by

Ketua Koperasi Bhinneka Tunggal Ika Pertanyakan Pelaku Penggelapan

JEMBER – Ketua Koperasi Bhinneka Tunggal Ika Husen Pranoto mengaku menjadi ketua saat koperasi tersebut mengalami defisit. Bersama kepengurusan baru, ia membesarkan koperasi tersebut.

“Koperasi waktu itu defisit Rp 10 juta. Sampai besar, kami tidak mendapatkan fasilitas. Yang dijadikan jaminan utang ke perbankan adalah harta pribadi, termasuk rumah dan mobil milik ketua,” kata Husen, Kamis (18/5/2017). Pengurus lainnya juga menjaminkan harta benda untuk modal koperasi.

Setelah berjalan sekian tahun, saat ini, koperasi tersebut terbelit masalah dan defisit Rp 2,5 miliar. Sejak 2015, koperasi tak melaksanakan rapat anggota tahunan. Akhirnya anggota koperasi melaporkan persoalan ini ke polisi. Padahal menurut Husen, kerugian tak lepas dari aset yang dibawa kerabat anggota dan piutang anggota, “Sebenarnya antara utang kami dan piutang di anggota jauh lebih besar piutangnya. Jadi mari betul-betul diidentifikasi utang Koperasi Bhinneka kepada siapa saja,” kata Husen.

Husen meminta kepada para anggota untuk berbaik sangka dan menunggu hasil kerja tim investigasi Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Kabupaten Jember. “Semua usaha sudah mendapat persetujuan saat rapat anggota tahunan, termasuk mau pinjam ke bank,” katanya.

Menurut Husen, pada 30 Maret 2015, RAT sepakat membentuk tim penanganan karyawan bermasalah yang terdiri atas tiga orang. Mereka bertugas mengidentifikasi data di bagian pemasaran yang bermasalah. “Diupayakan ini diselesaikan secara kekeluargaan. Mereka berhak mendapat success fee 50 persen dari persoalan yang bisa diselesaikan. Ketiga, melaporkan hasil pekerjaan saat laporan pertanggungjawaban dan selalu berkoordinasi dengan pengurus,” katanya.

Namun karena koperasi tak melaksanakan RAT, tim tersebut tak menyampaikan hasil kerja mereka. “Informasinya, juru buku sudah bisa menyelesaikan tugas. Syukur-syukur sebelum bulan puasa, andaikata tak ada aral melintang dengan mediasi Dinas Koperasi, kami siap melaksanakan rapat anggota tahunan. Berangkat dari sinilah mungkin tim audit memulai pekerjaannya,” kata Husen.

Husen mengatakan, karena tenaga teknologi informasi berhenti, maka rekapitulasi penabung di koperasi dikerjakan manual. “Antara data di komputer dengan data riil saat ini insya Allah berbeda. Sudah banyak (pengembalian tabungan) yang selesai,” katanya.

Kondisi koperasi tak separah yang dibayangkan, karena sejumlah unit masih berjalan, termasuk unit pupuk dan simpan pinjam putar. Namun karena ada bencana puting beliung di Sukowono, pembayaran terhambat. Koperasi sempat ditegur Bank Perkreditan Rakyat karena keterlambatan itu. “Padahal jaminan milik pengurus dan pengawas,” kata Husen.

“Kami siap bertanggung jawab kalau memang kami. Tapi kalau yang menggelapkan (dana koperasi) itu karyawan? Ada karyawan simpan pinjam yang tak mau diperiksa pengawas. Ditelepon tidak diangkat, disurati tidak datang. Ini kendala, sehingga persoalan melebar ke mana-mana,” kata Husen.

REKOMENDASI UNTUK ANDA