by

Discussion, Peran Agama Dalam Menjaga Stabilitas Politik Dan Keamanan Menjelang Pemilu 2019

TANGERANG SELATAN BrataPos.com – Peran serta umat beragama sangat mendukung dalam pembangunan infrastruktur dengan terwujudnya Indonesia yang berdaulat.

Pada masa Orde Baru hanya ada lima macam umat beragama yang diakui sebagai penganut agama resmi di Indonesia. Diantaranya Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha.

Hal ini didasari atas Penetapan Presiden Republik Indonesia No. I/1966, yang kemudian diubah menjadi UU No. V/1989.

Acara Lintas agama yang digelar oleh Kementrian Agama Tangerang Selatan yang dibuka oleh Kandepag H. Abdul Rozak. M.Ag, serta dihadiri oleh Kesbangpol dan beberapa Muspika setempat serta beberapa tokoh lintas agama se-Tangerang Selatan. Selasa (22/1/2019) di Resetoran Sea Food Serpong, Kota Tangerang Selatan – Banten.

Pada kesempatan ini H. Abdul Rozak. M.Ag selaku Ketua Panitia ketika ditemui para awak media mengatakan,  bahwa digelarnya acara ini pertama kita harus dapat menjaga hubungan sesama umat beragama.

“Agar tidak saling menghina, kita harus saling menjaga serta menghargai dan hindari dari konflik ditahun politik seperti saat ini,” ungkapnya.

Disamping itu Kepala Kementrian Agama Tangerang Selatan menyampaikan, kita harus bisa menjaga persatuan dan kesatuan.

“Dimana jalinan sesama umat beragaman tidak terpecah belah oleh hasutan berita yang tidak bertanggung jawab,” pungkasnya.

Selain itu H Abdul Rojak mengutarakan, bahwa acara ini nantinya akan digelar kembali saat menjelang Pilpres 2019.

“Dengan menjaga stabilitas tetap terjaga dimana untuk saat ini Kota Tangsel ini aman dan kondusif,” tuturnya.

Sementara Kesbangpol Tangsel Azar Syam’un menjelaskan, bahwa harus dikedepankan fungsi-fungsi keamanan pada saat pemilihan Presiden DPR RI, DPRD dan DPD.

“Dengan adanya perbedaan ini, agar tidak meruncing kearah yang lebih jauh yang akhirnya bisa dapat mengganggu stabilitas keamanan untuk Tangerang Selatan sendiri,” ucapnya.

Namun Azar Syam,un juga memaparkan dari faktor agama, ras, suku agama, semuanya boleh berbeda.

“Tetapi dalam perbedaan pilihan, perbedaan politik setelah selesai acara pemilihan nanti semuanya harus bersatu bersinergi untuk indonesia satu,” katanya.

Dilain pihak narasumber Dr. Media Zaenul Bahri, Dosen UIN Jakarta. saat memberikan sambutan menjelaskan bahwa saat Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid, ketika masih menjadi presiden, berdasarkan Kepres No. VI/2000 pada Januari 2000 mencabut pelarangan praktik Konghucu yang dilakukan Orde Baru sejak 1967 melalui Instruksi Presiden (Inpres) No. XIV/1967.

Adapun Instrument Pendukung salah satunya Pembangunan Infrastruktur untuk Merealisir Tugas Pada Dimensi diantaranya Pembangunan Jalan Tol, MRT, Bandara.

“Realitanya Pemerintah harus bisa membangun Kantor Kementrian Agama, Kantor Pengadilan Agama, Kantor KUA, Gedung Kampus Bernuansa Agama (UIN/IAIN) Madrasah, Pondok Pesantren. DLL,” pungkas Media Zaenul Bahri.

Dikatakan lagi ada tiga bentuk ketaatan yaitu taat kepada Allah SWT yang berarti taat kepada segala perintah dan larangannya yang termaktub dalam kitab suci al-Qur’an.

Taat kepada Rasul-Nya yang berarti taat Kepada segala perintah dan larangan Nabi yang tercantum dalam hadits-haditsnya dan taat kepada Ulil Amri yang berarti taat kepada berbagai peraturan di bidang politik dan lain-lain yang ditetapkan oleh ulil amri.

Reporter : U. Efendi/Soleh/Alfan

Editor : nurdiana

Publisher : redaksi

REKOMENDASI UNTUK ANDA