by

Wisata Pemancingan Di Kota Pati

PATI, Bratapos.com – wisata pemancingan ini juga telah berjejer restoran dari yang besar hingga yang paling sederhana, menyediakan berbagai macam olahan ikan.

Jika wisatawan ingin membakar atau mengolah sediri ikan yang telah di tangkapnya, sudah tersedia segala peralatannya.

Tak terhitung lagi jumlah wisatawan yang telah berkunjung di sana, menikmati indahnya air tawar yang terhampar tenang bersama lezatnya ikan bakar yang memanjakan lidah.

Bagi mereka yang datang untuk melakukan rapat atau gathering juga sudah tersedia ruangan yang memadai. Lalu setelahnya bisa segera membakar ikan dipinggir kolam, indah bukan?

Dan, bagi Media  Bratapos.com, sebuah kesaksian eksentik alam, dan potensi lokal pati , Tempat iniibarat syurga yang paling nyaman untuk mengumpulkan lalu menuangkan inspirasi, semilir angin di antara hamparan rumput yang berada dipinggir kolam adalah teman terbaik dalam menggoreskan pena. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Pusat kota Pati,  Berada di  ujung selatan sekitar 17 km dari kota Pati, Jawa Tengah, desa ini berada dekat dengan perbukitan Sukolilo. Desa yang sekarang telah menjadi pusat wisata pemancingan ini dulunya bukanlah desa yang indah.

Sekita 30 tahun yang lalu desa ini cukup terpencil, memiliki jarak tempuh sekitar 2 km dari jalan raya atau kurang lebih memerlukan  satu jam berjalan kaki, mengingat pada saat itu tak banyak orang yang memiliki kendaraaan bermotor, sehingga satu-satunya cara adalah dengan berjalan kaki untuk sampai disana.

Kendaraan yang paling istimewa pada saat itu adalah sepeda ontel atau dokar yang hanya dimiliki oleh beberapa orang saja.

Dokar adalah sebutan bagi kendaraan roda empat yang ditarik oleh tenaga kuda.

Biasanya kendaraan ini hanya di gunakan oleh mereka yang membawa banyak barang dagangan dari pasar, namun apabila tidak memiliki barang bawaan maka jalan kaki melewati hamparan ladang dan sawah akan menjadi pilihan.
Pada awal tahun 80- an jalanan masih belumlah beraspal, sangat terjal dengan medan yang cukup berat apalagi jika baru saja hujan, banyak berlobang tergenang air, licin dan berlumpur.

Ketika malam tiba hanya ada lampu sentir yang menemani dari maghrib hingga pukul 20.00 malam.

Yaitu obor kecil yang terdiri dari sumbu atau benang besar dan minyak tanah yang di hubungkan dengan botol kecil. Hal tersebut karena aliran listrik belum sampai disana.

Sungguh syahdu dan nyaman tempat ini karena tak ada suara hingar-bingar musik maupun desing kendaraan bermotor.

Hampir tak ada aktifitas apapun yang bisa dilakukan pada saat petang mulai datang.

Orang-orang akan segera beranjak ke peraduan setelah sholat isya’. Sudah tidak akan lagi ditemui suara orang-orang yang saling beradu mulut atau apapun kecuali suara kadok dan jangkrik yang saling bersahutan.

Hal terindah terindah adalah ketika bulan mulai menyembul dari balik celah-celah bilik kayu tiap rumah warga.

Ada yang sengaja menggelar tikar didepan rumah, bercengkarama dan berbaring dibawah sinar rembulan yang semakin besar pada pertengahan bulan, Indah sekali. Pemandangan yang sudah sangat sulit ditemui sekarang ini. Ketika malam ahad tiba, inilah malam silaturrahmi.

Saatnya semua orang berkumpul menikmati hiburan televisi dirumah salah satu warga yang memilikinya.

Hanya ada dua atau tiga orang saja dalam satu desa yang memiliki benda ini, TV adalah harta paling mewah dan mahal dalam kurun waktu tahun 80-90an, itupun hanya berwarna hitam putih dan hanya ada satu channel yaitu TVRI saja.

Bagi warga kaya pemilik televisi, mereka sudah akan sibuk mengisi accu ke kota pada jumat sore yang akan digunakan untuk menghidupkan TV pada malam ahad. TV akan di keluarkan dari rumah menuju teras agar seluruh warga dapat ikut menikmatinya.

Ini seperti sebuah pesta rakyat yang sangat menyenangkan, para penonton rela berdesakan bersama anak, istri dan warga lain diatas hamparan tikar sederhana yang di gelar dari isya’ hingga sekitar pukul 12.00 dini hari, maklum pada saat itu acara televisi akan berakhir pada pukul 00.00 wib itupun hanya pada malam minggu saja, pada malam-malam yang lain biasanya telah selesai pukul 22.00 wib. Pada malam minggu ini para pedagang juga berjejer menjajakan jualannya, semakin menambah semarak suasana malam, gulali atau kembang gula adalah jajanan terenak pada masa itu.

Masa yang sangat luar biasa, tak banyak konflik, tak banyak perbedaan, tak banyak tuntutan, dan tak perduli dengan urusan politik dalam pemerintahan.

Warga hidup nyaman dan damai. Namun begitu, ada satu catatan penting yang masih terus terjadi hingga kini. Desa Talun ini akan selalu terendam banjir tiap tiga tahun sekali.

Pada zaman itu banjir merupakan musibah yang akan selalu menyisakan tangis bagi warga.

Banjir bandang yang datang setinggi lutut orang dewasa atau lebih akan mengambil semua harta yang dimiliki orang-orang desa Talun ini, padi yang sudah dipanen, ternak, dan segala hasil bumi akan hilang terseret arus yang tiba-tiba datang. Rumah tergenang air dalam beberapa hari membuat warga tidak bisa berbuat apa-apa, bantuanpun tak ada yang datang karena akses informasi tak semudah Hari ini.

Yang paling menyedihkan, ketika banjir telah pergi maka berganti dengan kekeringan yang melanda. Banyak sumur yang tidak lagi dapat mengeluarkan airnya.

Warga harus rela antri mengambil air di daerah lain yang memiliki sumber mata air cukup besar namun berada sangat jauh, sumur seperti ini hanya ada di beberapa titik saja dalam satu wilayah. Alhasil perlu berjalan minimal satu kilometer hanya untuk mendapatkan air bersih, berdesakan dengan warga lain dan membawanya pulang dengan menggendong serta berjalan kaki. kini, desa Talun bukan lagi desa yang hanyut dalam tumpukan ketertinggalan. Dia telah menjelma menjadi sebuah kota kecil dengan segala hiruk-pikuk aktifitasnya.

Jalanan yang mulus, rumah-rumah bertingkat dengan tembok tinggi tumbuh menjamur pada setiap jengkal tanah. Masjid-masjid yang berdiri megah menandakan setiap penduduk hidup kian makmur. Bahkan terlalu sulit  menemui orang yang tidak memiliki tempat tinggal tidak bagus.

Gemerlap lampu menyala menandai betapa indahnya rumah-rumah disana, mobil dan motor berjejer dalam satu keluarga. Mereka telah bangkit melalui pendidikan dan menjadi perantauan hingga ke negri sebrang.

Semoga penduduk desa Talun akan tetap religius dalam beragama sebagaimana para pendahulunya.

Reporter : Sholihul Hadi

Editor : Dr

Publisher : Redaksi

REKOMENDASI UNTUK ANDA