Si Positif Negatif ‘Dua Garis Biru’ Menjadikan Orang Tua Selamanya

by
yup

Film Dua Garis Biru sedang hangat diperbincangan. Setidaknya, ada dua kelompok dominan yang membahas film ini. Pertama, kelompok yang mendukung film ini. Bahkan mereka mengusulkan film yang disutradarai oleh Gina S. Noer ini ditayangkan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari pendidikan seksual kepada murid. Kedua, kelompok yang menolak film tersebut tayang di Bioskop. Bahkan, mereka sudah membuat petisi online jauh-jauh hari untuk menolak film tersebut muncul di Biosko-Bioskop kesayangan anda.

Secara garis besar, film ini menceritakan tentang dua orang ramaja yang berhubungan badan diluar nikah. Polemik kehidupan pasca kejadian tersebut satu persatu diceritakan dalam film tersebut. Meskipun tidak secara detail, tapi kurang lebih tergambar bagaimana kemudian suka duka hidup dua orang remaja -yang pada dasarnya belum siap untuk menjadi orang tua- yang berubah karena kejadian tersebut.

Film yang memiliki durasi kurang lebih dua jam setengah itu, terdapat banyak nilai positif negatif. Nilai positif yang didapatkan adalah bagaimana pada akhirnya ‘pendidikan seksual’ yang dianggap tabu tersebut, menjadi sesuatu yang harus dikenalkan kepada anak-anak. Melalui film tersebut terdapat kesimpulan bahwa justru karena remaja-remaja ini minim informasi terkait ‘kalo gue berhubungan badan dengan lawan jenis akibatnya apa?’ mereka seolah menggampangkan hal tersebut. Konsekuensi lain yang coba digambarkan oleh film tersebut adalah masalah hamil diusia muda yang juga beresiko terhadap si perempuan yang dapat mengakibatkan kematian.

Dalam film tersebut, diceritakan bahwa Dara (Zara JKT48) pasca melahirkan menghadapi masa kritis yang berakibat pada pengangkatan rahim. Meskipun dokter juga menceritakan adanya kemungkinan resiko meninggal dunia. Sayangnya, pesan ini tidak tepat sasaran. Atau mungkin Gina S. Noer terburu-buru dengan durasi film yang harus udah selesai sehingga tidak tersampaikan dengan apik. Pengangkatan rahim yang dialami oleh Dara kurang mengena ‘ngerinya’ dikalangan anak muda. Mungkin karena mereka belum terlalu faham tentang keturunan dan bagaimana bermaknanya keturunan bagi perempuan.

Kemudian scene terakhir di film ini jauh sekali dari realitas yang ada di tengah masyarakat. Saat Dara dengan berurai air mata melepaskan anaknya dan melanjutkan mimpinya untuk melajutkan mimpi kuliah di Korea. Mungkin karena si pencipta film ini ingin membulatkan pesan yang memang mendukung perempuan. Padahal gambaran kehidupan yang dibangun oleh cerita ini diawal sudah baik dan cukup sesuai dengan kehidupan nyatanya. Namun sekali lagi, penulis cerita memiliki hak sendiri untuk menentukan akhir ceritanya.

Simbol-simbol yang disampaikan di film ini juga cukup mengena. Seperti kritik keluarga Dara saat mengetahui Dara di DO karena ketahuan hamil. Sedangkan Bima tidak. Serta poster-poster struktur organ intim yang hanya terpajang begitu saja di ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Sedangkan, pencerdasan secara langsung kepada murid tidak dilakukan. Ini merupakan kritik yang selalu digaung-gaungkan oleh teman-teman pendukung feminisme. Wajar jika film ini mendapatkan dukungan dari teman-teman pendukung Pengarus Utamaan Gender ini.

Selain itu, kritik sosial yang diceritakan  dalam film ini adalah keluarga Bima digambarkan berasal dari keluarga  yang agamis dan terkenal taat beragama. Seolah mereka ingin menceritakan bahwa nilai-nilai agama saja tidak cukup untuk mencegah remaja untuk berbuat  zina. Atau dalam scene lainnya, ketika Rachel Amanda yang berperan sebagai kakak Bima berkata “Lu gak pake kondom ya? Bego lu, tolol”. Seolah-olah, kalo pake kondom gak apa-apa. Wajar pula jika hal ini cukup membuat teman-teman dari kelompok agamis menolak film tersebut muncul di Bioskop kesayangan anda.

Terlepas dari berbagai pandangan positif dan negatifnya film ini bisa terfilter dengan apik. Film ini tak hanya bicara isu seksualitas. Juga menggugat ketimpangan gender, sosial, ekonomi yang mengakar di masyarakat. Diarahkan dan ditulis dengan kepekaan tinggi. Dengan kualitas seni peran semua pemain. Film yg layak dibicarakan.

Penulis : Nur Mauladhi Universitas muhamadiyah sidoarjo
Penulis : Nur Mauladhi Universitas muhamadiyah sidoarjo
Facebook Comments