by

Wali Kota Perangi NARKOBA DI Lingkup Pemkot Samarinda

SAMARINDA. Perangi narkoba di lingkungan Pemkot Samarinda , Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang, menggelar tes urine mendadak untuk kalangan pejabat. Hasilnya, lima pejabat terindikasi memakai narkoba jenis sabu-sabu.  untuk memastikan hal tersebut, sampel urine harus diperiksa dan saat ini telah dikirim ke Laboratorium Forensik (Lapfor) di Surabaya.
Plt Sekretaris Kota (Sekkot) Samarinda, Hermanto mengungkapkan, dari laporan yang didapat ada lima orang yang terindikasi memakai narkoba dari hasil tes urine pejabat, Senin (4/4) lalu. “Ada lima sih dari laporan kepada saya. Tapi ini masihTer indikasi, belum hasil final,” ungkap Hermanto  menambahkan, semua yang terindikasi di tingkat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), untuk camat dan sekretarisnya tidak ada.
Jika nantinya terbukti,  pihaknya akan lebih dulu menawarkan program rehabilitasi kepada yang bersangkutan. Apalagi pemkot sudah bekerja sama dengan RS Bhakti Husada Untuk program penyembuhan tersebut akan berlangsung 40 hari. “Jadi ada program terapi bagi orang yang kecanduan narkoba. dan nantinya akan menjalani program di rumah sakit tersebut,” ujarnya.
Selama menjalani rehabilitasi, Hermanto memastikan, pejabat yang dinyatakan positif pengguna narkoba Tidak difungsikan sementara dari jabatannya. “Ya non aktif. Kan mereka wajib menjalani program rehabilitasi tersebut. Agar proses penyembuhan bisa benar-benar berjalan,” paparnya.
Hermanto yang juga menjabat Asisten I Pemkot Samarinda ini berjanji akan memberikan kejutan bagi pegawai -pegawai lainnya. Terutama untuk pejabat eselon IV dan eselon V dengan menggelar tes urine secara mendadak dan tidak terduga nantinya. “Ini memang program kami untuk membersihkan pegawai jauh dari narkoba. Banyak yang terindikasi sudah kami peringatkan. Tapi hanya didepan saja bilang iya, di belakang masih juga memakai narkoba,” bebernya.
Ia menambahkan, secara keseluruhan jika memang ada pegawai yang positif menggunakan narkoba. Pihaknya juga akan melihat kembali, apakah sebelumnya pernah kedapatan dan menjalani rehabilitasi atau belum. “Karena jika sudah berulang, sulit sudah untuk bisa dipertahankan,” sebutnya.
Sementara itu, Humas Badan Narkotika Nasiona (BNN) Samarinda, Akhmad Fadholi mengakui, beberapa sampel urine dari peserta tes dibawa ke labfor untuk diperiksa lebih teliti. Pasalnya, pihaknya hanya menggunakan alat tes sederhana untuk mencari tahu siapa yang diindikasikan menggunakan barang haram tersebut. “Kami hanya memeriksa saja, terkait siapa saja itu kewenangan BKD,” kata Fadholi.
Fadholi menjelaskan, tes urine yang mereka lakukan hanya sebatas yuridis formal untuk memenuhi legalitas pemeriksaan tersebut. Sehingga belum bisa dipastikan apakah yang terindikasi ini benar sebagai pengguna atau bukan. Apalagi beberapa obat apotek menurutnya memiliki kandungan zat yang sama dengan narkoba.  “Jadi itu dilakukan sebagai landasan agar hasil tes yang dilakukan benar-benar valid. Karena test pack yang kami gunakan juga memiliki potensi error,” pungkasnya.(sul, smd)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

REKOMENDASI UNTUK ANDA