by

Prospek Wisata Halal

Di Era globalisasi yang semakin meningkat ini tidak sedikit masyarakat yang semakin sadar akan produk-produk halal. Ini adalah salah satu yang memfaktori munculnya segala sesuatu yang berlabel halal. Salah satunya adalah wisata (Halal Tourism). Banyak masyarakat khususnya kaum muslim yang sekarang lebih selektif dalam memilih destinasi wisata, khususnya untuk wisata yang berlabel halal. Sebenernya wisata halal tidak berbeda jauh dengan wisata pada umumnya. Sama-sama memiliki fungsi sebagai tempat untuk menghibur diri. Tetapi meskipun sama, namun wisata halal memiliki konsep tersendiri. Yaitu untuk memudahkan wisatawan muslim, untuk memenuhi kebutuhan rohani menunaikan kewajiban yang dianjurkan dalam agamanya sembari dengan berwisata.

Berdasarkan hasil dari Global Travel Muslim Index (GTMI) 2018. Indonesia menduduki peringkat kedua sesudah Malaysia  dari  130 Negara. Dalam artikel di Harian Jogja edisi 13 April 2019, Indonesia berada pada peringkat pertama sebagai Negara yang memiliki destinasi wisata halal.

Hal ini cukup membanggakan mengingat dari 2015, Indosesia berada diranking enam, pada tahun 2016 berada pada ranking keempat dan terdapat peningkatan di tahun 2017, Indonesia berada pada ranking ketiga. Adapun suatu lembaga yang mengeluarkan kebutuhan dasar wisatawan muslim, meliputi makanan halal (halal food), fasilitas beribadah (prayer facilities), ketersediaan air bersih (water-usage friendly washroom), pelayanan Ramadhan (Ramadhan service), kegiatan halal (halal activity), dan fasilitas layanan rekreasi yang privat (Recreational facilities and servicewith privacy), yaitu CrescentRating.

Ketua umum Asosiasi Tour Leader Muslim Indonesia yang juga Chairman Indonesia Islamic Travel Communication Forum Priyadi Abadi mengakui, selama ini pelaku usaha di bidang wisata muslim lebih banyak bergerak pada layanan Umrah dan Haji. Padahal, potensi untuk membawa wisatawan global ke Indonesia sangat berpeluang besar. Jika sertifikat ramah terhadap wisatawan muslim diupayakan Indonesia, target pemerintah mendapatkan 5 juta wisatawan akan tercapai pada 2019. Namun, Priyadi juga menambahkan , ada sejumlah Negara lain yang justru lebih siap menerima wisatawan Muslim. Negara-negara itu antara lain Taiwan, Italia, dan Jepang.

Saat ini Malaysia adalah Negara terdepan dalam pengembangan pariwisata halal. Pada 2015, total wismannya mencapai 25.721.251 dan wisman muslimnya mencapai 6.185.987 atau sekitar 24%. Sementara itu, Indonesia pada tahun yang sama, 2015, total kedatangan wismannya (wisman dan wisnus) mencapai 10.404.759 dan wisatawan muslimnya mencapai 2.211.934 atau sekitar 21%. Bila dibandingkan dengan Singapura ternyata lebih baik dari Indonesia, di 2015 mencapai 15.231.469 dan wisatawan muslimnya mencapai 3.618.211 atau 24%. Menurut data Badan Pusat Statistik, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada Januari-Februari 2017 mencapai 1,99 juta. Angka ini meningkat 16,91% dibandingkan deengan Januari-Februari 2016

Dari perkembangan wisata halal yang semakin berkembang pesat ini juga mulai diminati oleh Negara-negara non-muslim yang melihat peluang dan potensinya. Sebut saja seperti Negara Thailand yang mayoritas penduduknya beragama non-muslim. Negara ini telah mengembangkan Halal Tourism yaitu dengan memiliki restoran, hotel dan berbagai obyek wisata halal lainnya. Dan juga banyak Negara lain yang juga mengembangkan wisata halal dalam Negaranya.

Kunci yang mendorong pertumbuhan Wisata Halal ini tidak lepas dari pertumbuhan populasi muslim.  Karena tidak sedikit para wisatawan jaman sekarang yang lebih selektif dalam menentukan destinasi wisata yang akan dituju. Dan juga dengan adanya hal ini, akan membuka peluang besar bagi perkembangan industry terkait.

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (2015) dalam laporannya mencatat bahwa terdapat 13 provinsi yang siap untuk menjadi destinasi wisata halal (halal tourism) diantaranya yaitu Aceh, Banten, Sumatera Barat, Riau, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY (Daerah Istimewah Yogyakarta), Jawa Timur, Sulawesi Selatan, NTB dan Bali.

Dalam rangka menunjang perkembangan wisata halal ini, diselenggarakan event bertemakan halal, seperti Halal Expo Indonesia yang kegiatannya diselenggarakan tahunan dengan berbagai produk-produk Halal Food and beverage, busana muslim syariah, Halal Travel and Tourism, Syariah banking dan Islamic Education.

Tetapi untuk konsep wisata halal di Indonesia  belum dapat dijalankan secara mulus, ini dikarenakan banyaknya berbagai suku, ras dan agama yang ada di Indonesia. Sebagai contoh pulau Bali yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu, dengan berbagai budaya dan tradisinya mampu memikat wisatawan mancanegara dari berbagai latar belakang yang kebanyakan bukan berlatar belakang muslim. Berbeda dengan pulau Lombok yang mayoritas masyarakatnya beragama muslim dapat menerapkan konsep wisata halal, walauoun tidak semua wilayahnya menerapkan konsep wisata halal.

Sebaiknya penerapan Wisata Halal di Indonesia dilakukan dengan system zonasi di dalam provinsi itu sendiri. Sehingga dapat memudahkan pengelolaan dan sekaligus juga pemasarannya. Hal ini dilakukan karena mengingat keberagaman Ras, Suku dan Agama, agar antar wisatawan tidak saling terganggu. Keseriusan Kementerian Pariwisata dalam menangani Wisata Halal ini ditunjukn dengan diluncurkannya Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2019 pada 8 April 2019 di Gedung Sapta Pesona Jakarta, yang mengacu pada GTMI.

Adapun tantangan-tantangan dalam perkembangan wisata halal ini terutama dalam hala pemasaran. Adanya perbedaan antara tuntutan wisatawan non-muslim san wisatawan muslim. Bagaimana cara melayani wisatawan non-muslim dan memenuhi kebutuhan mereka tanpa kita harus bertolak belakang dengan konsep wisata halal. Seperti contoh Halal Food, di dalam promosinya mungkin tidak akan menimbulkan efek apa-apa bahkan terkesan tidak penting untuk wisatawan non-muslim tetapi ini sangat menguntungkan bagi wisatawan muslim.

IMG-20190525-WA0027
Kurnia Pertiwi – Mahasiswa Universitas Muhammaddiyah Sidoarjo Prodi Ilmu Komunikasi

REKOMENDASI UNTUK ANDA