by

Divonis 6 Tahun, Terdakwa Pembunuh Janda Sujud Syukur

Gresik, BrataPos.com – Sidang kasus pencurian disertai kekerasan yang mengakibatkan kematian, dengan terdakwa Muhammad Choirul, warga Jl. Sindujoyo Gg XVIII/85 RT 03 RW 01, Kelurahan Lumpur, Kabupaten Gresik kemarin telah tiba saatnya penentuan nasib pria yang berstatus duda itu.

Sidang yang digelar di ruang sidang cakra Pengadilan Negeri (PN) Gresik, pria umur 41 tahun itu menerima hukuman setimpal dari ketua majelis hakim Lia Herawati. Saat membacakan amar putusannya hakim berkeyakinan terdakwa terbukti bersalah melakukan pencurian dan kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa seorang janda, yakni Mar’atus Sholiha (37), tak lain tetangganya sendiri.

Berdiri kata ketua majelis hakim kepada terdakwa, dangan badan yang lemas mata yang merah sempat teteskan air mata, terdakwa pun berdiri menghadap ke hakim untuk mendengar pembacaan amar putusan dan sesekali melirik penasehat hukumnya.

“Perbuatan terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 365 ayat (3) KUHP. Menjatuhkan hukuman 6 tahun penjara dikurangi masa tahanan,” ujar Lia Herawati saat membacakan putusan.

Kata Lia, hukuman ini sudah berdasarkan beberapa pertimbangan dan hasil musyawarah. Yang memberatkan misalnya, terdakwa telah membuat warga resah dan menghilangkan nyawa orang, dan membuat keluarga korban sedih.

“Namun disisi lain, terdakwa kooperatif dalam persidangan dan tidak pernah dihukum. Kami anggap sudah setimpal dengan perbuatannya,” imbuhnya.IMG_20180724_202533Putusan yang dibacakan hakim lebih ringan dibanding tuntutan jaksa yang pada sidang sebelumnya menuntut 8 tahun penjara. Meski demikian, vonis tersebut telah berkekuatan hukum tetap (Inkrah). Pasalnya, terdakwa maupun jaksa penuntut umum (JPU) kompak menerima putusan itu.

Usai hakim membacakan vonisnya, terdakwa diberikan kesempatan diskusi kepada penasehat hukumnya yakni Wellem Mintarja. Usai diskusi terdakwa langsung sujud syukur dihadapan hakim, JPU dan Penasehat Hukum.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Febrian Dirgantara usai sidang mengatakan, hasil putusan 6 tahun yang sudah dibacakan majelis hakim pada terdakwa sangat faer, hakim mengambil beberapa pertimbangan dari JPU. “Pihak terdakwa terima kami pun terima,” kata Febrian.

Wellem Mintarja Penasehat Hukum (PH) terdakwa usai sidang mengatakan, dirinya menyayangkan vonis majelis hakim yang terlalu berat. Memang perkara ini sudah diputus. Vonis yang dibacakan hakim sudah inkrah. Meski kliennya menerima, sejatinya hukuman itu sangat berat.

“Pasalnya fakta persidangan ada unsur yang tidak terpenuhi. Dari awal sudah jelas terdakwa meminta ijin pada korban untuk datang ke rumahnya, dan pada saat melakukan aksinya terdakwa tidak membawa apapun. Entah itu senjata tajam (sajam) atau yang lain. Selain itu, dokter yang melakukan otopsi tidak pernah dihadirkan,” ujar Wellem.

Perlu diketahui, berawal dari pertemuan dengan Tia Gazela Agustina di sebuah warung Christine Bohai, terdakwa Muhammad Choirul alias Maman langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, saat itu juga terdakwa berinisiatif untuk memberi hadiah kepada wanita idamannya tersebut.

Demi mendapatkan sebuah handphone Samsung J2 Prime warna hitam untuk hadiah sang pujaan hati, lelaki berkepala empat itu tega mencekik tetangganya sendiri yakni Sholihah. (jml)

REKOMENDASI UNTUK ANDA