by

Tangerang Dalam Perjalanan Sejarah

TANGERANG, BrataPos.com – Tangerang dalam perjalanan sejarah adalah tema seminar sehari yang digelar pada 15 Agustus 2019 yang lalu. Bicara tentang sejarah Tangerang perlu untuk diangkat, kecil atau tidaknya kisah itu, tetap memiliki nilai yang bermakna.

Terutama bagi generasi kedepan. untuk menganalisanya, perlu disisipkan teori sejarah. Teori yang digunakan beragam, diantaranya teori sejarah lokal dan teori sejarah lisan.

Penelitian dan penulisan sejarah Tangerang, terutama tentang kiprah orang Tionghoa, perlu dikembangkan. Tangerang merupakan bandar dagang internasional sejak zaman kerajaan Sunda dan Banten.

Tome Pires dalam bukunya Suma Oriental, pernah datang dan menggambarkan keadaan pelabuhan Tangerang yang disebutnya sebagai Tamgaram pada abad 16. Sungai Cisadane bertindak sebagai penghubung masyarakat pedalaman dan pesisir. Orang Tionghoa berperan penting dalam menghidupkan kegiatan niaga di Tangerang, khususnya di bidang perniagaan dan perkapalan.

Orang Tionghoa menjadi elemen penting dalam perdagangan Banten abad 16 dan 17, mereka tinggal di wilayah khusus yang bernama Pecinan. Cina: kampung Hakka sedang Melayu sebut Bangka. Yang lain: Naisifuk, Thiatpu, yungfohin dll. Disana, terdapat perumahan, Gudang dan toko orang Tionghoa.

Dua orang Syahbadar Banten berdarah Tionghoa, yakni Syahbandar Kaytsu dan Syahbadar Cakradana. Syahbandar merupakan jabatan yang mengatur pelabuhan dan pasar di suatu kerajaan.

Syahbandar mempunyai hubungan yang erat dengan pedagang di dalam dan luar negeri, utamanya jejaring Asia. Lada menjadi komoditas utama yang dicari orang Tionghoa.

Dalam buku Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2, Denys Lombard menyebutkan bahwa terdapat orang Tionghoa yang bekerja sebagai petani lada. Beberapa yang lain, ada yang memiliki industri pembuatan gula.

Ketika VOC berhasil menundukkan Banten di penghujung abad 17. Hal utama yang mereka inginkan adalah sebanyak mungkin mendatangkan orang Tionghoa Banten ke Batavia.

Orang Belanda sadar bahwa jika perekonomian ingin maju, maka harus mengajak serta pedagang Tionghoa. Tang Lang atau orang dari (dinasti) Tang, yang pada perkembangannya berubah menjadi Tangerang. Tamgaram, sebagaimana yang dicatat Tome Pires dalam Suma Oriental.

Dari informasi ini diperoleh pemahaman bahwa sudah sejak abad 16 kata “Tangerang” disebut. Sementara Tengger atau Tenggeran yang artinya “batas” atau “tanda” yang baru muncul sekitar abad 17 dan 18. penyebutan ini muncul ketika terjadi peperangan antara pasukan VOC dan pasukan Banten. Dinasti Tang merupakan kerajaan besar di Tiongkok sejak 618-907 Masehi.

Dinasti Tang sezaman dengan Kerajaan Dinasti Umayyah di Arab dan Sriwijaya di Nusantara Ketiganya membentuk segitiga emas perdagangan dunia.

Orang Tionghoa senang dengan sebutan Tang Lang (orang Tang), karena Tang merupakan imperium Tiongkok yang sangat terkenal saat itu.

Dari sebutan Tang Lang dialek dari Hokkian, chiocau, Hakka dan Kanton ini kemudian menjadi Tangerang Tome Pires (1468-1540 M) mengunjungi Tagerang yang menurut pelafalannya ditulis dengan nama Tamgaram. Catatannya memang tidak menyebut sejarah atau asal kata Tangerang, namun penyebutan nama Tamgaram di buku Pires dapat menjadi pegangan alternatif guna menyusuri akar kata Tangerang.

Setidaknya, catatan Pires dapat menjadi peneguhan historis bahwa nama Tangerang sudah disebut sejak abad 16. Di abad 17 dan 18, sekitar kawasan Tangerang, tepatnya di sekitar Cisadane, merupakan wilayah konflik pasukan Banten melawan VOC.

Sultan Banten memerintahkan pembangunan pembatas (tengger) antara wilayah bawahannya dan daerah bawahan Kompeni dalam bahasa Sunda kata batas atau pembatas disebut “tengger” atau dalam bahasa Jawa disebut “tetengger” yang pada perkembangannya berubah dan dikait-kaitkan menjadi Tangerang.

Di masa Sultan Ageng Tirtayasa, pernah terjadi suatu perang di wilayah Angke. Episode perang ini direkam dalam literatur lokal yakni Sajarah Banten. Dikisahkan bahwa pasukan VOC kesulitan menghadapi serangan pasukan Banten dan berakhir dengan gencatan senjata dan meneken perjanjian pada 10 Juli 1659. Lokasi pertempuran berada di sekitar Angke, Tangerang. Sejarah orang Tionghoa layak dimuat dalam sejarah Tangerang serta sejarah Indonesia pada umumnya.

Sudah saatnya diberikan penghargaan yang sepatutnya kepada para pejuang Tionghoa di Tagerang seperti Lie Eng Hok yang hidup sezaman dengan Daan Mogot.

Ketokohan para arya di Tangerang yakni Arya Yudanagara, Arya Wangsakara dan Arya Jaya Santika juga perlu dikaji untuk bisa diusulkan sebagai pahlawan nasional dari Tangerang. Riwayat dan kisah perjuangan ketiga para Aria tersebut juga dipaparkan pada sesi ke-2 dalam seminar tersebut oleh TB. Moggi Nurfadhil, S. Sos., M.A. (Budayawan dan Ketua pemangku Adat Ke Arya-an Tangerang).

Demikian makalah yang di presentasikan oleh Prof. DR. Dien Madjid, tidak jauh berbeda seperti juga hal yang ditegaskan kembali oleh Bambang permadi, SE., M.Hum, yang menjelaskan bahwa sekitar satu abad sebelum masuknya Portugis ke Asia Tenggara, dari kitab Tina Layang Parahyangan memberitakan, tahun 1407 diteluk naga mendarat sekelompok orang Cina yang dipimpin Chen Chi Lung (Halung).

Selanjutnya menetap disekitar bantaran kali, sungai cisadane dan terus berkembang menuju hulu. Mereka beradaptasi, berasimilasi serta melakukan kawin silang dengan perempuan lokal yang selanjutnya melahirkan satu peranakan baru yang sekarang dikenal dengan sebutan Cinbeng (Cina Benteng).

Hadir delapan narasumber dari dua kajian disiplin ilmu antara lain Prof. DR. Dien Madjid Guru Besar Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif hidayatullah Jakarta, Johan Wahyudi, M.Hum Dosen dan Peneliti Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Bambang Permadi, SE,. M.Hum. Dosen dan Peneliti Sejarah dari STAI Al- Aqidah Al-Hasyimiayyah. Jakarta untuk kajian Sejarah pada sesi pertama dengan Moderator Ardi Susanto, SH.

Dilanjutkan pada sesi kedua dengan Moderator Wuri Dian Trisnasari, S.S,. M.Pd. Adalah DR. Allan Frank Lauder, M.A (Keynote Speaker) Dosen Tamu di Universitas Indonesia Prof. DR. Multamia MRT Lauder, S.S,. M.Se,. D.E.A Guru besar Linguistik, Fakultas ilmu pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Jakarta.

DR. Yeyen Maryani, M.Hum (Badan Bahasa dan Perbukuan. Dinas Pendidikan Provinsi Banten) serta DR. Lilie Suratminto, S.S, M.A. Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora Universitas Budhi Dharma Tangerang yang membahas untuk kajian bahasa.

Pada sesi ini dapat di tegaskan bahwa secara verbal kata Tanglang (Bahasa Hokkian) dan Tangren (Bahasa Mandarin) menjadi referensi atas lahirnya nama Tangerang. Terlebih menurut kajian sejarah yang secara periodesasi sudah muncul sejak abad ke-16 jauh sebelum kata Tetengger/ Tangeran yang baru muncul pada abad Ke-17.

Ditengah acara seminar yang dibuka oleh Ibu Rd. Hj. Rina Hernaningsih, SH,. M.H. Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Tangerang dan di hadiri pula Maftah. H perwakilan dari Disporabudpar Kabupaten Tangerang. Meski disayangkan tidak nampak satupun delegasi dari pemda Tangerang Selatan. Kendati pihak panitia telah mengundang seluruh pemeritah daerah dan dinas terkait se-Tangerang Raya.

Tidak adanya interest atau kurangnya kesadaran dari para kepala daerah tentang pentingnya nilai sejarah sangat disesali banyak pihak.

Terutama para peserta seminar yang terdiri dari tokoh masyarakat, organisasi dan komunitas masyarakat serta lembaga-lembaga yang memang tertarik untuk datang ke Gedung Cisadane Lt.4 tempat acara diselengarakan, dari pukul 10.00 sampai dengan 18.00 WIB. Mungkin para kepala daerah tengah lupa, bahwa pendiri republik ini pernah berpesan.

“Jangan pernah Sekali-kali melupakan sejarah. Tapi itulah deskripsi atas satu kegiatan yang digagas oleh lembaga Sosial Budaya “Benteng Kita” bersama Universitas Budhi Dharma.

Tangerang yang cukup semarak oleh para peserta. Namun luput dari perhatian para penguasa……..inalilahhi wa ianillaihi rojiun ! Bu. Serunya.

Penulis : Acep Taufik Rahman, Sekretaris Umum dan Pendiri Lembaga Sosial Budaya “BENTENG KITA”/soleh

Editor/Publisher : jml

REKOMENDASI UNTUK ANDA