oleh

HAL INI BISA MEMICU KERENTANAN KELUARGA

-Terbaru-402 views

Padang Sumatara Barat , Bratapos.com – Kehidupan berumah tangga selalu ada dinamika berupa permasalahan dan tantangan silih berganti. Bahkan bisa dikatakan, kehidupan keluarga tidak pernah sepi dari permasalahan dan tantangan, baik dari dalam maupun dari luar.

Terdapat sejumlah hal dalam keluarga yang diidentifikasi sebagai faktor-faktor resiko yang berpotensi memunculkan permasalahan dan tantangan, sehingga memunculkan kerentanan dalam keluarga. Faktor-faktor resiko ini berbeda antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lainnya.

Saya menyebutkan enam faktor resiko , yaitu kemiskinan, pengangguran, perceraian, kematian, penyakit kronis, dan ketidaksuburan reproduksi. menambahkan faktor perkembangan teknologi, sosial, budaya dan politik sebagai sumber stres kolektif yang secara langsung mempengaruhi kehidupan serta kondisi keluarga.

Kemiskinan yang teramat sangat, akan memberikan dampak tekanan kehidupan pada semua anggota keluarga. Mereka tidak mampu hidup secara layak, bahkan dalam memenuhi kebutuhan yang sangat mendasar : pangan, papan, sandang.

Dalam situasi kemiskinan yang sangat menyulitkan, keluarga benar-benar menghadapi tekanan yang sangat berat.Pada pasangan yang tidak memiliki daya resiliensi, kemiskinan mudah menyulut konflik hingga sampai tingkat perceraian.

Kemiskinan adalah faktor penyebab perceraian yang cukup tinggi di Indonesia. Pengangguran

Persaingan dunia kerja yang semakin keras menimbulkan risiko pengangguran yang lebih besar. Bukan hanya pada mereka yang tidak berpendidikan, risiko ini bisa menimpa orang-orang dengan pendidikan tinggi sekalipun, karena tidak berhasil mendapatkan job yang sesuai dengan kapasitas keilmuannya.

PHK permanen pada berbagai perusahaan semakin menambah angka pengangguran. Suami yang biasa bekerja mapan, mendadak berhenti bekerja karena PHK, bisa menjadi stressor berat. Suami yang menganggur di rumah, bisa menjadi pemicu masalah lebih lanjut dalam kehidupan berumah tangga Perceraian.

Perceraian menimbulkan tekanan kejiwaan baik pada pihak suami, istri maupun anak – anak.

Kebersamaan yang sudah dinikmati selama bertahun – tahun, harus rusak oleh persoalan tertentu yang berdampak perceraian.

Setelah bercerai, masalah muncul lagi pada masing -masing anggota keluarga, terlebih pada anak -anak. Mereka bisa mengalami alienasi, keterasingan, kesepian, kehilangan figur, kehilangan kehangatan, karena perubahan pola dalam kehidupan. Yang semula berada dalam kondisi keluarga yang utuh, setelah bercerai menjadi tidak lagi utuh. Anak-anak paling rentan mengalami faktor resiko tekanan kehidupan setelah orang tua bercerai.

Kematian Anggota Keluarga Kematian salah satu atau beberapa anggota keluarga menimbulkan tekanan dan persoalan kehidupan. Kehilangan orang yang dicintai bisa menjadi penyebab stres dalam waktu panjang dan memengaruhi kestabilan kehidupan keluarga. Ditinggal mati suami, ditinggal mati istri, anak, atau orang tua, bisa menjadi faktor pemicu stres yang harus disiapkan dan dikelola dengan baik.

Pada pribadi dan keluarga yang memiliki resiliensi tinggi, kematian salah seorang dari anggota keluarga tidak akan menimbulkan stres berkepanjangan.

Mereka bisa bersikap dengan matang dan dewasa, sehingga kesedihan yang muncul tidak sampai berlarut-larut.Penyakit Kronis

Penyakit kronis dan parah yang diderita salah satu atau beberapa anggota keluarga bisa menjadi sumber stres yang berkelanjutan. Pada contoh suami sebagai tulang punggung ekonomi keluarga, apabila mendadak mengalami penyakit parah yang membuatnya tidak mampu bekerja produktif, akan sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup keluarga.

Istri dan anak-anak bisa mengalami stres karena kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi, Demikian pula pada contoh istri yang mengalami penyait berat yang membuatnya tidak mampu melayani suami, bisa menjadi tekanan berat bagi suami. Daya resiliensi pribadi maupun sang istri.

Reporter : Zaherman A.md

Editor : dr

REKOMENDASI UNTUK ANDA