Tepat HUT RI Ke-74, H. Ahmad Fathoni Bos ABR Mencari Keadilan

by
PicsArt_08-16-05.49.47

GRESIK, BrataPos.com – Merasa keadilan tidak berpihak. H. Ahmad Fathoni bos Perumahan Alam Bukit Raya (ABR) menceritakan duduk perkara pidana maupun perdata yang dialaminya.

Ia pun mengungkapkan di hari spesial yakni HUT Kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke-74, tahun 2019 ini.

Sebenarnya hubungan hukum dengan Pak Njono Budiono masalah pribadi. Karena awalnya menawarkan hutang piutang sebesar Rp 18.5 Miliar. Namun yang terjadi hanyalah 10.3 miliar dengan bunga 18 persen pertahun pada tahun 2004.

Pada bulan 7 tahun 2005, Pak Njono Budiono uang sebesar 10.3 miliar diminta untuk dikembalikan. Namun saya mengembalikan hanya 7,6 miliar. Uang tersebut diterima langsung oleh Pak Njono Budiono.

Bukti dalam penerimaan itu, sudah berkekuatan hukum tetap (inkrah) di pengadilan Negeri Surabaya dengan no putusan 571. Namun pada tahun 2011 saya ditersangkakan sampai sekarang saya menjalani hukuman.

Sementara kronologi perusahaan yang dirintisnya telah menemui banyak gangguan baik jasmani maupun rohani. Hal itu saat tidak sengaja bertemu wartawan yang sedang meliput acara remisi di rumah tahanan Kelas IIB Gresik.

Fathoni mengatakan, bahwa dirinya telah terdholimi atau dihinati oleh rekan kerja di perusahaan PT Trisula Bangun Persada (TBP) yang dibangun pada tahun 2002, yang merupakan perusahaan keluarga.

Namun dalam menjalankan bisnis perumahan Alam Bukit Raya (ABR), di Jl Dr Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan Kebomas Gresik, terlibat masalah internal perusahaan. Sebab diduga dihianati oleh rekan kerja yang masih orang dalam perusahaan.

“Hingga sampai terjadi proses hukum, ditahan dan diancam akan dilakukan pembunuhan,” kata Fahoni, yang dikutip oleh istrinya saat menjenguk Abah Fathoni di rumah tahanan kelas IIB Gresik, Jumat (16/8/2019).

Permasalahan internal perusahaan PT TBP lanjut Fathoni, terus berlangsung, sampai saya mengalami sakit strok pada 2006-2007.

Sehingga perusahaan tersebut, diduga dipermainkan oleh orang-orang internal perusahaan. Sampai akhirnya dijerat kasus hukum hingga keluarga dan jamaah toriqotnya tidak terurus dengan baik.

“Bahkan, saat saya melaksanakan acara doa bersama dengan jamaah, didatangi oleh sekelompok orang. Intinya meminta saya untuk menandatangi berkas. Namun akhirnya tidak jadi karena anugrah Allah,” sambung Fahoni.

Ancaman lainnya yaitu, Fathoni ditabrak pengendara motor oleh orang yang tidak dikenal pada tahun 2018, hingga mengalami luka parah dan nyaris gagar otak.

Dari peristiwa demi peristiwa itu, harapannya pada hari kemerdekaan 17 Agustus ini, meminta keadilan sebagai masyarakat asli Indonesia, kelahiran Gresik, 8 April 1959, Desa Kedungsekar, Kecamatan Benjeng Gresik ini segera bebas dan bisa kembali bersama jamaah dan keluarga, karena perkara perusahaan dengan orang internal hanyalah masalah pribadi.

Dalam putusan Mahkamah Agung telah incrah, bahwa secara perdata telah menang. Sesuai putusan MA nomor 118/PDT/MA pada April 2019.

Dari proses hukum dan rintangan yang panjang ini, Fahtoni bersama istri dan jamaah sangat terbantu. Sehingga berterimakasih kepada Bapak Bambamg Sulistomo putra Bung Tomo pejuang Kemerdekaan Indonesia. Sehingga masalahnya bisa segera lurus.

“Dari ini, saya bersama keluarga dan jamaah benar-benar terimakasih kepada Allah telah mengirim seorang bernama Bapak Bambang Sulistomo putra Bapak Bung Tomo pejuang kemerdekaan Indonesia dari yang tidak lurus menjadi lurus,” pungkasnya Fathoni.

Reporter : jml
Editor/Pubkisher : nr

Facebook Comments