Pepatah Mengatakan Penyesalan Selalu Datang Terlambat.Itu lah yang pas di alami Oknum kades Di kabupaten Malang

by
IMG-20191114-WA0279

MALANG,Bratapos.com – Satreskrim Polres Malang Amankan oknum kades.Dengan Wajah Tertunduk lesu Dan Menahan malu, Mugiono Oknum Kades,Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang ini hanya bisa pasrah saat digelandang polisi ke halaman Mapolres Malang, Kamis (14/November/2019) sore.

Lelaki yang lahir pada 1 Mei 1969 ini harus berurusan dengan pihak kepolisian lantaran terjaring OTT (Operasi Tangkap Tangan). Oknum Kepala Desa (Kades) di tempat tinggalnya ini, diringkus petugas lantaran terbukti melakukan penyalahgunaan wewenang dalam jabatannya untuk melakukan tindak pidana pungli (pungutan liar).

IMG-20191114-WA0278

”Tersangka meminta uang kepada korban sebesar Rp 20 juta.Yang Akan di Gunakan Untuk Mempermudah Urusan Sengketa Tanah. yang dialami korban,” terang Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo, saat ditemui awak media ketika agenda rilis berlangsung, Kamis Sore Dihalaman Polres Malang.

Berdasarkan Hasil Penyelidikan kepolisian, Oknum Kades Tersebut penyalahgunaan wewenang dalam jabatanya, Kades berinisial NIN yang juga diketahui sebagai pemilik tanah. Dimana sepetak lahan milik NIN ini tengah bersengketa dengan SK, terkait permasalahan kepemilikan.

Bukannya memediasi Dan Memberi Kebijakan Yang Positif Kepada warganya, Mugiono justru menawarkan diri untuk membantu menyelesaikan permasalahan sengketa tanah di antara kedua belah pihak. Namun, syaratnya si pemilik tanah yakni NIN, harus membayarkan sejumlah uang senilai Rp 60 juta kepada oknum Kades tersebut.

”Semula tersangka memang meminta Rp 60 juta, namun korban sempat menolaknya lantaran jumlahnya dinilai terlalu tinggi. Akhirnya terjadi tawar-menawar dan mengerucut kepada kesepakatan pembayaran yang berubah menjadi Rp 20 juta,” ungkap anggota polisi yang akrab disapa Andaru ini.

IMG-20191114-WA0277

Dari hasil penyidikan, uang senilai Rp 20 juta itu diakui tersangka bukan untuk keperluan pribadi. Mugiono berdalih jika uang yang dia minta sesuai dengan arahan dari pihak lawan sengketa NIN, yakni SK.

”Di hadapan korban tersangka memang mengaku jika uangnya akan diberikan kepada pihak lainnya (SK). Namun saat dikonfirmasi oleh korban, pihak lawan sengketa ternyata tidak pernah meminta uang melalui perantara tersangka. Bahkan kasus sengketanya hingga saat ini belum juga terselesaikan,” jelas Andaru.

Merasa dikelabuhi pelaku, NIN akhirnya menceritakan kasus yang dialaminya kepada masyarakat setempat yang kemudian dilaporkan kepada pihak kepolisian.

Mendapat laporan, Unit Tipidkor (Tindak Pidana Korupsi) Satreskrim Polres Malang dikerahkan untuk melakukan penyelidikan. Hasilnya, polisi mendapat informasi jika tersangka memaksa korban untuk melakukan transaksi di sebuah warung makan yang berlokasi di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.

Rencananya, transaksi uang puluhan juta itu akan dilangsungkan pada Selasa (12/November/2019) pagi. Dengan berpakaian preman, anggota kepolisian akhirnya melakukan pengintaian di Sebuah Rumah Makan Di Wilayah Malang Selatan Tepatnya sekitar pukul 11.00 WIB, tersangka Mugiono nampak mendatangi lokasi penyanggongan.

Setelah bertemu dengan korban, NIN diminta oleh pria 50 tahun itu untuk segera menyerahkan uang yang telah dia ajukan. Transaksi antara keduanya pun terjadi. Sesaat setelah menerima segebok uang, tersangka kemudian memasukkan uang tersebut ke jok sepeda motor yang dikendarainya.

Mengetahui hal ini, polisi langsung bergerak meringkus yang bersangkutan sebelum kabur meninggalkan lokasi kejadian. Lantaran tertangkap tangan, pria yang kini berusia kepala lima itu hanya bisa pasrah saat digelandang petugas ke kantor Mapolres Malang.

”Terhadap tersangka saat ini sudah kami lakukan penahanan, kasusnya masih dalam tahap penyidikan dan pengembangan untuk memastikan dugaan pelaku yang sering melakukan modus serupa kepada beberapa korban lainnya,” tegas Andaru yang juga pernah menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Gresik ini.

Selain mengamankan tersangkanya, polisi juga menyita berbagai barang bukti. Di antaranya uang senilai Rp 20 juta hasil pungli, serta satu unit motor Revo nopol N-5497-JW dan satu unit HP yang dijadikan sarana oleh tersangka, juga turut disita petugas.

”Tersangka kami jerat dengan pasal 12 E dan atau pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tipikor. Ancamannya kurungan penjara maksimal 20 tahun,” tutup perwira polisi dengan pangkat tiga balok dibahu ini.

Reporter : conkArif

Editor / publisher : zai

Facebook Comments