oleh

Merasa Tersudut Atas Keterangan Saksi, Terdakwa Dirut PT KH Terlihat Emosi

GRESIK, BrataPos.com – Sidang perkara penipuan, yang menyeret Muis Al Fhadi (29), Direktur (Dirut) PT Kavling Hijau (KH), kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Gresik. Kamis, (4/4/2019).

Sidang yang diketui oleh majelis hakim Eddy itu, mengagendakan keterangan saksi korban. Kali ini sebanyak tujuh orang. Berdasarkan fakta persidangan, mayoritas saksi korban mengaku hanya mendapatkan janji dari pihak PT KH. Namun, janji tersebut tidak pernah terealisasi.

Padahal, mereka sudah membayar lunas uang pembelian tanah. Ada yang satu kavling Rp 35 juta, ada juga yang dua kavling Rp 71 juta. Tetapi, tak kunjung proses realisasi dan pembangunan.

“Kami hanya diberikan janji terus. Tapi tidak pernah terbukti. Sampai sekarang pun hanya janji dan jani,” kata Andria, salah satu saksi.

Mereka mengaku percaya dengan jual kavling itu. Karena selain harganya murah, juga keberadaan PT KH diketahui, atau ada kantornya. Bahkan, jika tidak terealisasi uang pembelian akan dikembalikan. Dengan jangka waktu enam bulan.

“Awalnya kami tidak tahu kalau lahan itu bermasalah. Setelah semuanya tahu kami ramai-ramai minta pertanggung jawaban. Karena tidak ada respon, kami lapor ke Polres Gresik,” ungkap saksi korban yang lain.

Arifah, juga menjadi korban penipuan mengaku diberi waktu satu tahun, proses realisasi akan dilakukan. Dia membeli dua kavling seharga Rp 70 juta. Sebelumnya sudah membayar DP Rp 1 juta. Dia mengaku mendapat informasi tersebut dari tetangganya.

“Tapi suami saya yang lebih tahu. Karena dia yang sering ikut kumpul dan datang ke kantor itu (PT KH, Red). Berdasarkan gambar lokasi kavling sangat bagus. Namun, setelah dilihat ke lokasi, tidak sesuai dengan fakta,” sambung dia.

Selalu ada yang menarik saat sidang lanjutan kasus penipuan oleh Dirut PT KH, warga dusun Munggu, Rt.004 Rw.001 desa Munggugianti, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik.

Seperti pertanyaan Jaksa diketahui Alifin N Wanda, mempertanyakan pada ke-7 saksi. “Jika kalian mengetahui bahwa tanah yang di jual itu bermasalah apa kalian masih tetap membelinya?,” tanya jaksa pada ke-7 saksi yang dihadirkan.

Para saksi dan terdakwa ketika diperlihatkan bukti oleh hakim/foto jamal
Para saksi dan terdakwa ketika diperlihatkan bukti oleh hakim/foto jamal

Pertanyaan itu seketika di potong oleh Ketua Majelis Hakim Eddy. “Tolong jangan bertanya yang sifatnya menjerat. Pertanyaan anda itu bersifat menjerat. Pasti semua menjawab tidak kalau mengetahuinya,” potong Eddy.

Sama halnya beberapa saksi saat ditanya Hakim. Rata-rata mereka menjawab ‘kira-kira’. Hal itu juga disangkal oleh majelis hakim. “Kalau menjawab jangan kira-kira, hukum tidak mengenal kira-kira,” kembali Eddy memotong.

Saksi Hendi dan Handaria menyatakan lahan tersebut merupakan lahan hijau. Mereka baru sadar jika kavling yang dibelinya sulit mendapatkan sertifikat. “Lahan hijau itu sertifikatnya sulit dipecah, saya minta uang dikembalikan saja,” terang Hendi.

Sementara Wagiman, Kuasa Hukum terdakwa Muis Al Fhadi juga memberi pertanyaan pada saksi. Sebelumnya PT KH sudah memberikan tawaran akan di ganti lokasi lain. “Namun mereka semua tidak sepakat dan minta uangnya dikembalikan,” katanya.

Sambil ketuk palu. Majelis hakim Eddy menutup sidang. Akan dilanjutkan pekan depan dengan pemeriksaan saksi. Terdakwa Muis didampingi penasehat hukumnya Wagiman langsung keluar ruang persidangan.

Reporter : jml
Editor : nr
Publisher : redaksi

REKOMENDASI UNTUK ANDA