by

Warga Selorejo Dau Sujud Syukur Gugatannya Dimenangkan Majelis Hakim PN Malang

MALANG, BrataPos.com – Tragis, begitu perjalanan Yono warga desa Selorejo, kecamatan Dau, Kabupaten Malang, dalam mengurus haknya. Selama dua tahun, dirinya berjibaku mengurus lahan miliknya. Usai menjalani sidang putusan di Pengadilan Negri (PN) Malang, Yono menceritakan kronologisnya.

Pada tahun 2012, dia berkenalan dengan Juwita (laki laki) warga Singosari Malang. Dari pertemanan itu, Juwita meminjam lahan Yono berupa kebun jeruk seluas 1850 M² yang tertera di Akte Jual Beli, untuk digunkan pada Bank Swasta di Kota Malang. Saat itu, Bank berhasil mencairkan kredit sebesar Rp.80 juta pada Juwita.

Padahal, AJB milik Yono sejatinya dapat hibah dari orang tuanya. Namun sama Didik mantan kades Selorejo saat itu, dibuatlah AJB, dengan dalih blangko akte hibah habis. Kemudian saat itu Didik juga salah tulis, tertera di AJB luas lahan 1850 M², padahal setelah diukur hanya 1.200 M².

Petaka itu datang pada tahun 2014, Angusuran kredit macet selama 9 bulan. Berdasarkan perjanjian akad kredit, Bank bisa mengajukan lelang pada KPKNL (kantor pelayanan kekayaan negara dan lelang) Kota Malang. Namun Juwita berhasil melunasi hutangnya di Bank dan berhasil mengambil jaminan, tanpa ijin pemilik sah.

“Waktu itu saya gak tau mas kalau jaminan AJB sudah diambil di Bank. Lalu direkayasa sama Juwita, dijual pada Isriawan warga Sengkaling dengan DP Rp.100 juta, dari kesepakatan harga Rp.350 juta,” terang Yono menceritakan kronologisnya dengan matanya berkaca kaca, Senin (10/12/2018).

Karena saat itu, lanjut Yono pembelinya kenal baik, maka disepakati kekuarangannya diminta olehnya sebesar Rp.250 juta. Tapi akal licik Juwita tidak berhenti. Setelah gagal mendapat uang dari hasil penjualan pertama, Juwita kembali merekayasa AJB untuk dijual pada pihak lain.

IMG_20181210_190547_028

Lahan milik Yono dijual lagi oleh Juwita pada Sisilia Evi. Pembeli yang kedua ini diketaui istri dari pejabat Militer di Kalimantan. Dari sinilah masalah timbul perbuatan melawan hukum (PMH). Pasalnya pemilik yang kedua ini memetik jeruk saat panen.

Mendapati kenyataan itu, Yono melaporkan kejadian tersebut pada Polsek Dau dengan tuduhan pengrusakan. Selanjutnya keluarga Yono ganti memetik jeruk saat panen, sehingga Sisilia melaporkannya balik  pada Polres Malang dengan tuduhan yang sama.

Atas kejadian tersebut, hakim yang memimpin sidang diketuai Yoedi, SH,. MH, hakim anggota satu Nuni, SH dan hakim anggota dua Edy, SH., MH hakim. Diketahui perkara No. 90/pdt.G/2018/Kpj Senin 10/12/2018 memutuskan.

Jual beli tanah seluas 1850 M2 berdasarkan letter C atas No. 276 persil 38 desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, tidak sah menurut hukum. Menghukum tergugat satu (Juwita) tergugat dua (Sisilia) tergugat tiga (Yono) tergugat empat (Didik mantan kades Selorejo) dan membayar biaya perkara sebasar Rp.3.671.000.

“Menolak ekspesi tergugat dua untuk seluruhnya. Menyerahkan obyek sengketa pada penggugat, Yono (ahli waris dari lasiroen salamun),” ucapnya.

Namun pada sidang putusan itu, tergugat satu (Juwita), tergugat dua (Sisilia), tergugat ( Didik mantan kades) ironisnya tidak hadir.

Menanggapi hal itu, Advokat Fatum, SH yang berduet dengan Advokat Rifa’i, SH dari kantor Hukum ZAIBI SUSANTO & ASSOCIATES merasa lega. Pasalnya, kasus yang mendera kliennya dari Juli 2018 sudah ada putusan dari Hakim.

“Alhamdulillah mas, kami merasa lega dan senang atas putusan majelis hakim. Walau kami bersidang lebih kurang 14 kali. Ya, memang masih ada waktu 14 hari bagi tergugat untuk melakukan banding. Namun setidaknya putusan PN Malang melegakan kami,” ungkap Fatum yang wajahnya mirip Artis Novia Kolopaking. (Ardi/Hadi)

REKOMENDASI UNTUK ANDA