Minimnya Kesadaran Berkendara Pada Anak di Bawah Umur

by
bot

Sudah dari lama sepertinya pemerintah dan kepolisian memberikan pengarahan dan juga mediasi ke sekolah – sekolah dan juga melalui spanduk peringatan dipingir – pingir jalan agar anak dibawah umur tidak dulu mengendarai kendaraan bermotor. Tapi dalam kenyataannya yang banyak terjadi disekitar adalah dimana anak dibawah umur yang rata – rata masih SMP bahkan ada juga yang masih SD sudah mengendarai sepeda motor. Parahnya lagi mereka juga tidak dilengkapi standart keselamatan berkendara seperti helm.

Belum lagi mereka yang juga memodifikasi kendaraan mereka dengan mengubah standart ban sepeda motor, mengganti knalpot dengan knalpot brong, juga aksesoris lainnya yang bisa mengganggu pengendara motor lainnya. Tapi tetap mereka dengan bangganya mengendarai sepeda motor yang sudah tidak sesuai standartnya di jalan raya yang bisa mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.

Pihak kepolisian juga tidak sekali dua kali memeringatkan atau bahkan menilang para anak dibawah umur dengan mengharapkan efek jera dan tidak mengulanginya lagi, tetapi buktinya pada tahun 2018 sebanyak 2.064 dari 4.980 kasus yang ditilang di Gunung Kidul, Yogyakarta adalah anak dibawah umur, di Karangpilang, Surabaya pelanggaran anak di bawah umur sebanyak 61 kasus. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa memang kesadaran anak di bawah umur dalam berkendara motor masih kurang. Padahal sudah dijelaskna dalam Undang – Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas pasal 77 ayat 1 diungkapkan bahwa, “setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sesuai dengan kendaraan yang dikemudikan).

Pada pasal 81, untuk memiliki SIM setiap orang harus memenuhi beberapa syarat, salah satunya adalah usia, untuk SIM A, C, dan D minimal 17 tahun, 20 tahun untuk SIM B I, dan 21 tahun untuk SIM B II.

Dan bila belum memiliki SIM atau pengendara masih di bawah umur maka mengacu pada pasal 281 yang berbunyi, “setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang tidak memiliki SIM dapat dikenakan pidana kurungan paling lama 4 (empat) bulan atau denda 1 (satu) juta Rupiah”.

Dan apabila saat berkendara mengakibatkan kecelakaan dan jatuh korban di pihak orang lain, pengendara anak di bawah umur dapat dikenai beberapa pasal pidana seperti pada pasal 310 ayat 1 sampai 4 yang mengatur denda dan kurungan apabila menyebabkan korban luka ringan, berat sampai meninggal dunia. Denda mulai dari Rp. 1 juta sampai Rp 12 juta serta ancaman kurungan dari enam bulan sampai enam tahun.

Walau sudah ada aturan yang melarang dan juga denda atau hukuman kurungan yang juga akan di dapatkan jika melanggar, para anak di bawah umur ini masih banyak yang mengendarai kendaraan bermotor untuk berangkat kesekolah atau hanya sekedar jalan – jalan ke kota. Tetapi apapun itu alasannya jika memang sudah ada aturan yang melanggar seharusnya tidak dilakukan untuk keselamatan bersama.

Orangtua dalam hal ini juga seharusnya mengerti dan ikut melarang anak – anak mereka agar tidak mengendarai kendaraan bermotor jika belum cukup umur, tetapi kebanyakan dari orangtua lebih memilih anaknnya untuk bisa berkendara agar bisa lebih cepat sampai sekolah atau bahkan hanya karena gengsi dan terlihat bahwa anak mereka sudah bisa berkendara motor. Para orangtua tidak memikirkan akibat yang akan ditimbulkan anak mereka apabila suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan saat di jalan yang mengakibatkan luka atau bahkan hilangnya nyawa seseorang.

Mengutip dari data Satlantas Polrestabes Surabaya, pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh pelajar atau anak di bawah umur sebanyak 56.333 kasus di tahun 2018. Angka yang terbilang besar untuk kasus yang hanya melibatkan pelajar dari total 245.499 kasus pelanggaran lalu lintas di tahun 2018.

Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Eva Guna Pan Pandia mengatakan masalah kesadaran berlalu lintas di kalangan pelajar menjadi atensi khusus bagi jajaran Polrestabes Surabaya.

Pandia mengatakan bahwa masalah pelajar adalah menjadi atensi khusus pihak kepolisian. Karena, para orang tua ini salah kaprah dalam mendidik anaknya. Terlalu sayangnya orang tua kepada anak-anaknya, orangtua dengan mudah menuruti. Saat mereka meminta sepeda motor, sebetulnya orangtua tidak paham kalau anaknya masih di bawah umur dan tidak memiliki SIM. Orangtua tidak tahu risikonya bagaimana.

Dan juga Pandia mengungkapkan bahwa salah satu cara untuk menekan terjadinya pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh para pelajar adalah peran dari orangtua dan pihak sekolah.

Pandia menambahkan bahwa pihak kepolisian terus melakukan sosialisasi kepada para pelajar di jalan dan di sekolahan, tapi yang paling penting adalah peran orangtua dan para pendidik sebab mereka adalah orang yang paling intens berinteraksi. Mereka juga memiliki peran sangat penting dalam menginggatkan, meski progam besar sosialisasi kepolisian adalah itu.

Dari pernyataan diatas memang tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini sudah terlanjur jika menyuruh anak di bawah umur maupun pelajar yang belum memiliki SIM untuk tidak mengendarai kendaraan bermotor, tetapi sebagai orangtua juga tidak ada salahnya jika memberikan pengarahan lagi dan nasehat agar mereka mau menunggu untuk cukup umur jika ingin mengendarai kendaraan bermotor, Hal ini juga berlaku bagi pihak sekolah dalam menerapkan aturan baru agar para pelajarnya bisa menaati peraturan lalu lintas dan bisa aman dalam menuntut ilmu ke sekolah.

IMG_20190606_110621
Penulis : Aditya Eka Putra Yurianto Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Facebook Comments