Bandar Narkoba Kelas Kakap di Kota Santri, Terungkap Dipersidangan

by
PicsArt_10-11-07.06.24

GRESIK, BrataPos.com – Sidang lanjutan terdakwa Imam Sukhairi alias Jenglot (40) dan Yuni Dwi Lestari (25) sang bandar narkoba alias sabu-sabu di kota santi digelar di Pengadilan Negeri (PN) Gresik. Kemarin, (8/10/2019).

Pasangan suami istri (pasutri) itu, yang nekat menjadi bandar di kota wali diketahui warga desa Jogodalu, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik.

Terungkapnya bandar narkoba di kota pudak Gresik itu, ketika kedua terdakwa Imam dan Yuni menjadi saksi di Pengadilan Negeri Gresik.

Pasutri Imam dan Yuni menjadi saksi atas kasus terdakwa Saiful (51), warga Desa Mentikan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Yatno Dermanto (49), warga Dusun Jatitani, Desa Keret, Kecamata Krembung, Sidoarjo dan Sunyoto (53), warga Dusun Wates, Desa Centong, Kecamatan Gondang, Mojokerto.

Menurut Imam, tiga orang terdakwa yaitu Saiful, Yatno Dermanto dan Sunyoto ikut ke Surabaya ada yang sebagai sopir dan teman untuk mengangkat belanja baju-baju di Surabaya. Sebab, tidak mungkin istrinya belanja sendiri dan mengangkatnya sendiri.

Saat Jaksa Febrian Dirgantara mencecar pertanyaan sempat bersitegang. Pasalnya terdakwa memberikan keterangan tidak konsisten. Bahkan bisa dibilang berbelit-belit.

Hal itu mengundang reaksi dari jaksa yang geram atas jawaban yang diberikan oleh terdakwa. Dalam persidangan bandar sabu ini setiap hari mengkonsumsi sabu. Bahkan istrinya juga mencicipi barang haram tersebut. “Jadi bandar sabu sudah 5 bulan pak Jaksa,” katanya.

Untuk menjalankan bisnis terlarang itu, Imam mengaku selalu tertutup kepada istri, keluarga dan tiga terdakwa. Bahkan untuk mengambil sabu-sabu di Surabaya, Imam selalu numpang mobil istrinya yaitu Yuni saat ngambil busana di Surabaya.

“Saat mengambil barang itu (sabu), saya pura-pura izin keluar mobil untuk kencing. Dan selama dalam mobil, saya komunikasi dengan handset, sehingga istri dan mereka (tiga terdakwa) tidak tahu kalau saya akan mengambil sabu,” imbuhnya.

Usai mengambil sabu, tiga terdakwa diajak memakai sabu secara gratis di rumah salah satu terdakwa. Sedangkan istrinya juga diajak nyabu di rumah sendiri di desa Jogodalu, Kecamatan Benjeng, Gresik. Saksi Imam juga telah menyiapkan paket hemat sabu-sabu yang siap diedarkan.

Terbongkarnya bisnis narkoba jaringan lapas Madiun ini bermula ketika petugas Satnarkoba Polres Gresik menangkap Yatno dan tiga temannya dalam satu mobil Suzuki Ertiga W 1560 ZA di Jl Raya Boboh, Kecamatan Menganti, Gresik.

“Saat diminta keluar dari mobil, barang itu (sabu) saya lempar ke dalam mobil. Kemudian saya keluar dan membeli diri, sebab saya tidak bawa apa-apa. Setelah digeledah dalam mobil, baru ditemukan barang itu dalam tas oleh anggota polisi,” katanya.

Dari penangkapan itu, Imam mengakui telah membeli sabu dari Surabaya. Kemudian dikembangkan oleh anggota Satnarkoba Polres Gresik dengan menggeledah rumah terdakwa Sunyoto. Sehingga ditemukan 160,84 gram narkoba yang disembunyikan di dalam bantal.

Dalam keterangan kedua saksi Imam dan Yuni yang berkasnya terpisah itu, tiga terdakwa membenarkan keterangan saksi. “Betul majelis hakim,” kata tiga terdakwa secara kompak.

Sementara Yunita Rafika Sari, Penasehat Hukum terdakwa usai sidang mengatakan, ia tetap koperatif pada sidang berikutnya. “Fakta persidangannya seperti ini. Ya kita lihat saja nanti sidang-sidang berikutnya,” katanya.

Reporter : jml
Editor/Publisher : wit

Facebook Comments