“Air Mata’ Pasutri Lingkar Gunung Sinabung Budidaya ‘Madu Asli Selandi’

by
IMG-20190727-WA0180

TANAH KARO | BRATAPOS.COM – Siapa sangka pasangan suami-istri (pasutri) yang tinggal di lingkar gunung Sinabung bisa budidaya madu. Meskipun masih dengan cara tradisional, pasutri ini bertekad menjadi peternak madu yang sukses di Tanah Karo.

Lewat media Yutube, telah mengantarkan Susianti (33) dan suaminya Alir Bangun (48) menjadi peternak madu di Desa Selandi, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumut.

IMG-20190727-WA0181

Cerita Susianti, bermula pada tahun 2018 ketika dia membuka media YouTube diponselnya. Ia menonton cara beternak madu, dari situ mereka berdua mulai tertarik dan mencoba memelihara lebah.

“ Awalnya hanya coba-coba, siapa tahu bisa membantu meningkatkan perekonomian rumah tangga dan menghidupi delapan orang anak,”ujar Susianti saat dijumpai di ladang ternaknya, Sabtu (27/7/2019).

Karena sebelumnya, untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-harinya. Hanya mengandalkan hasil tanaman pertanian dari ladangnya seluas 2500 meter. Maka dari itu mereka berdua berusaha mencari penghasilan lain.

IMG-20190727-WA0182
Alhasil, pekerjaan yang ditekuni mereka bisa meraut keuntungan hingga jutaan rupiah dengan madu yang diberi nama Madu Asli Selandi. Meskipun masih belum terlihat, karena masih ingin menambah kotak sarang lebah.

Ia mengisahkan, jika dari situlah awal mula berusaha mengembangkan ternak madu. Hanya bermodalkan uang Rp.500 ribu, mereka membuat kotak bersegi empat sederhana sebanyak dua kotak dan ditempatkan di ladang. Selanjutnya lebahnya datang sendiri bersarang dikotak itu untuk menghasilkan madu.

Dari uang hasil penjualan madu yang dipanennya secara tradisional, kotak bersegi empat terus ditambahnya hingga tahun 2019 ini telah memiliki 150 kotak sarang lebah.

“ Pernah kami menangis, karena kotak sarang yang kami buat di sepak orang sampe rusak. Padahal saat itu hasil madu yang dipanen masih sedikit sekitar 13 botol ukuran botol Fruit Tea 255 ml,”ujarnya

Dikatakannya, usaha yang dikembangkannya sangat-sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah dan dinas-dinas terkait. Mulai dari perijinan, BPOM, label dan kemasan. Begitu juga dengan alat-alat panen, yang saat ini masih menggunakan alat tradisional.

“ Sudah ada sich yang mau membantu mengurus soal kemasannya. Kemarin Direktur Bank Sumut Cabang Kabanjahe Pak Zaini yang akan mengurusnya,”sebutnya.

Alat panen yang dibutuhkannya saat ini, sambung Susianti lagi berupa penyaring, alat pengasap untuk menjinakkan lebah madu yang agresif, pakaian pelindung, masker wajah dan kepala, sarung tangan, dan alat lainnya.

Sementara untuk pemasarannya, melalui media online dan dipasarkan sendiri diberbagai tempat. Biasanya banyak juga yang langsung datang ke sini. Ada juga yang langsung pesan lewat telepon, dan dikirim ke berbagai daerah.

“Mulai dari Batam, Dumai, Pekanbaru, Rantau Prapat, Medan, Bandung dan Kalimantan sering pesan disini. Kalau antar pulau dikirim melalui pos, sedangkan daerah yang masih dekat kita kirim melalui bus. Kalau yang dekat-dekat seperti Kabanjahe-Berastagi langsung antar ditempat,”bebernya.

Lebih lanjut diceritakan Susianti, saat ini bisa menghasilkan madu perkotaknya sekitar 13 botol dan dijual seharga Rp.150 ribu/botol. Untuk jellynya sesuai dengan permintaan, harga permangkoknya bervariasi mulai dari Rp.50 ribu-Rp.300 ribu.

Reporter : Bryan

Editor / Publisher : zai

Facebook Comments