Politisi Partai Gerindra Tuding Pengerjaan Irigasi Di Desa Winong Asal Jadi

by
IMG-20191012-WA0233

Trenggalek , Bratapos.com – Proyek saluran irigasi yang berlokasi di Desa winong Dusun Bengle Rt 07 Rw 03 kecamatan tugu kabupaten trenggalek milik Dinas PUPR trenggalek kembali disorot Tokoh politisi dari partai Gerindra Nurhadi atau yang lebih akrab di pangil Nur Cepek . Karena, dinilai pengerjaannya asal – asalan dan selama awal pengerjaan tidak terpasang papan nama proyek.

Sorotan miring tersebut disampaikan secara langsung Saat di temui bratapos di kantor Gerindra Saptu 12/10/2019 mengatakan, selama pengerjaan proyek saluran irigasi dikerjakan dalam memasang batu untuk pasangan galiannya bisa dikatakan dangkal dan tidak mengunakan batu raen seperti pengerjaan proyek irigasi pada umumnya.

IMG-20191012-WA0236

“Batunya hanya dipasang berjajar begitu saja dan finishingnya dibuat bulat – bulat seperti mirip raen. Sehingga, ukuran batu tidak tertata rapi.selain itu dalam sistem pengerjaan adukan material juga secara manual tidak mengunakan molen Begitu juga dengan papan nama pengerjaan proyek tidak terpasang sama sekali. seperti di desa Sambirejo pembenahan irigasi proyek yang sama dikerjakan oleh Dinas PUPR trenggalek juga . Proyek tanpa papan nama ini sama halnya seperti proyek siluman yang tidak jelas dari dinas mana yang merealisasikan proyek itu,”Ungkapnya.

IMG-20191012-WA0235

Lanjut Nurhadi pasalnya, proyek pembangunan irigasi yang ada di beberapa titik di bawah kendali Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) trenggalek terdapat pekerjaan yang diduga tidak sesuai spesifikasi teknis. Menurutnya, ini uang dari rakyat untuk rakyat beliau sangat menyesalkan pembangunan jaringan irigasi yang terkesan asal jadi dan dipastikan telah merugikan keuangan Negara. “Saya yakin campuran bahan tidak sesuai rancangan anggaran biaya yang sudah ditetapkan,” ucapnya

IMG-20191012-WA0234

“Kita sebagai warga tetap apresiasi atas adanya pembangunan jaringan irigasi tersebut, namun bila melihat kualitas bangunan dikerjakan asal jadi bangunan itu terasa sia-sia saja. Sebab tidak akan bertahan lama. Kalau kualitasnya buruk maka yang dirugikan banyak pihak, pemerintah dan juga masyarakat, karena seharusnya bangunan bisa tahan sampai dengan lima atau 10 tahun, tapi masih tahap pekerjaan sudah rusak,” ucapnya.

sementara pengawas kegiatan hendak di kunfirmasi bratapos di tempat kegiatan di lapangan hanya tutup mulut saja atau merasa tidak tau menahu ditanya soal pekerjaaan seakan menutupi saat di singgung terkait seberapa anggaran yang di gunakan.

Reporter : ( yanto )

Editor / publisher : zai

Facebook Comments