by

Kasus Perdata Dipaksa Ke Pidana

SURABAYA, BrataPos.com – Law Chandra Gunawan (54), Direktur PT. Soerya Persada Sakti terpaksa harus menjalani persidangan pidana di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya atas laporan Idris Chandra dan Kasmin.
Eksportir biji besi itu dilaporkan melakukan tindak pidana penipuan penggelapan sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 378 jo pasal 64 ayat (1) jo pasal 65 KUHP dan kedua pasal 372 jo pasal 64 ayat (1) jo pasal 65 KUHP.
Padahal faktanya dia (terdakwa) yang dirugikan partner bisnisnya yang tidak menepati janji sehingga menyebabkan kerugian beruntun bahkan menghancurkan usahanya.
Setelah Eksepsi ditolak, Majelis Hakim PN Surabaya menjadwalkan sidang pembuktian pertama Senin, (7/8/2017) dengan agenda sidang memeriksa Saksi Pelapor dari JPU, namun persidangan gagal dilaksanakan karena Saksi JPU tidak hadir.
Sidang ditunda Rabu, (9/8/2017), namun lagi-lagi ditunda karena ibunda Anna Ketua Majelis, meninggal dunia dan baru tadi Senin (14/8/2017) sidang digelar dengan agenda memeriksa saksi pelapor yaitu Idris Chandra dan Kasmin.
Dalam persidangan di Ruang sidang Garuda 1 PN Surabaya, terkuak fakta-fakta ganjil. Azis Wijaya yang seharusnya bertanggung jawab langsung dalam permasalahan kerjasama dengan Chandra Gunawan maupun Idris Chandra, malah sama sekali tak disentuh. Menjawab pertanyaan Majelis Hakim yang menyidang kasus ini, JPU Darwis menyatakan bahwa Azis DPO.
Keganjilan lainnya, Idris mengaku diperkenalkan kepada Chandra Gunawan oleh “Pengusaha Besar” Azis Wijaya tergiur untuk berinvestasi setelah dipertunjukkan Certificate Report of Sampling And Analisys yang dikeluarkan oleh Sucofindo kepada PT. Jaya Abadi Lestari Steel pada 27 Desember 2013.
Sedangkan dalam dakwaan JPU, Idris Chandra telah mentransfer jauh sebelum adanya Certificate 27 Desember 2013 itu, yaitu sejak 2 September 2013 sampai 16 Desember 2013 bertahap 10 kali sejumlah total Rp. 6.950.000.000.-.
Dalam keterangan selanjutnya, Idris mengaku dijanjikan oleh Chandra Gunawan, keuntungan 20 persen dalam waktu 2 bulan.  Faktanya sudah jauh lebih dari 2 bulan, Idris masih tetap mentransfer terus, sampai 10 Maret 2014.
Saksi pelapor kedua, Kasmin, dalam keterangannya dia kenal sangat dekat dengan Idris Chandra dan Idris Chandra selalu menceritakan kepadanya setiap kali mentransfer ke Chandra Gunawan.  Namun waktu dirinya akan mentransfer ke Chandra Gunawan pada bulan Juli 2016 sejumlah Rp.30.000.000.- dan Rp. 160.000.000.-, Kasmin mengaku sama sekali tidak tanya atau diberi tahu oleh Idris Chandra bahwa Chandra Gunawan tidak pernah menepati janji atau menipu. Lebih aneh lagi dalam bukti transfernya, diberi keterangan “titipan dari Idris Chandra”, namun diakui sebagai uangnya  sendiri, bukan uang Idris Chandra. Kasmin juga mengaku bahwa dia dijanjikan
Penetapan tersangka oleh Penyidik Polrestabes Surabaya atas diri Chandra Gunawan sudah pernah dikandaskan di sidang Praperadilan. 24 Februari 2017, Hakim tunggal Ferdinandus yang mengadili, memutuskan;   Penyidikan berdasarkan Sprin-Dik 7 Desember 2016 dan 16 Desember 2016 dinyatakan tidak sah,  Penetapan tersangka berdasarkan Sprin-Dik 7 Desember 2016 dan 16 Desember 2016 dinyatakan tidak sah, Penangkapan berdasarkan Sprin-Kap 19 Januari 2017 dinyatakan tidak sah, Penahanan berdasarkan Sprin-Han 20 Januari 2017 dinyatakan tidak sah, Memerintahkan kepada Polisi untuk langsung membebaskan tersangka, Membebankan biaya perkara kepada Termohon yaitu Polrestabes Surabaya.
Ironisnya penetapan tersangka atas Law Chandra Gunawan yang telah dikandaskan melalui praperadilan itu dibuka kembali oleh Penyidik Polrestabes Surabaya. Law Chandra Gunawan kembali diseret ke muara pidana yang sama, bahkan di P21 kan oleh JPU dan disidangkan. Perkara yang menurut beberapa pihak merupakan transaksi bisnis dan hubungan keperdataan ini dipaksakan ke ranah hukum pidana.
Idris Chandra bukannya melaporkan Azis Wijaya, malah memperkarakan Chandra Gunawan dengan menggiring transaksi bisnis dan hubungan keperdataan keranah pidana.  Sebagai catatan, proses penyelidikan/penyelidikan sampai disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya, saksi kunci dan sangat penting dalam permasalahan ini, Azis Wijaya, tidak pernah sekalipun dihadirkan untuk dimintai keterangan ataupun kesaksiannya, bahkan oleh JPU telah dinyatakan DPO.
Permasalahan ini bermula kesepakatan kerja sama Chandra Gunawan dengan Azis Wijaya pengusaha alat berat di daerah Perak Surabaya untuk melakukan ekspor biji besi ke China. Chandra Gunawan menyediakan bahan mentah biji besi di  Batu Licin Kalimantan Selatan untuk diekspor ke China dan Azis Wijaya menyediakan alat berat serta biaya ekspor, operasional, pengangkutan dan lain-lain sebesar Rp.17.000.000.000.- . Dalam perjalanan, alat-alat berat Azis Wijaya yang digunakan untuk produksi di stockpile biji besi di Batu Licin, ditarik oleh leasing.
Azis juga tidak memenuhi janji investasinya, dari seharusnya sesuai komitmen Rp.17.000.000.000.-, kenyataannya hanya mengirimkan biaya operasional total Rp.8.300.000.000.-, itupun dicicil-cicil selama 6 bulan lebih sejak 2 September 2013 sampai 16 Desember bertahap 10 kali sejumlah total Rp. 6.950.000.000.-. Dan 25 Februari 2014 sampai 10 Maret 2014 transfer dana dilanjutkan lagi bertahap 4 kali sejumlah total Rp. 1.350.000.000.-. Semua keadaan itu menyebabkan kerugian beruntun bagi Chandra Gunawan yang telah mengeluarkan biaya operasional sekurang-kurangnya Rp.16.600.000.000.-.
Berubah-rubahnya regulasi Pemerintah dan anjloknya harga biji besi dunia memperparah keadaan. Alhasil puluhan ribu meter kubik biji besi menumpuk di Batu Licin Kalimantan Selatan menunggu diekspor. (jml/smk)

REKOMENDASI UNTUK ANDA