oleh

Tamzil : BBWS Pemali-Juana Percepat Pembangunan 3 Embung PDAM Kudus

Kab.Kudus,bratapos.com – Bupati Kudus HM Tamzil mendesak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk segera membangun embung guna pemenuhan air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang akan disalurkan ke masyarakat. Itu dilakukan setelah pemkab mengajukan tiga lokasi pembuatan embung.

Tiga titik lokasi yang menjadi sasaran ajuan ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana di antaranya, Dukuh Pututan dan Dukuh Tutup, Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kudus serta di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kudus.
Bupati Kudus HM Tamzil mengatakan, tiga lokasi tersebut adalah pilihan tentatif. Jika saat dilakukan pengkajian tetapi hasilnya tidak cocok untuk pembangunan embung, maka pemkab siap mencari lokasi yang pas dan sesuai kriteria BBWS.
Arahnya setelah usulan diterima dan dilakukan penngkajian,” terang Tamzil.
Pihaknya sendiri telah melakukan pengajuan secara personal pada Kepala Satuan Kerja (Satker) Pembangunan Bendungan BBWS Pemali Juana, Ign Carya Andi. Tamzil menyebut BBWS telah setuju secara verbal, namun masih perlu dilakukan pengkajian untuk membangun sebuah embung.
“Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi jika sebuah lokasi akan dibangun embung,” ucapnya.
Salah satunya adalah terkait kontinuitas air. Hal tersebut akan berdampak pada pengisian air pada embung nantinya. Masa eksistensi air dalam embung juga diharuskan untuk dikaji terlebih dahulu sebelum membangun embung.
“Jadi apakah embung tersebut bisa menyuplai pasokan air secara berkesinambungan,” lanjutnya.
Tamzil mencontohkan Waduk Logung yang berlokasi di perbatasan Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe dan Desa Tanjungrejo Kecamatan Jekulo. Di Logung, alokasi air baku yang tersedia ada di angka 200 liter per detik. Yang diproyeksikan menambah sekitar 20 ribu pelanggan air bersih.
“Tahap pertamanya pembangunan jaringan titik lalu diarahkan ke instalasi pengolahan air (IPA) baku sebelum disalurkan ke pelanggan,” tandasnya.
Direktur PDAM Kabupaten Kudus, Ayatullah Humaini menyambut baik hal tersebut. Air permukaan sebagai air baku untuk pelanggan dianggap menjadi solusi kelangkaan air bawah tanah (ABT) di masa yang akan datang.
“ABT lambat laun akan habis, mengingat pelanggan saat ini berjumlah 45 ribu SR,” kata Humaini.
Humaini menambahkan, butuh waktu lama untuk mengembalikan ABT pada kualitas tertingginya. Karena itu air permukaan dianggap menjadi salah sau alternatif pemenuhan kebutuhan air baku di masa depan.
“Seiring waktu bisa dipakai beriringan, Sumur ABT bisa digunakan untuk kondisi darurat,” lanjutnya.
Pihaknya merencanakan, pengelolaan sumber air permukaan sudah mulai dilakukan pada tahun depan. Sumber utamanya adalah dari Waduk Logung. “Sembari menunggu pengkajian terkait pembangunan embung yang lain, kami upayakan pemaksimalan yang ada terlebih dahulu,” tandasnya.
Reporter :  kabiro_Pati
Editing : Wo

REKOMENDASI UNTUK ANDA