by

Polres Pasuruan Respon Penanganan Kasus Depot Marinda

Pasuruan , Bratapos.com – “Lelaki asal Jalan Siwalankerto Selatan Surabaya Arman Arifin resmi kembali dilaporkan oleh pemilik Depot Marinda, langsung kepada Kapolres Bangil pada tanggal 29 Januari 2019

Menurut Advokat Zaibi Susanto.SH.MH sebagai kuasa hukum korban mengatakan ke awak media, melalui bagian Admin Polres di lantai 2, Arman Arifin dilapor pidanakan terkait dengan dugaan  tindakannya memasuki pekarangan orang lain dengan melawan hukum sebagaimana yang diatur dan diancam dalam Pasal 167 KUHP. Arman Arifin dilaporkan oleh pemilik depot Marinda ke polisi karena memasuki pekarangan dengan melawan hukum menagih hutang tanpa alas hak dan tidak didasari hukum yang kuat.

Sebagaimana berita yang pernah di lansir di sejumlah koran dan media sosial santer di bicarakan di masyarakat pasuruan terkait dengan peristiwa sebelum tgl 10 Juni 2018 sebulan lalu tepatnya tgl 11 Mei 2018 dimana telah terjadi peristiwa perampokan dan pengrusakan barang yang diduga dilakukan oleh Arman Arifin dkk, ketika itu disaat tuan rumahnya tidak berada di rumah karena sedang berada di Makassar. Bahwa lelaki Arman Arifin mengakunya pernah membeli Depot Marinda sebesar 2 Milliar namun sebaliknya Andi Hasdawati selaku pemilik depot Marinda merasa tidak pernah mengenal lelaki yang bernama Arman Arifin dan tidak punya hubungan apapun,

Hasda sebegai pemilik Marinda juga mengatakan,bahwa dirinya tidak pernah menjual depotnya kepada siapapun. Saya tidak pernah kenal sebelumnya dengan orang itu dan saya benar-benar tidak ada hubungan apapun dengan lelaki itu, saya tidak pernah menjual depot saya kepada siapapun, demikian penjelasan Hasda ketika di konfirmasi oleh sejumlah awak media tentang peristiwa yang menimpanya pada tanggal 11 Mei 2018 lalu.

Hasda banyak kehilangan barang yang digondol oleh orang-orangnya Arman sebanyak 1 unit Truk dengan kerugian yang dialaminya sekitar Rp. 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah). Banyak barang-barang dirusak dan sejumlah dokumen penting punya suami saya hilang.

Peristiwa pencurian dengan bersama-sama dan pengrusakan yang dilakukan diduga oleh Arman Arifin dan kawan-kawan pada tanggal 11 Mei 2018 itu berhasil membawa barang-barang sebanyak satu unit Truk yang diambil 2 sofa, 4 Springbad, 3 Almari beserta isinya yang didalamnya terdapat baju-baju, sejumlah perhiasan Emas dan Berlian, Meja Makan, Kursi Makan, Meja Hias, Mesin Cuci 5 buah Kopor besar dan lain-lain.Ketika peristiwa itu terjadi suami  pemilik Depot Marinda Ridwan saleh  sedang berada di Makassar dan memohon dengan penuh harap kepada Kapolsek kejayan ketika itu melalui telephone selular agar tindakan Arman Arifin di stop karena apapun alasannya surat-surat yang dibawahnya diduga adalah Akta Notaris abal-abal.

Ridwan saleh juga menjelaskan,Berselang sebulan kemudian tepatnya pada tanggal 10 Juni 2018 Arman Arifin dan kawan-kawan sekitar 20 orang kembali lagi beraksi dengan mendatangi pemilik depot Marinda dengan maksud menagih hutang namun pemilik depot Marinda berang dan sangat marah karena dirinya tidak mempunyai hutang dengan Arman apalagi jual beli rumah. Wanita sang pemberani yang sehari-harinya dipanggil Andi Hasda itu, dengan hanya seorang diri yang didampingi oleh sejumlah anggota  LP.KPK berani melawan puluhan preman dan terbukti Hasda sanggup dan nekat melawan dan mempertahankan harta benda miliknya dari rencana pengosongan paksa dari orang yang tidak dikenalnya itu. Arman ketika itu datang dengan maksud untuk melakukan pengosongan paksa atas depot Marinda namun dilawan oleh seorang wanita yang bernama Andi Hasda yang benar-benar orang lain terkagum-kagum dan mengakui keberaniannya dan akhirnya rombongan preman itupun bubar kembali ke Surabaya. Beruntung sebab ketika itu tidak sempat terjadi kerusuhan horizontal antara preman dengan preman.

Dengan berbaliknya arah menjadi 360 derajat yang dialami oleh pemilik depot selaku korban tersebut, dimana seharusnya Korban pencurian dan pengrusakan yang pernah dilaporkan berharap di tangani secara profesional dan maksimal agar mendapatkan perlindungan hukum dan kepastian hukum dari tindakan premanisme debtcolector malah sebaliknya korban dijadikan sebagai Tersangka melakukan kekerasan terhadap Arman pada Pasal 335 KUHP. Peritiwa yang mengherankan ini telah menjadi buah bibir dan heboh dimasyarakat pasuruan yang sempat mengundang perhatian banyak orang itu termasuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang enggan disebutkan namanya bertindak selaku wakil rakyat sempat berujar berjanji akan mengawal kasus ini dan akan membahasnya dalam rapat dewan nanti ujarnya. Kepastian hukum dan penegakan hukum harus ditegakkan dalam wilayah hukum Pasuruan ujar anggota DPR tersebut yang dikenal sangat merakyat itu dengan seluruh lapisan masyarakat.( Rs/Sdr/Nd/Az/Jok)

IMG-20190110-WA0117

REKOMENDASI UNTUK ANDA