oleh

Petani Pandeglang Menjerit Kesulitan Menjual Hasil Panen Ke Bandar Padi

PANDEGLANG.Bratapos com – Para petani di daerah Pandeglang Kecamatan Panimbang Sobang dan Kecamatan Sukaresmi sangat kesulitan menjual hasil panen padi, sehingga merasa bingung untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, serta pembiayaan sawah yang membutuhkan modal di tambah biaya untuk idul Fitri tahun 2019.

Hal serupa yang dialami oleh petani di Kampung Berebes Kecamatan Panimbang bapak Subana dan bapak Samid, merasa bingung karena para bos padi belum bisa membeli dengan alasan,” ga ada uang karena padi yang sudah di olah jadi beras susah dijual.

“Kami pun menanyakan kepihak para bandar padi/tengkulak, perihal tersebut benar adanya,” seperti ucapan pak H Carketi salah satu Bos padi yang beralamat di Kampung Solodengen, Desa Panimbang Jaya.IMG-20190519-WA0033

Informasi tersebut serupa disampaikan oleh Gapoktan Sobang bapak Darman bahwa Bulog sebagai mitra dan kepanjangan petani.

” Maka perlu campur tangan bulog untuk membantu petani, dalam mengatasi permasalahn petani,” jelasnya.

Disamping itu Bapak Pajar selaku Staff Bulog wilayah Pandeglang dan Lebak menyampaikan dengan kondisi petani saat ini perlu dukungan dan suport.

” Sementara ini tidak menerima beras dari mitra dengan alasan Bansos Rasta ada perubahan sistem, yakni Bantuan Pangan Non Tunai atau yang disebut (BPNT),” ujarnya.

Pada kesempatan ini para petani berharap kepada pemerintah khususnya dinsos, untuk menerima kembali hasil panen padi para petani.

Karena untuk memenuhi kebutuhan pada kesempatan ini para petani merasa dirugikan setelah pihak Dinas Sosial menutup dengan adanya perubahan dari Bansos Rasta ke BPNT.

Sebelumnya harga padi kisaran 4700 per kilo setelah penutupan pihak Dinas Sosial harga sekarang dengan harga 3500 per kilo, itu sulit menjual kepada bandar/ tengkulak padi, sehingga para petani menjerit & sulit untuk kebutuhan hidup.

Sedangkan mayoritas penduduk Pandeglang di 3 Kecamatan tersebut 70 % adalah petani, yang berpenghasilan dari padi/gabah sebagai alat pertukaran kebutuhan kehidupan.

Seandainya Dinas Sosial merealisasikan program tersebut dari bansos rasta, ke bantuan pangan non tunai (BPNT) secara langsung para petani dirugikan.

Sebagai berikut yang dibutuhkan oleh BPNT adalah kualitas beras premium, sementara yang dihasilkan oleh petani 3 kecamatan adlh beras medium. Kini para petani berharap kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk menerima secepatnya membeli padi/ gabah, supaya perekonomian kembali normal. Serta mengkaji ulang program BPNT, yang secara langsung tidak berpihak kepada petani di Pandeglang selatan. Seandainya Dinas Sosial program BPNT, direalisasikan para petani akan mengadakan Demo besar ke pihak Bupati mau pun Dinas Sosial.

Reporter : Iman S / Red

Editing : Wo

Publisher : Redaksi

REKOMENDASI UNTUK ANDA