by

Warga Desa Trasak-Larangan, Hidup Memprihatinkan

PAMEKASAN, BrataPos.com – Sungguh memprihatinkan kehidupan Pak Mai (86) atau yang biasa di panggil Pak Duna warga desa Trasak, kecamatan Larangan kabupaten Pamekasan yang harus tinggal dan tidur di musholla milik tetangganya. Dirinya tidah hanya sendirian namun dengan istri dan satu anaknya yang masih umur 9 tahun.

Duna yang sudah terlihat uzur tersebut tetap semangat dalam menjalani hidupnya, tiap pagi dia memancal becaknya untuk mencari barang-barang bekas atau pemulung demi untuk memberikan nafkah dan biaya pendidikan anak bungsunya yang masih kelas 3 SDN.

“Saya hanya pasrah terhadap Allah SWT, masalah rejeki ada yang mengatur,” ujarnya pasrah terhadap ekonomi yang masih menerima bantuan dari para tetangga dan para dermawan.

Duna menambahkan, untuk hasil pemulung saya kumpulkan dulu baru satu minggu bisa dijual. “Hasilnya hanya Rp.80 sampai dengan Rp 100 ribu saya cukupkan untuk makan sehari-hari,” ungkapnya tentang penghasilannya yang sangat minim.

Saat wartawan BrataPos.com mendatangi kerumah Duna bersama teman-teman dari Sedekah Rombongan (SR) untuk memberikan sumbangan dari SR dan para netizen yang merasa prihatin, tampak orang tua tersebut hanya berpakaian seadanya dan menempati musholla kecil karena rumahnya sudah ambruk rata dengan tanah pada waktu yang lalu.IMG-20181111-WA0014Menurut Indra dan Ari perwakilan Sedekah Rombongan mengatakan, kami sangat prihatin jadi kami memberikan bantuan sekedarnya kepada keluarga Duna.

“Walaupun sedikit kami berharap sumbangan dari SR sebanyak Rp.1 juta, dan dari teman-teman nitezen sebesar Rp. 1 juta tersebut bisa meringankan kehidupan keluarga ini,” tuturnya saat di rumah Duna.

Sedangkan kepala desa Trasak Supiyanto, saat dikonfirmasi kerumahnya membenarkan keadaan Duna dan keluarganya tinggal di musholla milik H. Zemil tetangganya.

“Memang mereka hidup dalam kekurangan, kami merasa prihatin dan tetap akan kami perhatikan kebutuhan sehari-harinya,” tutur Supiyanto. (Anton)

REKOMENDASI UNTUK ANDA