by

Sidang Memanas Saat Saksi Beberkan Keterangan

GRESIK, BrataPos.com – Edy Suswanto (37) warga siwalan indah W-39 RT 01 RW 09 Desa Kepatihan Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik kembali jalani sidang di ruang cakra Pengadilan Negeri (PN) Gresik Kamis, (12/10/17).

Terdakwa diadili lantaran dituduh memalsukan akte kelahiran dan keluarnya penetapan ahli waris. Pelapor merasa dirugikan langsung melaporkan ke Polres Gresik, akibat kelakuan terdakwa merugikan pelapor dengan menutup akses waris.

Sidang yang diketuai majelis hakim Bayu Soho dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Tidak tanggung-tanggung saksi yang dihadirkan oleh JPU Alfian dan Pompy sebanyak 4 saksi.

Sidang sempat memanas saat saksi menerangkan dihadapan hakim. Sehingga sidang memakan waktu sangat panjang sampai jam 19.00 Wib.

Saat mendengarkan keterangan saksi dipersidangan terdakwa bukan anak kandung dari Suyati dan Gusti Hartono yang dikadang-kadang hartanya miliaran, akan tetapi anak kandung yang ibunya saat ini bekerja di Kalimantan.IMG20171012140043

“Terdakwa hanya anak angkat dari Suyati dan Gusti Hartono. Jadi tidak ada terdakwa disusunan keluarga, terdakwa hanya ngaku-ngaku saja, karena terdakwa ingin memiliki warisan dari Suyati dan Gusti Hartono.” kata saksi

Lanjut saksi, kami berkeyakinan terdakwa bukan anak kandung dari Gusti Hartono dan Suyati. Karena tahun 2005 waktu kami masih duduk di bangku SMP, saya pertama kali bertemu Edy dan Edy waktu itu masih berumuran sekitar SD.

“Kalau soal pengangkatan Edy menjadi anak angkat kakek saya, saya tidak tahu, saya pertama kali bertemu Edy tahun 2005.” paparnya.

Keterangan saksi pun dibantah keras oleh terdakwa, dirinya bersikukuh satu-satu ahli waris dari Gusti Hartono dan Suyati, dan dirinya menilai para saksi itu ada kepentingan dibalik semua itu. Sehingga memberikan keterangan yang tidak didasari dengan bukti, hanya berdasarkan mendengar, katanya.

Selesai mendengarkan keterangan 4 saksi itu, sebelum sidang ditutup hakim Bayu Soho tiba-tiba membacakan penetapan terdakwa kasus dugaan pemalsuan akte kelahiran akhirnya bebas dari pengapnya jeruji penjara.

Oleh Ketua Majelis hakim, status tahanan terdakwa itu dialihkan menjadi tahanan kota. Status tahanan kota itu dituangkan dalam sebuah penetapan yang dibacakan oleh Hakim Bayu yang memeriksa perkara itu.

Pengalihan penahanan dari tahanan negara menjadi tahanan kota, itu merujuk pada permohonan yang diajukan Edy Suswanto melalui tim kuasa hukumnya. Hakim Bayu mengabulkan penangguhan penahanannya. Selain itu, keluarga Edy Suswanto menjadi penjamin bahwa terdakwa tidak akan melarikan diri saat proses hukumnya di PN Gresik sedang berjalan.

Bayu mengaku, status tahanan kota Edy bersifat terbatas, hingga sampai sidang putusan nanti. Selama menyandang status tahanan kota, sambung Bayu, Edy dilarang meninggalkan kota, juga diminta untuk wajib lapor dan kooperatif selama proses pidananya berjalan di PN Gresik.

“Mengabulkan permohonan pengalihan penahanan terdakwa dari tahanan negara menjadi tahanan kota,” kata Ketua Majelis Hakim Bayo Soho saat membacakan surat penetapan pengalihan penahanan.

Mendengar pembacaan penetapan terdakwa menjadi tahanan kota. Istri dari terdakwa langsung menangis serta pendukung terdakwa ikut menangis.

Jaksa penuntut umum (JPU) Pompy usai sidang saat diwawancara oleh sejumlah wartawan yang mengikuti sidang tersebut mengatakan, kalau sudah ada penetapan pengalihan tahanan kota dari hakim dan perintah dari hakim, otomatis kita laksanakan dan kita ikuti.

“Namun keterangan saksi-saksi cukup untuk pembuktian dan sangat mendukung pembuktian.” katanya.

Sedangkan penasehat hukum terdakwa Sakti Mandraguna, usai sidang para awak media mencoba minta keterangan, namun ketiga penasehat hukum satu pun tidak bisa dimintai stetmend dalam artian lari dari kejaran wartawan. (jml)

 

REKOMENDASI UNTUK ANDA