Sudah Saatnya Indonesia Melakukan Gerakan Melestarikan dan Membudayakan Minum Teh Nasional

by
IMG-20190802-WA0085

Jakarta – Bratapos.com – Sore hari saya menikmati seduhan teh hijau oolong lokal buatan teman dari Sukabumi, Koh Aling (bukan nama sebenarnya)… Sungguh luarbiasa… warna air oolong yang sedikit agak kemerahan, dengan rasa khasnya, aroma wangi oolong.

Sangat berbeda dari teh lokal yang biasa kita temui di pasar lokal. Padahal di buat dari jenis kloning teh yang sama.

Dalam tulisan kali ini, saya akan mencoba mengulas kondisi hulu industri teh nasional.

IMG-20190802-WA0086

Kondisi Teh Nasional

Sebagai seorang pemerhati teh saya sangat peduli dengan keberadaan kondisi hulu pertehan nasional saat ini yang sangat memprihatinkan.

Biaya produksi yang terus meningkat, tidak sebanding dengan harga jual rata-rata yang berdampak kepada keuntungan yang tipis, bahkan cenderung merugi.

Dikarenakan kondisi usaha yang demikian maka, banyak perkebunan teh terpaksa di terlantarkan, atau beralih fungsi (karena umum di Indonesia seperti itu pola bertaninya).

Menurut informasi dari Senior saya, ada sekitar 2.000 hektar lahan teh beralih fungsi setiap tahunnya. Hal ini sungguh sungguh sangat memprhatinkan dan sangat berbahaya bagi perkembangan Teh di Indonesia, apa sebab ?

Karena bila perkebunan teh berskala besar saja bisa merugi, dan beralih ke komoditi lainnya, apalagi petani teh yang lahannya terbatas.

Melihat dari sudut pandang kondisi industri teh sampai hulu secara umum, dapat dikatakan sedang mengalami MDS (Masa Depan Suram) dan bahkan cenderung bahaya. Meskipun ada beberapa perkebunan teh swasta mendapat peringkat baik di dunia dengan produk teh premiumnya.

Bila masa depan industri hulu tidak terjadi perbaikan yang signifikan, maka potensi pembiayaan dari lembaga keuangan untuk membiayai industri teh hulu menjadi tidak menarik.

Namun, lain di hulu, lain di hilir yang sangat bertolak belakang dengan kondisi di hulu. Begitu banyak merek-merek baru bermunculan.Baik dalam bentuk teh kemasan bubuk, celup, instant, RTD (Ready To Drink), hingga premium tea dengan harga dapat mencapai diatas Rp. 300.000/kg.

Untuk kategori RTD, sedang terjadi trend yang sedang booming saat ini, yaitu bermunculan teh asing seperti Thai Tea, Teh Tarik yang dijual secara “fresh brew” di mal-mal, termasuk resto khusus teh baik merek asing maupun resto teh local yang sudah go internasional.

Bahkan importir teh kemasan juga masuk memperkenalkan teh asing melalui retailer di modern market.

Kondisi ini sebenarnya menunjukkan adanya suatu tanda shifting pada konsumen di perkotaan dimana konsumsi teh mengarah menjadi life style.

Apakah yang sedang terjadi di industri hilir dapat dijadikan tanda akan adanya perbaikan di industri teh bagi hulu?
Belum tentu.

Menurut pendapat saya, bila ingin terjadinya perbaikan di bagian hulu, khususnya pada petani teh, harus ada terobosan “infrastruktur” mulai dari on farm, hingga off farm.

Hal ini dapat di mulai dengan melakukan “kampanye” meningkatkan konsumsi minum teh dari 350 gram perkapita perannum, ke 700 gram perkapita perannum, dengan memperkenalkan teh yang baik.
Caranya, dengan melakukan “GERAKAN MELESTARIKAN & MEMBUDAYAKAN MINUM TEH NASIONAL”.

Saya meyakini dengan kita dapat menaikkan konsumsi minum teh perkapita perannum hingga 700 gram per kapita, maka teh yang dibutuhkan untuk mensuplai kebutuhan tersebut sebanyak (700 gr x 260 juta penduduk indonesia)/1000 gram = 182 juta kilogram = 182.000 ton teh.

Pada tulisan saya sebelumnya, saya sampaikan bahwa produksi Indonesia sekitar 120.000 ton per annum, artinya, bila tidak dilakukan penambahan produlsi di hulu, Indonesia bisa menjadi importir teh kedepannya.

Agar konsumsi di Indonesia meningkat, diperlukan dukungan dari Kementrian Pertanian, dan Perdagangan agar teh yang di jual ke pasar lokal merupakan teh yang berkualitas, seperti teh yang diminum di Sri Lanka, Pakistan, India untuk teh hitam.

Pada kesepakatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada teman-teman media yang mengangkat tulisan saya sebelumnya ke media on line sampai ke media cetak dan digital TV- Sekiranya, tulisan saya ini dapat menjadi informasi yang berguna bagi pelaku teh nasional dan generasi muda selanjutnya…
Sampai bertemu di tulisan selanjutnya…

Bersambung

Salam NYAHI…

Ditulis oleh : Andrews Supit Peracik dan Pakar Teh Kelas Dunia

Reporter : Lucky Harijadi / Rowi

Editor/ Publisher : zai

Facebook Comments