oleh

Parah..!!! Kurir Pil Koplo Divonis Lebih Tinggi Dari Bandar

Last updated: Rabu, 24 Januari 2018, 10:16 WIB

Gresik, Bratapos.com – Pengadilan Negeri (PN) Gresik kembali menggelar sidang dengan terdakwa Ahmad Qomarudin Selasa, (23/1/2018) dengan agenda pembacaan putusan oleh majelis hakim Herdiyanto. Ahmad Qomarudin (18) warga desa Munggugebang Rt 02, Rw 01, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, mendekam dibalik pahitnya jeruji besi lantaran mengedarkan pil koplo.

Ahmad Qomarudin seorang pengedar 30 butir pil koplo dihukum lebih berat dibanding bandarnya terpidana Sukartini (40) warga Desa Kedungsumber Rt 06, Rw 01, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, yang memiliki 535 butir pil koplo. Sukartini telah divonis Majelis Hakim Putu Mahendra melanggar Pasal 196 dan 197 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dan dijatuhi hukuman penjara selama 9 bulan, denda 5 juta, subsidair 3 bulan penjara pada persidangan sebelumnya.

Sedangkan Ahmad Qomarudin dalam persidangan pada hari selasa, 23 Januari 2018 divonis Majelis Hakim Herdiyanto melanggar Pasal 197 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dan dijatuhi hukuman 11 bulan penjara dan terdakwa juga diminta membayar denda 3 juta rupiah, jika denda tidak dibayar akan diganti dengan satu bulan penjara.IMG-20180123-WA0002

Berdasarkan fakta persidangan baik terdakwa Ahmad Qomarudin maupun Sukartini sama-sama belum pernah dihukum. Keduanya juga bersikap sopan dan sudah mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya. Bahkan sudah berjanji tidak mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya. Nyatanya justru Ahmad Qomarudin mendapat hukuman lebih tinggi dibanding sang bandar Sukartini.

“Menyatakan terdakwa Ahmad Qomarudin terbukti secara sah melanggar Pasal 197 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dan menjatuhkan hukuman 11 bulan penjara dan denda 3 juta subsidair 1 bulan” ujar Herdiyanto saat membacakan putusan

Tanpa menyuruh terdakwa berkonsultasi dengan Penasehat Hukum dari Posbakum yang mendampinginya, Nazilatul Fitria Amri, Hakim Herdiyanto langsung menanyakan kepada terdakwa mau menerima, mengajukan banding, atau pikir-pikir atas putusan yang telah dibacakan. Dan terdakwa langsung menerima putusan hakim. Sedangkan jaksa pengganti Esti Herjanti Candrarini memilih untuk pikir-pikir.

Setelah mendengar jawaban dari JPU, Herdiyanto memberikan waktu sepekan kepada jaksa untuk mengambil langkah selanjutnya. “Jika tidak, maka sidang dianggap sudah berkekuatan hukum tetap (inkrah).” Ucapnya sembari mengetok palu dan meninggalkan persidangan.

Terlihat jelas adanya ketimpangan hukum dalam perkara ini. Dilihat dari pasal yang dijatuhkan pada Qomaruddin, lamanya sanksi hukuman dan jumlahnya Barang Bukti. (jml)

REKOMENDASI UNTUK ANDA