by

Kisah Inspirasi Wartawan Yang Menampung Anak Punk Hingga Rumahnya Dilempari Petasan

MALANG, BrataPos.com – Kisah hidup manusia itu berliku liku, tak jarang pula sampai meneteskan air mata haru. Namun jika semua itu dijalani dengan tekun dan penuh ketulusan, kebahagiaan akan datang juga. Falsafah itu agaknya yang membuat kisah hidup Fatkurrohman menjalani profesi sebagai wartawan BrataPos.com Kabupaten Malang.

Berpenghasilan yang  kecil tak membuat nyali dia surut untuk terus berpetualang mengungkap fakta dibalik data. Usianya masih 37 tahun, namun jiwanya boleh dibilang melebihi orang dewasa. Kisah inspiratifnya berawal tiga tahun silam, kala itu dia tak tega melihat kehidupan anak muda dijalanan yang tak diurus orang tuanya (Anak Punk).

Dalam benaknya hanya satu, gimana caranya mereka hidup normal dan punya masa depan. Pendekataan dari hati ke hati hati berhasil menjinakkan anak Punk. Dukungan energi ketulusan dari sang istri, membuat tekat Fatur sapaan akrabnya tinggi untuk menampung mereka dalam base camp.

Seiiring berjalannya waktu, 15 anak punk menjadi binaannya 8 cowok dan sisanya cewek. Selain dibekali ilmu agama, mereka juga diajarkan latihan servis HP bagi yang cowok. Sementara  yang cewek, Fatur membekali ketrampilan potong rambut (salon).

Berkat ketekunannya dan ketlatenan, Fatur mendapat banyak simpati dari aparat desa dan pihak kepolisian yang ikut memantau kegiatan mereka. Bahkan Agus, Kepala Desa Ampel Gading, Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang kerap memberi dukungan moril dan materil. Tak hanya itu, Ipda Didik Kanit Sabhara Polsek Tirtoyudo tak henti hentinya memberikan suport.

“Mereka kan anak-anak muda, perlu pendekatan secara manusiawi. Selama mereka dibekali ilmu agama yang kuat, saya yakin mereka akan kembali ke jalan yang benar,” ungkap Fatur mengawali kisahnya.

Uang jasa hasil liputan dan karya jurnalisnya, disisihkannya untuk memberi makan dan minum anak didiknya. Dia juga punya parameter tersendiri dalam menentukan anak asuhnya lulus atau tidaknya dalam kehidupan di Base Camp.

Bila sudah memasuki  1 tahun dalam bimbingannya, mereka dilepas untuk mencari pekerjaan. Dengan catatan ilmu agama dan bekal ketrampilan sudah mumpuni.

“Kalau anak-anak sudah mahir dan yakin bisa bekerja, biasanya mereka pamitan keluar. Satu anak didik saya yang sukses Indra (cewek), dia menjadi seorang wartawan terkenal di Jakarta,” cerita Fatur dengan bangga.

Mendidik 15 anak bukan tanpa halangan dan tantangan. Menurutnya, ketika awal mereka kumpul di Base Camp tak jarang sering adu mulut dan nyaris bertengkar. Namun  berkat kesabaran Fatur, pertikaian itu bisa dilerai, akhinya semua menjadi saudara.

“Ya namanya anak muda, pasti ada yang egois dan lain-lain. Tapi selalu saya tekankan, bahwa kebersamaan itu sangat penting, walau berbeda daerah dan berbeda agama. Tapi mayoritas yang tinggal di Base Camp muslim kok,” tambah dia.

Hal yang paling diingat dalam hidup Fatur adalah satu, ketika dia hendak mengungkap kasus yang tergolong besar. Rumah tinggalnya dilempar orang tak dikenal mirip bahan peledak yang Low Explosive (berdaya ledak rendah). Namun Fatur tak pernah kecil hati, dirinya terus berkarya demi keluarga dan anak didiknya. (Ardian)

REKOMENDASI UNTUK ANDA