oleh

Perhutani Malang Hanya Berfikir Keuntungan Dari Sewa Lahan, Tanpa Berfikir Dampaknya

Kota Batu, Bratapos.com – Sewa lahan perhutani lebih menggiurkan ketimbang menyewa lahan perorangan. Alih status lahan perhutani yang sedianya untuk menahan gempuran erosi jika musim hujan datang. Karena geografis wilayah batu adalah dataran tinggi sehingga perlu memikirkan dampak bagi wilayah sekitar. Senada dengan itu, perlahan lahan, tanah yang dikelola Perhutani berubah fungsi menjadi lokasi wisata.

Seperti yang terjadi di Dusun Desel Desa Oro Oro Ombo Kecamatan Batu Kota Batu. Lahan seluas 5 Hektar itu kini menjadi Wisata untuk Bilvopasteur Kuda dan Rusa Timur. Bagi pengunjung yang ingin memasuki kawasan yang dikelola PT. Mega Star itu harus merogoh kocek Rp.25 ribu per orang. Namun sampai saat ini, wahana penangkaran kuda itu masih belum banyak diminati para wisatawan.

Dari data yang diterima Media Brata Pos, hasil penjualan karcis pengunjung rata rata hanya pada kisaran 43 juta per bulan. Dari pendapatan itu masih harus dipotong pajak 10 %, Pengelola 43%, Perhutani 25%, LMDH 10%, Muspika 3%, Kas Desa 2%, TPU KPH 5%, Koperasi KPH 2%. Kemudian pihak pengelola masih dibebani uang jasa lingkungan sebesar 25 juta/ th. Dan Surat Perjanjian Kerja Sama diperpanjang setiap tahun.

Seperti yang diberitakan Media Brata Pos sebelumnya tanggal (16/5/18), petak 225 c dengan luas 4000 M2 rangkaian dari Wisata panangkaran kuda sedang dibangun cafe.
Menurut tokoh masyarakat Desa Oro Oro Ombo yang namanya enggan disebutkan membenarkan hal itu.

“Bahkan saat ini investor masih menunggak 40 juta dari surat perjanjian kerjasama (SPK) yang dibuat pada 10 Oktober 2016. Hal yang paling penting menurutnya adalah komitmen perhutani dalam menjaga kelestarian hutan yang beralih fungsi,” katanya.

Dulu saat dibangun pihak perhutani berjanji menanam bibit cemara beberapa ribu, namun sampai saat ini tidak pernah terealisasi. Saya kawatir kalau terus dibiarkan dan berdiri bangunan bangunan lainnya, dampaknya pada wilayah sekitar saat musim hujan. Karena ada dugaan, akan ada sebuah Resto Besar dibangun di kawasan itu.

“Jangan hanya memikirkan untungnya saja, tapi berfikirlah untuk kesejahteraan dan keselamatan masyarakat sekitarnya. Coba kalau gak percaya kita chek ke atas ( lokasi),” ucapnya sumber tersebut dengan nada tinggi.

Sementara pemilik PT. MegaStar Onwner dari Penangkaran kuda Budi Pangestu saat dihubungi via telponnya tidak merespon. Menurut penjaga kawasan, bos nya jarang ke lokasi. Kabar yang merebak gaji karyawan juga sering telat tiap bulannya. (bersambung……Ardian)

REKOMENDASI UNTUK ANDA