oleh

KAYU ARANG ILEGAL MARAK DI LANGKAT.PEMDA LANGKAT TUTUP MATA

SUMUT , Bratapos.com – Tim Investigasi bratapos danLI-TPK ANRI Bambang S, SH didampingin Ketua LKLH Sumut Indra Mingka beserta Tim melakukan Investigasi Khusus hari Sabtu 12 Mei 2019 ke daerah Pematang Jaya Kabupaten Langkat untuk Menelusuri Pembabatan Kayu Bakau. Setelah diselidiki ternyata hutan bakau tersebut kayunya dijadikan arang kayu.lokasi produksi ini berkedok izin resmi dari pemerintah Daerah setempat akan tetapi diduga illegal.

Sekitar jam 12.00 Wib Tim sampai ke desa Serang Jaya dan langsung melakukan pemantauan di sungai buluh.Ditemukan sekitar belasan Dapur arang yang sedang beroprasi membakar kayu laut, tumpukan bahan baku kayu laut yang belum dibakar dan tumpukan kayu laut yang sedang dibakar untuk dijadikan arang,tumpukan goni berisi arang yang siap dikirim ketengkulak pengumpul untuk siap di edarkan ke pasaran. Hal ini menjadi tanda tanya besar dari tim yang sedang melakukan investigasi, karena saat menanyakan hal ini kepada masyarakat sekitar dapur pembakaran arang ditemui ada kejanggalan? Terdapat dalam satu induk pengerajin kayu bakar mengatas namakan Koperasi sedangkan

Disisi lain merupakan industri perseorangan. tim LKLH menanyakan asal usul dari mana kayu bakau tersebut,pemilik di yang tak mau disebutkan namanya menjawab

” kayu ini berasal dari hutan bakau yang diambil secara sembarangan pak,yang penting bisa dibakar dan bisa jadi arang.”

KemudianTim menemui salah seorang pekerja disekitar dapur kayu arang, sudah berapa lama bekerja dapur arang, beliau menjawab “sudah tahunan dan asal kayu laut (Bakau) berasal dari hutan sekitar sinilah”

Belasan dapur arang dari 3 lokasi kita temukan semua aktif.Bahan Baku Kayu Laut diambil dari hutan bakau oleh pengumpul.

Mereka para pengumpul itu bernaung dibawah Koperasi yang katanya punya izin dari pemerintah terkait untuk melakukan pengambilan kayu laut dihutan bakau.

Ukuran batang kayu laut masih kecil berdiameter 2 cm dan ada juga ukuran 4 cm. Tapi dominan kecil kecil semua.

“Distribusi kayu laut yg sudah jadi arang tersebut dimasukkan ke dalam goni 20 Kg lalu di jual ke Koperasi, dari Koperasi dibawa ke pangkalan susu.”papar salah seorang pekerja.

Ada lagi pengumpul lain yang bersedia membeli kayu arang Juga yaitu kepada warga berinisial “A” penduduk desa Serang Jaya.

Analisa Ketua DPW Lembaga Konservasi Lingkungan Hidup Sumut Indra Mingka ada beberapa Hal :

“Bahwa Ukuran Kayu Laut Yang Dipanen rata-rata memiliki ukuran kecil dan diyakini dibabat walau tidak cukup ukuran,Para Pengumpul Kayu Laut Tidak Memiliki Peta Areal Kerja dan Memegang IUPHK HTR ( Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kayu Hutan Tanaman Rakyat),pemerintah daerah dan instansi terkait perlu adanya tata kelola Areal HTR yang sudah memiliki IUP”.

Bambang S, SH Ketua DPP LI-TPK ANRI (Lembaga Investigasi Tindak Pidana Korupsi Aparatur Negara RI menerima laporan dari warga Langkat langsung turun dari Jakarta dan terjun ke lapangan.

Beliau terkejut melihat kayu laut atau mangrove yang diolah jadi arang ukurannya kecil sekali, ini namanya bukan tebang pilih tapi tebang habis.

Disisi Lain diduga Perambahan Kayu Laut semakin marak di Langkat, “Atas temuan ini,saya mendesak UPT KPH Wilyah I Langkat untuk Lakukan Pengawasan dan Pembinaan Agar dilapangan para pemanfaat kayu laut atau mangrove bisa tebang pilih dan lebih lanjut kita akan Surati Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melaporkan hal ini” Ucap Bambang S, SH.

Reporter : fatur

Editor : dr

REKOMENDASI UNTUK ANDA