyaman jika harus melalui hari tanpa smartphone. Sementara, 45 persen mengaku mudah beradaptasi dengan teknologi baru, dan 29 persen lainnya menggunakan aplikasi telepon genggam untuk pembayaran.

Berbagai perilaku banyak yang muncul dan bahkan menjadi sebuah kebiasaan bagi millennials, tentunya ada yang positif dan negatif. Generasi milenial saat ini berkembang ke arah yang lebih buruk. Mereka narsis, penggila gadget, egois, dan manja.

Dampak negatif generasi millennial adalah  gangguan narsisistik dan memiliki eksistensi tinggi di dunia medsos hampir 3 kali lipat ditemukan pada orang-orang usia 20’an dibanding generasi yang kini berusia 65 tahun ke atas.

Dampak negatife lainya yang terjadi mereka menghabiskan waktu semakin banyak untuk online demi mendapatkan rasa senang, yang berarti media sosial menjadi satu-satunya aktivitas yang membuat mereka terikat. Hal ini juga berarti mengambil perhatian mereka dari tugas-tugas lainnya, membuat mereka merasa tidak senang ketika mengurangi atau berhenti berinteraksi dengan media sosial dan segera kembali ke media sosial setelah berhenti total.

Perhatian juga harus ditujukan terhadap efek media sosial terhadap tidur dan aktivitas offline lainnya, termasuk berinteraksi dengan orang lain secara tatap muka. Kecanduan media sosial pun terkait dengan depresi dan kesepian. Para milenial sering mengecek profil media sosialnya dan melakukan update. Hal Ini membuat mereka lebih rentan terhadap eksploitasi online dan meningkatkan pengambilan keputusan yang berisiko. Dengan melakukan update ke media social sebagian orang mengandalkan kemampuan berpikir, merasa, dan berperilaku untuk membentuk citra diri. Tetapi, masalahnya dengan media sosial adalah citra diri bergantung sepenuhnya pada orang lain dan opini mereka.

Medsos bisa saja membuat mereka tumbuh menjadi orang yang individualis karena menggunakan jejaring sosial ini tanpa tahu waktu, malas berkomunikasi di dunia nyata yang tentu saja berpengaruh pada kemampuan pemahaman bahasa mereka, membuat mereka lebih mementingkan diri sendiri, dan membuat mereka mudah menggunakan bahasa kurang sepantasnya yang pada akhirnya menyebabkan pertikaian.

Tak jarang kita menemukan kata-kata kurang pantas yang di lontarkan oleh remaja di media sosial. Biasanya warganet memanggil mereka dengan sebutan “bocah”, yang merupakan ungkapan untuk seseorang dibawah umur. Di media sosial mereka tak segan untuk mengungkapkan kata-kata kotor dan jorok seperti ungkapan makian dan menyebut alat kelamin yang tidak pantas dilontarkan.

Dampak Positif

Dampak positif yang ada di media social barangkali sudah disadari oleh para penggunanya. berinteraksi secara aktif dengan orang-orang, terutama saling berkirim pesan, posting, dan komentar dengan teman-teman dekat, akan mengenang kembali tentang interaksi di masa lalu, sisi ini paling tidak terkait dengan peningkatan kesejahteraan.

Banyak di antara kita tertarik dengan facebook, atau media sejenisnya, karena kemampuannya untuk terhubung dengan sanak saudara, teman sekelas dulu, dan rekan bisnis.

Dengan media social bisa tetap memiliki hubungan dengan teman-teman dekat, orang-orang terkasih, dan tentunya teman baru, membuat kita merasa benar-benar gembira dan memperkuat jalinan rasa kebersamaan. adanya dukungan sosial yang lebih, terhindar dari depresi, dan rasa kesepian. Efek positif ini bahkan akan lebih menguat ketika seseorang berinteraksi dengan teman dekat secara online. Jadi tidak cukup hanya sekedar menyiarkan pembaruan status, orang harus berinteraksi satu lawan satu dengan orang lain di jejaring media sosial. Sehingga, interaksi aktif dengan sesama pengguna akan sangat memberikan manfaat positif. Media social juga bisa untuk  mengenang interaksi yang penuh makna dengan orang-orang di masa lalu, melihat foto-foto dan berbagai komentar dari teman-teman, serta merefleksikan postingan masa lalu seseorang, di mana seseorang itu mencoba menampilkan dirinya sendiri kepada dunia.

Hal positif lainya yaitu bisa memanfaatkan medsos ini untuk mengembangkan hobi atau kegemaran, baik di bidang seni, olahraga, bisnis, dan lain-lain.

Mereka dapat berwirausaha melalui medsos dan mengembangkan ide-ide usaha kreatifnya. Hal ini tentu bagus untuk membuat mereka menjadi generasi yang produktif. Produktivitas semacam ini tentu saja dapat mendorong pertumbuhan ekonomi negara.

Selain itu, mereka juga dapat berpartisipasi dalam menyalurkan kreativitas dan inovasi, mengurangi tingkat kenakalan remaja, menambah khasanah budaya, meningkatkan budaya menulis dan menambah ilmu pengetahuan. Manfaat positif ini pastinya membentuk karakter yang positif bagi mereka sebagai generasi muda yang sedang tumbuh dan pionir masa depan bangsa.

Akan tetapi, di sisi lain jika tidak disikapi dengan tepat, penggunaan medsos ini juga dapat membentuk karakter yang kurang baik. Apalagi, bagi mereka yang masih tergolong remaja yang masih belum memiliki kontrol yang baik atas diri mereka sendiri.

Kelebihan Generasi Milenial dalam Pemberdayaan Pekerja?

Satu hal yang membedakan generasi milenial dengan generasi sebelumnya yaitu mereka mementingkan kreatifitas.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Bentley University mengkonduksi mengenai aspirasi karir millennial. Hanya 13 persen mengaku mimpi mereka dalam karir adalah menjadi bos perusahaan tempat mereka bekerja. Sedangkan, 67 persen menjawab target mereka adalah untuk memulai bisnis sendiri.

Millenial mencari kericuhan, dan memiliki kewaspadaan terhadap resiko dipecat dan kehidupan monoton yang terpaku dalam aktifitas kantor. Hal ini membuat mereka merasa bisnis menjadi pilihan. Generasi milenial saat ini tidak takut dengan resiko dan suka kekacauan buat mereka menganggap, kegagalan dalam berbisnis lebih baik dibanding duduk di kantor selama 20 tahun. Memulai perjalanan untuk mengembangkan ide sendiri akan memberi mereka pelajaran hidup.

Dengan berjalannya waktu Generasi milenial inilah juga yang ke depannya akan menjadi pemutar roda ekonomi Indonesia karena mereka adalah konsumen terbesar dari semua produk maupun jasa yang mereka kembangkan . Apabila kita menengok perekonomian Indonesia yang masih didorong oleh tingginya proporsi konsumsi rumah tangga  dan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi, dapat diketahui bahwa generasi milenial ini akan menjadi turbin yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020-2030 mendatang.

wong
Penulis : Rifky Mawar Lelyta mahasiswa universitas Muhammadiyah sidoarjo – ilmu komunikasi

REKOMENDASI UNTUK ANDA