Hukuman Kebiri dan Budaya Patriarki

by
Gambar di ambil https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:
Gambar di ambil https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:The_Mutiliation_of_Uranus_by_Saturn.jpg

Penulis :

Nurul Hidayati, M.Psi, Psikolog.

Dosen Univ’45 Surabaya.

Psikolog Puspaga Surabaya

Pertama kali hukum kebiri terhadap seorang pelaku pemerkosaan terhadap 9 anak di Mojokerto diberitakan oleh TEMPO.CO Muhamad Aris, 20 tahun, warga Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, terpidana perkosaan anak dikenai pidana tambahan kebiri kimia oleh Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto. Dalam perkara nomor 69/Pid.Sus/2019/PN. Mjk tersebut, Aris juga diganjar pidana penjara 12 tahun dan denda Rp100 juta subsider enam bulan pidana kurungan. Putusan PN Mojokerto dikuatkan putusan banding di Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Timur, 18 Juli 2019. Terdakwa menerima putusan banding tersebut.

Aris juga jadi terpidana dalam perkara perkosaan anak dengan di wilayah hukum Kota Mojokerto dengan nomor perkara 65/Pid.Sus/2019/PN. Mjk. Ia diganjar penjara 8 tahun dan denda Rp 100 subsider enam bulan pidana kurungan. Ia banding ke pengadilan tinggi namun belum ada putusan hukum tetap.

Dalam penyidikan polisi, ada sembilan korban yang disetubuhi Aris di wilayah hukum Kabupaten Mojokerto serta dua korban di wilayah Kota Mojokerto. Sehingga total ada 11 korban yang disetubuhi secara paksa selama kurun waktu 2015 hingga 2018. Namun dalam persidangan di PN Mojokerto, hanya dua perwakilan dari keluarga yang bersaksi di pengadilan, satu korban dalam perkara di Kabupaten Mojokerto dan satu korban dalam perkara di Kota Mojokerto. Perbuatan yang dialami dua korban terjadi pada 2018.

Salah satu anggota majelis hakim yang menangani dua perkara Aris, Erhamudiin, mengungkapkan kesadisan yang dilakukan Aris pada korbannya. “Dalam persidangan, terdakwa mengakui menyetubuhi lebih dari satu korban. Terdakwa juga menyeret dan membekap korban. Bahkan ada yang disobek kemaluannya (korban) dengan tangan (terdakwa) supaya alat kelaminnya bisa masuk,” ujar Erhamuddin yang juga juru bicara PN Mojokerto, Senin, 26 Agustus 2019.

Lalu apakah hukuman kebiri itu ?

Diambil dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kebiri, Praktik pengebirian sudah dilakukan manusia bahkan jauh sebelum tercatat dalam sejarah. Kebiri kadang kala dilakukan atas dasar alasan keagamaan atau sosial di budaya tertentu di Eropa, Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, dan Asia Timur. Setelah peperangan, pemenang biasanya mengebiri dengan memotong penis dan testis mayat prajurit yang telah dikalahkan sebagai tindakan simbolis “merampas” kekuatan dan keperkasaan mereka. Laki-laki yang dikebiri orang kasim biasanya dipekerjakan dan diterima pada kelas sosial istimewa dan biasanya menjadi pegawai birokrasi atau rumahtangga istana: khususnya harem.Pengebirian juga muncul dalam dunia keagamaan. Sementara beberapa agama seperti agama Yahudi sangat melarang praktik ini. Kitab Imamat misalnya secara khusus melarang orang kasim atau yang alat kelaminnya cacat untuk masuk menjadi biarawan Katolik, sebagaimana tradisi sebelumnya melarang hewan kebiri untuk dikorbankan.

Dalam sejarah Tiongkok, orang kasim atau disebut sida-sida diketahui memegang kekuasaan yang cukup besar di istana, terkadang merebut kekuasaan dari kaisar yang sah, seperti disebutkan dalam sejarah dinasti Han, dan masa menjelang akhir dinasti Ming. Peristiwa yang sama juga dilaporkan terjadi di Timur Tengah.

Pada masa purba, pengebirian juga melibatkan pemotongan seluruh alat kelamin pria, baik testis sekaligus penis. Praktik ini sangat berbahaya dan kerap mengakibatkan kematian akibat pendarahan hebat atau infeksi, sehingga dalam beberapa kebudayaan seperti Kekaisaran Byzantium, pengebirian disamakan dengan hukuman mati. Pemotongan hanya testisnya saja mengurangi risiko kematian.

Pembedahan untuk mengangkat kedua testis atau pengebirian secara kimia secara medis mungkin dilakukan sebagai prosedur pengobatan kanker prostat. Pengobatan dengan mengurangi atau menghilangkan asupan hormon testosteron baik secara kimia ataupun bedah dilakukan untuk memperlambat perkembangan kanker. Hilangnya testis yang berarti hilangnya pula hormon testosteron mengurangi hasrat seksual, obsesi, dan perilaku seksual.

Kaum transseksual laki-laki yang merasa dirinya perempuan ada yang menjalani prosedur orchiektomi, penghilangan alat kelamin laki-laki, sebagai bagian dari operasi ganti kelamin dari laki-laki menjadi perempuan.

Budaya Patriarki Di Masyarakat Kita

Bahwa Tindak pidana perkosaan itu tidak selalu karena kebutuhan seksual, tetapi seringkali karena hasrat berkuasa (need of power). Dimana, pelaku (biasanya laki-laki) merasa menyalurkan dominasi kekuasaannya terhadap korban (baik perempuan dewasa, anak-anak, atau laki-laki lain).

Sesuai kultur patriarki, budaya patriarki adalah akar munculnya berbagai kekerasan yang dialamatkan oleh laki-laki kepada perempuan. Atas dasar “hak istimewa” yang dimiliki laki-laki, mereka juga merasa memiliki hak untuk mengeksploitasi tubuh perempuan. Secara historis, patriarki telah terwujud dalam organisasi sosial, hukum, politik, agama dan ekonomi dari berbagai budaya yang berbeda. Bahkan ketika tidak secara gamblang tertuang dalam konstitusi dan hukum, sebagian besar masyarakat kontemporer adalah, pada praktiknya, bersifat patriarkal. https://id.wikipedia.org/wiki/Patriarki, yang banyak dianut masyarakat kita, alam bawah sadar laki-laki merasa laki-laki lebih superior dari perempuan, apalagi anak-anak perempuan. Salah satu simbol superioritas laki-laki adalah penis (alat kelamin), sehingga hukuman kebiri dapat “melukai” dan “mendegradasi” harga diri dan perasaan superior tersebut.

 

EDITING/PUBLISH : WIT

Facebook Comments