oleh

Dengan Setetes Air Matu “Menunggu ” Uluran Tangan “Dari Pemerintah”

KABUPATEN AGAM ( Sumbar ) , BrataPos. com – PROGRAM Kartu Indonesia Pintar (KIP) merupakan salah satu program unggulan Presiden Jokowi dalam bidang pendidikan yang dijanjikan saat kampanye Pilpres 2014 lalu. Program ini bertujuan menghilangkan hambatan anak usia sekolah secara ekonomi untuk berpartisipasi di sekolah. Dengan demikian, mereka memperoleh akses pelayanan pendidikan yang lebih baik, mencegah murid mengalami putus sekolah, serta mendorong anak yang putus sekolah kembali bersekolah.

Banyak pihak, terutama awam sering bertanya apa perbedaan BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dengan KIP. BOS, sesuai namanya, merupakan bantuan bagi kelancaran operasional sekolah. BOS ditujukan kepada lembaga (sekolah) yang diberikan kepada semua. Program Indonesia Pintar melalui KIP merupakan pemberian bantuan tunai kepada seluruh anak usia sekolah (6-21) yang berasal dari keluarga miskin dan rentan atau anak yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

Program ini penyempurnaan program Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang diberikan sejak akhir 2014. Pesan inti yang ingin disampaikan melalui KIP ini ialah menghindarkan anak meninggalkan sekolah akibat tidak memiliki biaya. Adapun mereka yang sudah telanjur meninggalkan sekolah dapat kembali ke sekolah. Tidak ada alasan ekonomi lagi mereka tidak bersekolah sebab kebutuhan bayaran sekolah dicukupi dana BOS, sedangkan kebutuhan dana personal dicukupi

KIP dimaksudkan mendukung penuntasan Program Wajib Belajar Sembilan Tahun”.

Namun ironisnya” Satu Keluarga Miskin ini ” yang Bernama ” Syamsibar ” Kelahiran ( 14/11-1973 ) ini yang tinggal Punduang — Tangah Jorong — Punduang Kecamatan Ampek Nagari Kabupaten – Agam — Sumatara Barat ( Sumbar ) Menpunyai Satu Orang Istri dan menpunyaai tiga orang Putri ‘

Anak tertua Syamsibar’ yang bernama Destri Romatul Laili yang bersekolah di SMP 4 Ampek Nagari kelas V111 Satu ( Delapan satu ) tidak pernah mendapakan batuan dari pemerintah daerah mawupun .pemerintah pusat Padahal Destri Ramatul Laili selalu mendapakan juara umum”

Anak kedua Serta Anak ketiga” Syamsibar yang Bersekolah di SD.N 08 Malabur duduk di bangku kelas 5 ( lima ) dan kelas 2 ( dua ) pun tak pernah pula mendapakan batuan dari pemerintah daerah mawupun perintah pusat alias bernasib yang Sama Seperti kakak nya pun”

Sementara itu”Penuturan Anak tertua Syamsibar Destri Romatul lLaili Kamis tanggal (.2 / 5 – 2019 ) Pukul 16 – 00 wib di kediamanya Destri berharap kepada pemerintah pusat pemerintah daerah Agar bisa mencari jalan keluar buat biaya sekolah kami”

Sementara itu “Syamsibar di temuai oleh awak media ini kamis “di kediamanya 2 / 5–2019 pukul 16-00 wib dalam keadaan mengeluarkan setetes Air mata” Menyapaikan Segala daya Upaya Sudah Saya lakukan” Termasuk Mengurus Kartu indonesia pintar buat keperluan anak saya bersekolah Namun ironisnya perjalanan Saya buntu”

Di tambahkan lagi penuh harapan kami Sekeluarga” pada pemerintah pusat serta pemerintah daerah buat mencari jalan keluar buat keluarga kami “Agar – Anak– Anak bisa bersekolah Seperti Anak–Anak lainya “ujarnya Syamsibar Sambil mengeluarkan Setetes Air mata”

Di tempat terpisah Salah Seorang warga ” Setempat yang ngak mawu di Sebutkan namanya” Mengatakan Saya meliat Sudah Selayaknya Keluarga Syamsibar ini” mendapakan Perhatian Seriyus” Dari pemerintah pusat mawupun pemerintah daerah, Pasalnya Diduga Selama ini keluarga Syamsibar tidak pernah Ada perhatian yang Seriyus dari pemerintah daerah mawupun pemerintah pusat””ujarnya”

Reporter : MAN

Editor : zai

Publisher : Redaksi

REKOMENDASI UNTUK ANDA