by

Kemenag Sulsel, Gelar Upacara Hari Santri 2019 Dengan Berpakain Sarung

MAKASSAR, BrataPos.com – Ada yang berbeda di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan khususnya Keluarga Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag, karena hari ini mengenakan kain sarung, lengkap dengan baju putih dan pecinya, dan ini terjadi untuk pertama kalinya.

Seperti tampak di Kanwil Kemenag SulSel , ASN, para pejabat eselon III dan IV serta Seluruh Karyawan karyawatinya berdiri di halaman kantor untuk mengikuti upacara.

Sebagai inspektur upacara mewakili Kakanwil Kemenag SulSel, yakni Kabid Penyelenggara Haji dan Umrah H. Kaswad Sartono.

Tak terkecuali hadir kenakan Peci dan kain sarung juga, Kabag TU H. Abdul Wahid, Pembimas Katolik Antonius Untung Nugroho dan Pembimas Hindu Simon Kendek Paranta, beserta jajarannya.

Upacara Hari Santri sarat nuansa harmoni keragaman. Ini senada dengan pesan yang di sampaikan Kabid PHU, H. Kaswad Sartono selaku inspektur upacara.

“Pesantren adalah laboratorium perdamaian, tempat menyemai ajaran Islam rahmatan lil alamin,” ujarnya di Makassar, Selasa 22 Oktober 2019.

Menurut Kaswad saat membacakan Sambutan Sekjen Kemenag RI, Nurkholis Setiawan atas nama Menteri Agama RI, santri terbiasa dengan keterbukaan kajian dari berbagai kitab, bahkan lintas madzhab.

Santri di didik belajar menerima perbedaan dari sumber hukum otentik. Santri terbiasa dengan moderasi dalam beragama.

“Moderasi penting bagi masyarakat plural sehingga keberagamaan dapat disikapi bijak serta toleransi dan keadilan terwujud,” tandasnya.

Hari Santri di tetapkan oleh Presiden Joko Widodo dengan Keppres No. 22 tahun 2015 dan sejak itu, 22 Oktober di peringati sebagai Hari Santri.

Hari Santri tahun 2019 kali ini mengusung tema “Santri untuk Perdamaian Dunia”. tema ini sangat relevan karena pesantren di anggap merupakan laboratorium perdamaian.

Lanjutnya, ada sembilan alasan pesantren di sebut sebagai laboratorium perdamaian. Pertama, tumbuh suburnya kesadaran harmoni beragama dan berbangsa di kalangan pesantren. Ini di buktikan dengan perjalanan perjuangan kemerdekaan bangsa hingga tercetusnya resolusi jihad dan perang melawan PKI, semua tidak lepas dari peran pesantren.

Karena Santri memegang teguh ajaran Kiyainya yakni “Hubbul wathan minal iman” bagian dari nilai yang terus di ajarkan di pesantren,” terang Kaswad

Alasan kedua, lanjut Kamaruddin, metode mengaji dan mengkaji di pesantren sangat khas. Selain transfer ilmu, pesantren juga mengajarkan keterbukaan kajian dari berbagai kitab, bahkan lintas madzhab. “Santri dididik belajar terima perbedaan dari sumber hukum otentik,” tuturnya.

Ketiga, pesantren mengajarkan khidmah dan pengabdian kepada masyarakat dan bangsa. Keempat, pesantren mengajarkan kemandirian, kerjasama dan sikap saling membantu. “Santri terbiasa mandiri, solider, dan suka gotong royong,” lanjutnya.

Alasan kelima pesantren menjadi laboratorium perdamaian, karena di lembaga ini, geralan seni dan sastra tumbuh subur. Hal itu berpengaruh pada prilaku seseorang dalam ekspresi keindahan, harmoni, dan kedamaian.

Keenam, di pesantren banyak kelompok diskusi, mulai dalam skala kecil hingga besar, dari tema recehan hingga yang serius. “Sehingga, santri berkarakter terbuka,” ujarnya.

PicsArt_10-22-07.38.43

Alasan ketujuh, pesantren merawat khazanah kearifan lokal. Pesantren menjadi ruang kondusif untuk menjaga lokalitas. Kedelapan, maslahah (kemaslahatan) merupakan pegangan yang tidak bisa ditawar di kalangan pesantren. “Pesantren tidak suka meresahkan masyarakat, malah membina masyarakat,” tegasnya.

Alasan terakhir, pesantren menjadi ladang penanaman spiritual. Selain Fiqh, santri dilatih tazkiyatun nufus, pembersihan hati melalui amalan zikir dan puasa. “Santri jauh dari intoleransi, pemberontakan, apalagi terorisme,” tandasnya.

Yang unik lagi di Upacara HSN tahun 2019 tadi adalah penggerek Bendera dan Pembaca UUD 45 dan Ikrar Santri serta perangkat upacara lainnya kompak melaksanakan tugas dengan menggunakan Sarungan, bahkan seluruh peserta upacara pun lantang bersemangat bersama-sama menyanyikan Mars Santri dan Yaalal Wathon.

Reporter : hakim

Editor/Publisher : jml

REKOMENDASI UNTUK ANDA