by

PT BSB, Abaikan Surat Perjanjian Dengan Terdakwa H. Mahmud

GRESIK, Bratapos.com – Sidang lanjutan perkara dugaan penggelapan dan penipuan dengan terdakwa Caleg Nasdem Gresik terpilih, H. Mahmud (54) terus bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Gresik. Kemarin (11/7/2019).

Dalam sidang kali ini, ada beberapa saksi yang hadirkan oleh tim jaksa penuntut umum (JPU), diantaranya Agus Sulistiyo yang menjabat HRD di PT BSB serta sebagai pelapor, Andik Siswanto sebagai Direksi, dan Kastar sebagai makelar juga mantan Kepala Desa Purwodadi, Sidayu Gresik.

Banyak fakta yang terungkap dalam persidangan yang dipimpin majelis hakim Putu Gede Hariadi. Awalnya Agus Sulistiyo diberi tugas oleh PT Bangun Sarana Baja (BSB) untuk mencari lahan sekitar 50 hektare di desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah-Gresik.

“Saya kenal dengan terdakwa melalui H. Kholik, pada tahun 2012 silam. Waktu itu, terdakwa menjabat sebagai kepala desa Banyuwangi. Selang beberapa bulan kemudian, terdakwa menemukan lahan yang diharapkan oleh PT BSB di desa Banyuurip,” bebernya.

Pada tahun 2013 lanjut Agus, harga permeternya disepakati oleh PT BSB sebeser 180 ribu. Kami pun membuat konsep untuk membuat surat perjanjian antara PT BSB dengan terdakwa.

“Surat perjanjian, lalu didaftarkan ke notaris Kamilia dan ditanda tangani oleh pihak PT BSB dengan terdakwa dihadapan notaris. Setelah didaftarkan, kami melakukan pembayaran setiap bulan,” jelasnya.

Mendengar kabar yang tidak sedap dari makelar tanah yakni Kastar, bahwa ia belum diberi uang oleh terdakwa untuk melakukan pembayaran pada petani. Lalu manajemen PT BSB menghentikan secara sepihak pembayaran jual beli tanah pada terdakwa.

“Pada Bulan 10 tahun 2014 kami melanjutkan melakukan pembayaransampai bulan 12. Namun pada januari 2015 ada penarikan berkas dari notaris oleh sang makelar. Total yang dikeluarkan oleh PT BSB sejak tahun 2014 sampai januari 2015 sebanyak Rp 15,3 Miliar,” ucapnya.

Sementara Kastar selaku makelar mengatakan, bahwa ia menerima uang dari yetdakwa sebesar 3,4 Miliar. Uang tersebut sudah saya serahkan pada pihak petani untuk pembelian lahan tanah.

Berbeda dengan saksi yang lain yakni Rodiah selaku makelar mengatakan, awalnya ia menggunakan uang pribadi untuk pembebasan lahan senilai Rp 2,8 Miliar. Sebab, pak haji Mahmud tidak mengeluarkan uang sama sekali.

“Karena 6 bulan tidak dibayar akhirnya, berkas-berkas tanah saya tarik kembali,” kata Rodiah (56), warga Banyuurip Ujungpangkah saat menjadi saksi persidangan hingga pukul 20.30 WIB.

Reporter              : jml

Editor                    : Dr

Publisher              : Redaksi

REKOMENDASI UNTUK ANDA