by

Penasehat Hukum Terdakwa, Putusan Hakim Dinilai Tidak Tepat

Gresik, Bratapos.com – Hanya gara-gara menjual besi yang sudah tidak terpakai di dalam kapal, terdakwa Cipto Subagyo (41), warga RT 14 RW 17, Desa Kemiri Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Arya Pramuda Werdhani (21), asal RT 8 RW 1, desa Polehan Kecamatan Blimbing, Kabupaten Malang dan Farkhan (39) warga RT 1 RW 2, desa Brangsi, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan dijatuhi human berat oleh ketua majelis hakim Rahmansyah.

Ketiganya diketahui bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) Mila Utami. Para terdakwa terus menunduk kepala saat mendengarkan ketua majelis hakim membacakan amar putusannya, Kamis (15/2/2018) di ruang cakra Pengadilan Negeri (PN) Gresik. IMG20180206134916

Sekitar 20 lembar, satu persatu isi amar putusannya terus dibacakan oleh Ketua majelis hakim. Dalam membacakan amar putusannya sebelum mengambil dan menjual besi, para terdakwa menghubungi pihak perusahaan melalui telepon selulur, pihak perusahaan sudah mengijinkan untuk mengambil barang tersebut untuk dijual. Hasil uang dari penjualan besi untuk keperluan logistik selama diatas kapal. Namun demikian ketua majelis hakim Rahmansyah berkeyakinan terdakwa telah terbukti secara sah melanggar pasal 363 KUHP.

“Namun ketua majelis hakim berpendapat lain. Hal yang dilakukan oleh terdakwa sudah jelas melawan hukum, pasalnya sudah mengambil barang bukan haknya. Pada para terdakwa masing-masing dijatuhi hukuman selama 2 tahun penjara,” ujarnya.

Lanjut Rahmansyah, pelaku dengan cara mengambil besi-besi tua memakai kunci inggris, peran para terdakwa berbeda-beda tugasnya. Terdakwa melakukan pencurian pasalnya selama 6 bulan tidak digaji sehingga para terdakwa kecewa pada pihak perusahaan.

Atas putusan ini jaksa dan penasehat hukum mempunyai hak yang sama apakah menerima apakah banding atau pikir-pikir terhadap putusan ini. Setelah konsultasi para terdakwa pada penasehat hukumnya. Jaksa dengan penasehat hukum terdakwa menyatakan untuk pikir-pikir. “Mohon ijin yang mulia atas putusan yang mulia kami menanggapinya untuk pikir-pikir,” ujarnya. IMG20180206134917

Usai sidang Dede Prihantono, S.H. Penasehat Hukum (PH) terdakwa mengatakan, menurutnya putusan hakim dinilai tidak adil, pasalnya hakim menerapkan pasal  363 tidak tepat, seharusnya hakim menerapkan pasal 372 tentang penggelapan.

“Pasal 363 yang dijatukan oleh ketua majelis hakim pada para terdakwa tidak memenuhi KUHP, karena Keadaan tempat tersebut yang dinilai hakim rusak padahal faktanya yang sekitarnya tidak ada yang rusak,” kata Dede.

Lanjut Dede, Saya akan menunggu keluarga dulu untuk koordinasi apakah banding atau tidak. Karena Mereka para terdakwa bukan kriminal murni meraka bekerja dan selama 6 bulan tidak digaji, katanya.

Meski demikian, putusan hakim lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Herlambang. Dimana pada sidang sebelumnya jaksa menuntut para terdakwa selama 3,6 tahun penjara. Jaksa menerapkan pasal 363 ayat 1 ke 4 dan 5 KUHP. (mal)

 

REKOMENDASI UNTUK ANDA